Ticker

6/recent/ticker-posts

Ekin, Gang Sempit Favorit

 


Bab 1: Kantong Plastik Dan Sketsa

Alarm udah gue snooze berkali-kali, dan gue kira itu bakal jadi ujian paling berat pagi ini. Ternyata salah sih. Beberapa menit kemudian, ujian sebenarnya datang dari ketukan pintu kamar yang disusul suara nyokap.

​"Bangun, Gi. Temenin ibu ke pasar. Sekalian bantu bawain belanjaan," panggil nyokap dari balik pintu.

​Gue masih berusaha mempertahankan hak tidur beberapa menit lagi. Sayangnya, hak itu langsung dicabut begitu nada suara nyokap mendadak berubah lebih tegas.

​"Anak ini ya, bantuin ibu dulu. Jangan tidur terus!"

​Begitu kalimat itu keluar, gue tahu negosiasi resmi selesai.

​Sesampainya di pasar, kesadaran gue baru balik separuh. Gue jalan agak sempoyongan menyesuaikan diri sama ramainya suasana, sampai tiba-tiba nyokap nyodorin seekor ikan kakap merah ke tangan gue. Ukurannya lumayan gede, mungkin kalau dieksekusi bisa buat makan orang sekampung.

​"Pegang dulu ya. Ibu mau ambil belanjaan yang lain," kata nyokap santai.

​Mau nggak mau gue cuma bisa pasrah menatap ikan dingin berlendir di tangan gue ini.

​Nyokap mulai sibuk tawar-menawar sama penjual. Entah kenapa, tiap kali nyokap belanja ke pasar, urusan potong harga dua ribu perak aja selalu terasa kayak negosiasi persengketaan wilayah antarnegara. Tegang banget. Gue yang dari tadi cuma berdiri konyol sambil meluk ikan akhirnya milih buat geser dikit dari keramaian.

​Gue jalan masuk ke gang sempit di samping pasar. Jalannya agak becek, penuh orang lalu-lalang bawa kantong plastik. Udara pagi juga makin terasa gerah. Dari satu sisi kecium aroma asap sate Madura yang gurih, tapi sedetik kemudian bau bensin eceran ikut menyengat tiap kali ada motor yang lewat.

​Lagi asyik memperhatikan sekitar, pandangan gue mendadak tertahan di seorang cewek yang lagi milih barang di salah satu lapak. Rambutnya panjang terurai, terus ada beberapa gelang rajut warna-warni melingkar di pergelangan tangannya. Penampilannya tergolong sederhana. Dia berdiri sambil memperhatikan barang di depannya, sesekali nanya sesuatu ke pedagang sebelum akhirnya balik milih-milih lagi.

​Anehnya, bentuk wajah cewek itu terasa familier banget. Gue berusaha mengingat-ingat muka dia sambil terus memperhatikan dari jarak aman.

​"Ini cewek pernah ketemu di mana ya? Kayak kenal tapi lupa," gumam gue pelan.

​Tiba-tiba terbesit ide konyol buat merekam wajahnya. Sebenarnya bisa aja sih gue pakai kamera HP. Cuma ya mengarahkan lensa kamera ke cewek asing di tengah pasar ramai begini jelas nyari masalah. Kalau dia sadar atau orang sekitar melihat, gue bisa dikira stalker mesum yang hobi ngambil foto diem-diem. Terus diamuk massa. Lagipula pasar lagi padat orang lalu-lalang, hasil fotonya paling cuma blur nggak jelas.

​Daripada cuma berdiri bego nungguin nyokap berdebat soal harga cabai, tangan gue refleks merogoh saku celana. Gue mengeluarkan buku sketsa kecil sama pensil yang memang selalu standby di sana. Dua benda ini selalu setia gue bawa ke mana-mana cuma buat menyalurkan hobi menggambar gue. Tapi kali ini, ini cara paling aman buat merekam bentuk wajah cewek itu tanpa perlu bikin heboh seisi pasar.

​Dia masih sibuk di lapak yang sama. Sesekali posisinya bergeser waktu ngambil barang atau ngobrol sama penjualnya. Gerakannya cukup buat memberikan gue gambaran detail bentuk wajahnya. Tangan gue mulai menggoreskan pensil pelan-pelan di atas kertas, sesekali mendongak sebentar buat memastikan proporsinya udah pas.

​Beberapa menit berlalu, cewek itu kelihatan selesai belanja. Dia menyerahkan uang, memasukkan barang ke tas, terus siap-siap jalan. Gue langsung mempercepat gerakan tangan sebelum dia benar-benar hilang di telan kerumunan.

​"Dikit lagi, tahan dulu dong," bisik gue ke diri sendiri sambil makin menunduk fokus ke kertas.

