Bab 2: Gang, Bayang-Bayang Masa Lalu
Setelah pertemuan itu, gang sempit ini jadi tujuan tetap gue setiap pagi. Gue selalu punya alasan untuk ke pasar, meski kulkas rumah masih penuh. Kadang bawa pulang kantong kosong, kadang cuma belanja receh, dua siung bawang merah, tiga biji cabe rawit. Apapun itu yang penting seakan habis belanja.
Sampai akhirnya nyokap mulai curiga.
“Kenapa tiap hari ke pasar sih?”
Nada suaranya, kayak lagi nge-interogasi.
Gue menarik napas panjang, pura-pura yakin, “Lagi coba disiplin, Ma. Biar lebih mandiri.”
Nyokap cuma diam, tatap gue agak lama, kayak nunggu gue cerita lebih. Tapi akhirnya ga dilanjut lagi.
Bab 3: Klarifikasi
Bab 4: Kesempatan
Beberapa hari gue nggak balik ke gang itu.
Gue perlu waktu buat merapikan benak yang kacau.
Bayangan Ekin pergi tanpa sepatah kata terus muter di kepala. Diamnya dia... entah kenapa, lebih menusuk daripada apa pun.
Gue nggak bisa sepenuhnya nyalahin Elin.
Ekin pun nggak salah.
Yang salah? Ya gue sendiri.
Karena gue nggak pernah menutup masa lalu dengan benar.
Dan sekarang, masa kini gue yang kena getahnya.
Hari Minggu. Jam tiga sore. Matahari cukup nyengat.
Tapi hati gue justru dingin.
Lebih dingin dari es teh yang biasa Ekin pesan.
Gue memaksakan diri balik ke gang itu.
Dan dia ada di sana.
Duduk sendirian di bangku plastik biru, yang kaki bangkunya masih miring seperti biasa.
Gelas es teh setengah meleleh di sampingnya.
Matanya lurus ke jalan, tapi gue tahu... dia sadar gue datang.
Gue melangkah pelan. Duduk di sampingnya.
Ada jeda panjang, ruang kosong di antara kami yang tak terlihat, tapi terasa begitu pekat.
“Masih suka cireng, kan?” gue coba memecah keheningan.
Dia menoleh singkat, matanya sekejap menatap gue lalu kembali ke jalan.
“Masih. Asal nggak keras.”
Gue senyum tipis.
Padahal jantung gue berdentum tak karuan.
Kami diam beberapa saat.
Suara pasar bergema dari kejauhan.
Orang lalu-lalang.
Teriakan pedagang.
Tapi semua itu seperti kejadian di dunia lain, jauh dari kami.
Gue menarik napas dalam-dalam.
Nyari keberanian yang tersisa.
“Gue balik... biar lo nggak salah paham lebih lama.”
Dia tak segera menjawab.
Tangannya terus memutar sedotan.
Ada sesuatu yang dia tahan, sesuatu yang berat.
“Aku nggak ngerti kenapa aku pergi waktu itu,” suaranya pelan, nyaris bergetar.
“Kita kan belum jadi apa-apa. Tapi waktu lihat kalian... Aku merasa cuma bayangan di latar belakang.”
Gue menunduk.
Kata-katanya menusuk.
Dan bener.
Justru karena itu, gue makin merasa bersalah.
“Waktu Elin dateng, gue benar-benar bingung,” gue bicara pelan.
“Gue nggak tahu gimana ngejelasin semuanya ke lo... tanpa bikin lo merasa disudutkan.”
Akhirnya dia menoleh.
Tatapannya menyelam ke mata gue.
Bukan tajam, tapi penuh kejujuran dan kedalaman.“
Aku cuma pengen tahu, Gi.”
“Nih ya... kamu balik ke sini karena kamu peduli? Atau karena kamu nggak siap kehilangan?”
Pertanyaan itu nggak teriak, tapi terasa seperti tamparan keras.
Jujur, gue juga pernah tanya itu ke diri sendiri.
Tapi setelah diam cukup lama, gue tahu jawabannya.“
Gue balik... karena gue ngerasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat gue punya.”
Suara gue kecil, nyaris bisikan.
“Elin itu masa lalu, Kin. Lo bikin gue pengen mulai dari awal... dengan cara yang bener.”
Dia tatap gelas es tehnya, yang esnya mulai mencair.
Diam lama, seperti sedang membaca tanda dari es itu.
Lalu dia ngomong.“Aku nggak butuh janji manis, Gi. Nggak butuh omongan muluk.”
“Aku cuma mau lihat minggu depan... kamu masih dateng atau nggak.”
“Nggak semua orang bisa bertahan. Dan aku capek berharap orang datang buat tinggal... padahal cuma numpang lewat.”
Gue mengangguk pelan.
Tak janji apa-apa.
Tapi dalam hati, ini sudah jadi keputusan.
Bukan buat nebus masa lalu.
Tapi buat nunjukin kalau gue belajar.
Dan kali ini, gue benar-benar akan datang.