​Langkah kakinya mulai menjauh. Gue masih sempat melirik dari sela-sela orang yang lalu-lalang, sementara jari gue sibuk menyelesaikan goresan terakhir di bagian rambut. Begitu figurnya benar-benar menghilang di balik keramaian pasar, gue menarik napas panjang dan berhenti.

​Gue masih belum ingat siapa dia sebenarnya. Tapi semakin gue memandangi coretan wajah yang baru aja gue bikin di buku sketsa ini, makin kuat rasa penasaran di kepala gue kalau kita memang pernah ketemu sebelumnya.
___

Selesai berurusan sama dinamika pasar yang menguras emosi, gue dan nyokap keluar membawa dua kantong plastik merah berisi ikan, tahu, sama sayuran.

​Nyokap udah jalan beberapa langkah di depan. Dari tadi mulutnya nggak berhenti ngomongin menu makan siang, seolah perjalanan pulang ini adalah tempat paling ideal buat menggelar rapat pleno ketahanan pangan keluarga.

​"Gi, nanti ibu mau tumis kangkung ya. Ikannya dibakar aja. Nanti pas sampai rumah langsung bantuin ibu siapin piring sama cuci sayurannya," oceh nyokap tanpa nengok.

​"Iya, Bu, santai dulu. Ini rumah kita aja belum kelihatan puncaknya," sahut gue sambil berusaha mempercepat langkah biar nggak ketinggalan jauh.

​Nyokap masih lanjut merincikan bumbu dapur yang harus disiapin secara mendetail. Gue mulai tertinggal lagi. Pegal di pundak makin menjadi-jadi, bertumpuk sama sisa rasa kantuk yang mendadak muncul lagi.

​Pas nyampe di ujung gang, mata gue menangkap pemandangan yang familier di pinggir jalan.

​Langkah kaki gue refleks memelan.

​Beberapa meter di depan, kelihatan cewek yang tadi sempat gue gambar di pasar.

​Dia lagi duduk santai di bangku plastik biru yang warnanya udah pudar merana, persis di depan warung kelontong kecil. Rolling door warungnya baru dibuka separuh. Tangannya sibuk megang ponsel, sementara kepalanya menunduk ngikutin arah layar.

​Rambut panjangnya jatuh ke sisi kiri wajah sampai menutupi sebagian pipi. Dari sudut berdiri gue sekarang, yang kelihatan cuma ujung hidung sama bibirnya yang agak manyun.

​Gue sempat melirik ke arah jalanan di depan.

​Nyokap udah lumayan jauh melenggang. Masih bisa dikejar sih kalau gue lari. Tapi ya masalahnya, rasa penasaran di kepala gue mendadak menang telak.

​Gue masih ingat jelas bentuk wajah cewek itu dari coretan pensil gue tadi. Daripada kepikiran terus sampai rumah dan berakhir jadi beban pikiran pas makan siang, gue memilih berbelok mendekati warung itu.

​Dua meter.

​Satu meter.

​Kantong plastik di tangan gue berkersek berisik tiap kali bergesekan sama celana.

​Gue berhenti tepat di depan bangkunya, lalu berdeham pelan buat memecah keheningan.

​Cewek itu mendongak. Raut mukanya kelihatan bingung pas melihat gue berdiri memegang kantong belanjaan.

​"Ehm... Vina, ya?" tebak gue, mencoba memastikan ingatan.

​"Bukan," jawabnya singkat sambil menatap gue aneh.

​Gue masih memperhatikan mukanya, mencoba memutar otak buat memanggil nama yang benar. Beberapa detik berlalu, satu nama mendadak muncul di kepala.

​"Ekin?"

​Kali ini dia diam sebentar. Matanya berpindah dari wajah gue turun ke dua kantong belanjaan pasar yang gue pegang, lalu naik lagi ke atas.

​"Dan kamu Agi, kan?"

​Gue malah ketawa bego gara-gara kaget. "Iya. Lah? kok kamu tahu?"

​"Kita kan pernah mutualan di Instagram. Dulu juga lumayan sering ngobrol di DM," jawabnya santai.

​Baru saat itu semua titik di otak gue menyambung jadi satu. Memori lama langsung terbuka.

​"Oh iya!" Gue terkekeh pelan. "Ekin yang dulu hobi banget ngirim meme receh itu kan?"

​"Iya, siapa lagi coba?" sahutnya sambil tersenyum tipis.

​Gue ikut ketawa. Agak aneh aja rasanya. Selama ini Ekin cuma sebatas nama sama foto profil piksel rendah di layar HP. Sekarang bentuk aslinya malah di depan gue.

​"Kamu lagi nungguin siapa di sini?" tanya gue sambil melirik sekeliling.

​"Nungguin temen. Katanya sih udah dekat, tapi kata 'sebentar' versi dia itu biasanya punya standar waktu sendiri."

​Gue terkekeh mendengar alasan khas anak muda itu. "Berarti dari tadi belum kelihatan hilalnya?"

​"Belum sama sekali. Kalau aku nekat pulang sekarang, takutnya pas nyampe rumah dia malah ngabarin udah di sini. Kan mager."

​"Iya sih, paham banget gue rasanya." Gue mengangguk setuju. "Tapi kamu emang sering nongkrong di sekitaran gang sini?"

​"Lumayan sering sih. Rumah tante aku kan deket sini. Kalau lagi mampir ke tempat tante, biasanya aku kabur sebentar terus duduk di warung ini."

​Obrolan kecil itu ternyata langsung mengalir. Nggak ada kecanggungan yang biasanya muncul ketika dua orang yang selama ini cuma kenal lewat internet akhirnya ketemu langsung.

​"Aku tuh sekarang kalau buka Instagram kadang suka pusing sendiri," celeduk gue. "Dulu kan isinya cuma foto random sama meme. Sekarang baru scroll sebentar udah ada yang unggah makanan, kucing, quotes galau, terus lima menit kemudian tiba-tiba jualan baju."

​Ekin langsung tertawa lepas. "Nah itu! Algoritmanya sekarang kayak orang linglung, nggak punya pendirian banget."

​Gue ikut tertawa. Obrolan model begini memang terasa pas di kepala. Bedanya, dulu kita ngobrol cuma lewat ketikan teks di layar. Sekarang gue benar-benar ngobrol langsung sama orangnya.

​Beberapa menit berlalu, pundak gue mulai terasa pegal gara-gara terus berdiri sambil menjinjing beban belanjaan dapur. Gue melirik sisa ruang di bangku plastik sebelah Ekin.

​"Boleh numpang duduk sebentar nggak? Tangan mau putus nih."

​Ekin bergeser sedikit ke samping. "Duduk aja."

​"Thanks ya."

​Gue mendudukkan diri di ujung bangku, lalu menaruh dua kantong plastik merah itu di dekat kaki. Begitu kedua tangan gue bebas dari beban ikan sama sayuran, rasanya hidup gue langsung membaik lima puluh persen.

Obrolan kita berlanjut makin mengalir. Gue beberapa kali melempar cerita konyol yang menurut gue lumayan lucu, dan Ekin merespons dengan tawa renyah. Entah cerita gue beneran lucu atau dia cuma sekadar kasihan menghargai usaha komedi gue, itu urusan belakangan.

​Pikiran gue sempat melayang membayangkan isi buku sketsa di saku celana.

​Tapi jelas bukan sekarang momen yang tepat buat membukanya. Rasanya bakal aneh banget kalau tiba-tiba gue mengeluarkan buku itu di tengah percakapan cuma gara-gara mendadak impulsif ingin pamer.

​Waktu mendadak berjalan begitu cepat. Setelah beberapa menit larut dalam obrolan, pandangan gue melirik ke arah ujung jalan dan mendadak teringat kenyataan pahit, nyokap tadi udah berjalan jauh banget meninggalkan gue.

​"Eh, aku mesti cabut duluan nih. Nyokap kayaknya udah nyampe rumah terus siap-siap bikin surat pemecatan anak," ujar gue setengah panik.

​Ekin mengangguk paham. "Iya, gih buruan nyusul. Nanti kamu dicariin beneran."

​Gue langsung berdiri lalu memungut lagi dua plastik belanjaan merah yang tadi tergeletak di lantai dekat bangku.

​Ekin melirik bawaan gue. "Hati-hati jalan pulang, tuh ikan jangan sampai lepas."

​Gue mengangkat salah satu kantong plastik agak tinggi. "Tenang, kalau sampai ini ikan tercebur ke got, taruhannya nyawa yang ditaruh di wajan."

​Ekin tertawa mendengar celotehan gue.

​Gue ikut terkekeh sebelum akhirnya melangkah cepat menyusul jejak nyokap.

​Langkah kaki gue kali ini terasa jauh lebih gesit. Pundak sebenarnya masih pegal luar biasa dan dua kantong belanjaan ini makin berat, tapi entah kenapa perjalanan pulang kali ini terasa beda aja.

​Satu nama itu terus muter di pikiran gue.

​Ekin.

​Pagi tadi dia cuma sesosok cewek asing yang mukanya terasa familier sampai bikin gue nekat menggambarnya di tengah kehebohan pasar.

​Sekarang gue udah tahu siapa pemilik wajah itu.

​Dan anehnya, obrolan singkat di depan warung tadi malah bikin gue makin penasaran ingin kenal dia lebih jauh.

Bab 2: Gang, Bayang-Bayang Masa Lalu

Sejak pertemuan pagi itu, gang sempit di samping pasar mendadak berubah jadi destinasi wajib yang hampir selalu gue datangi tiap hari.