Bab 5: Gang Yang Kosong
Hari Sabtu, gue balik ke gang itu lebih cepat dari janji. Jam sebelas siang, udara panas.
Gue duduk di bangku plastik itu, menunggu.
Tapi Ekin nggak ada.
Bangku itu kosong melompong. Nggak ada gelas es teh, apalagi senyum tipisnya. Cuma suara kipas warung yang berdecit sama teriakan anak-anak main sepeda.
Gue nunggu. Lima belas menit, setengah jam, bahkan sampe gue beli tahu bulat cuma biar nggak kelihatan kayak orang bego. Tapi dia nggak dateng juga.
Gue coba chat.
"Kin, gue di gang. Jadi dateng, kan, kayak yang lo bilang?"
Centang dua. Tapi nggak dibalas.
Hati gue kerasa kayak bangku plastik itu: kosong, dingin, dan sedikit retak. Gue kira niat baik doang udah cukup buat beresin semuanya.
Tiga hari berlalu, dan gue balik lagi ke gang itu. Tiga kali, dengan hasil yang sama: kosong. Setiap sore, gue duduk, nunggu, bawa kantong belanja yang isinya cuma alasan buat diri sendiri.
Sampai akhirnya, hari Kamis sore, HP gue berbunyi. Notifikasi IG dari @ekinra.
"Kamu masih sering ke gang itu?"
Jantung gue kayak ditepuk centong nasi. Kaget tapi langsung anget. "Masih. Bangkunya nggak ada yang dudukin, soalnya."
Dia nggak langsung bales. Gue kira bakal digantung lagi. Tapi sejam kemudian, dia menulis:
"Besok sore, kalau kamu nggak sibuk, aku ada di taman deket musala. Bawa satu hal yang kamu anggap paling jujur dari diri kamu."
Gue beneran nggak ngerti maksudnya, tapi gue langsung setuju. Karena ini mungkin kesempatan terakhir gue.
Bab 6: Halaman Kosong
Besoknya, jam lima sore, gue udah duduk di taman kecil deket musala. Tangan gue ngegenggam erat buku sketsa yang udah lama ngumpet di laci, isinya gambar-gambar yang nggak pernah gue tunjukin ke siapa pun.
Lalu dia datang.
Pakai hoodie biru, tote bag digantung di bahu, rambutnya diiket seadanya. Nggak dandan. Tapi justru itu… cantiknya malah lebih nyentuh. Bukan cantik yang minta dilihat, tapi cantik yang bikin lo pengen berhenti dan ngelihat lebih lama.
Dia duduk di samping gue. Nggak mepet, tapi cukup deket buat bikin jantung gue deg-degan nggak jelas.
"Kamu bawa?" tanyanya.
Gue cuma angguk, terus ngasih buku sketsa itu ke dia.
Ekin ngelihatnya sebentar, agak ragu. Lalu dia buka. Halaman pertama... kedua... ketiga... dan makin lama dia buka, makin lama juga dia diem.
Ekspresinya berubah. Awalnya datar. Lalu pelan-pelan matanya kayak bingung,, nggak percaya.
"...ini... semua aku?" suaranya pelan. Hampir kayak dia ngomong ke dirinya sendiri.
Gue angguk lagi. “Gue nggak pernah nunjukin ke siapa-siapa. Tapi tiap ketemu lo... rasanya selalu ingin melukis setiap momen bareng lo.”
Dia berhenti di satu halaman yang kosong. Di atasnya cuma ada tulisan kecil:
"Halaman yang belum selesai."
Ekin masih ngelihatin halaman itu lama. Tangan kirinya nahan sudut buku, tangan kanan mainin tali tote bag kayak anak kecil yang gugup.
"Ini maksudnya?"
Gue tarik napas. “Itu kita. Gue nggak tahu ini bakal jadi apa. Tapi gue pengen halamannya tetap ada... biar kita isi bareng.”
Dia diem. Lama. Suara angin kayak ikut nunggu jawaban.
Akhirnya dia nyengir sedikit, tapi senyumnya bukan senyum santai. Ada getir tipis yang ngendap.
"Tapi kamu sadar, kan? Halaman bisa sobek. Bisa kusut. Bisa hilang."
Gue angguk. “Gue tahu. Tapi kalau itu kejadian, gue bakal gambar ulang. Berkali-kali kalau perlu. Karena sekarang... gue punya alasan buat nyelesainnya.”
Dia ngeliatin gue. Lama. Matanya nggak sejernih biasanya, kayak ada yang dia tahan. Tapi akhirnya, dia senyum. Lebih hangat.
“Janji ya... kalau gambarnya jelek, aku boleh kritik pedes.”
Gue ketawa kecil, “Deal. Tapi jangan coret pake spidol juga, ya.”
Dan sore itu, tanpa embel-embel status, tanpa kata-kata resmi, kita mulai sesuatu.
Nggak dari nol. Tapi dari halaman kosong yang akhirnya siap buat diisi.
Bareng.

Social Plugin