​Pernah suatu pagi gue nekat berangkat cuma membawa kantong plastik kosong melompong supaya kelihatan kayak habis belanja beneran. Strateginya tergolong sederhana. Yang penting ada plastik merah menyala di tangan. Soal isinya apa, itu urusan belakangan.

​Sampai akhirnya nyokap mulai memergoki ada yang nggak beres sama kelakuan anaknya.

​Suatu pagi pas gue baru mau melipir keluar rumah, teguran nyokap terdengar memotong langkah dari arah ruang tengah.

​"Gi, kamu kenapa sih belakangan ini rajin banget ke pasar tiap pagi? Sebenarnya kamu belanja apaan?"

​Intonasi bicaranya udah persis kayak intel yang lagi menginterogasi tersangka kasus penipuan beras sintetis.

​Gue menahan langkah sebentar, lalu memutar badan sambil memasang raut muka seserius mungkin. "Saya lagi belajar membangun kedisiplinan, Bu. Ingin mencoba hidup mandiri aja. Sekalian meringankan beban Ibu."

​Nyokap langsung bungkam.

​Tatapannya bertahan beberapa detik meneliti muka gue dari ujung rambut sampai kaki. Bukannya terharu, nyokap malah kelihatan kayak baru aja mendengar alasan fiktif yang makin memperkuat insting kecurigaannya.

​"Belajar mandiri?" tanya nyokap singkat.

​"Iya, betul."

​"Tiap hari banget nih?"

​Gue mengangguk mantap.

​Nyokap masih memperhatikan gerak-gerik gue sebelum akhirnya menghela napas. "Ya sudah terserah. Tapi kalau ke pasar cuma buat beli cabai dua biji doang, nggak usah tiap pagi juga kali."

​Gue cuma bisa mengangguk pasrah. Saat itu gue baru menyadari satu hal, ternyata strategi penyamaran gue jauh dari kata rapi.

Pas sore harinya, gue balik lagi ke gang yang sama.

​Ekin hampir selalu ada di situ. Bangku plastik biru dengan cat pudar itu seolah udah diklaim jadi cangkang hak milik dia. Salah satu kakinya bahkan agak goyang kalau diduduki. Misalkan suatu hari ada papan petunjuk kecil bertuliskan "Kavling Ekin" di sandarannya, gue jujur nggak bakal kaget sama sekali.

​Lama-kelamaan, kehadiran gue di situ juga nggak lagi terasa aneh buat dia.

​Kadang gue datang sambil menjinjing dua botol teh kemasan dingin. Kadang gue cuma mendudukkan diri menemani kalau dia lagi nungguin temannya yang hobi ngaret. Obrolan kita pun makin mencair tanpa beban. Nggak selalu bahas topik berat. Kita bisa ngomongin masa-masa sekolah, kelakuan teman, film, musik, sampai kejadian sepele yang sebenarnya nggak ada pengaruhnya sama sekali dalam kelangsungan hidup umat manusia.

​Justru obrolan random model begitu yang bikin gue betah berlama-lama.

​Kalau udah duduk berdua di samping Ekin, durasi waktu rasanya meluncur jauh lebih cepat.

​Suatu sore, hujan mendadak turun lumayan deras. Gue sama Ekin terpaksa merapat berteduh di teras warung sambil memperhatikan air yang mulai menggenang di pinggir jalanan pasar.

​Di tengah suara gemericik air, Ekin tiba-tiba bercerita soal kebiasaan anehnya tiap kali mendung berubah jadi hujan.

​​"Aku kalau hujan suka nyanyi sendiri," katanya pelan sambil menatap jalanan yang makin basah. "Nggak tahu kenapa. Suasananya kayak lebih enak aja buat nyanyi."

​Gue terkekeh pelan mendengar pengakuannya. "Beneran? Biasanya lagu apaan yang mendadak melintas di kepala?"

​"Macam-macam. Tergantung lagi pengin nyanyi lagu apa."

​Gue sendiri bingung kenapa cerita sesederhana itu bisa bikin gue senyum-senyum sendiri. Mungkin gara-gara makin sering ketemu, gue mendadak hafal sama kebiasaan-kebiasaan kecilnya. Mulai dari cara dia tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan, gaya dia merespons candaan gue, sampai kebiasaannya memainkan gelang rajut di pergelangan tangan kalau lagi mikir.


Hujan mulai mereda dan sisa cahaya matahari di langit mulai memantul di genangan air jalanan depan. Ekin baru aja selesai bercerita, dan gue baru mau membuka mulut buat menanggapi pas dari ujung gang kelihatan sesosok cewek berjalan mendekat.

​Awalnya gue nggak terlalu pusing memperhatikan.

​Jaraknya masih lumayan jauh. Yang kelihatan cuma siluet orang yang berjalan santai menuju warung sambil melompati genangan air di gang.

​Tapi makin dekat langkah kakinya, bentuk wajahnya mulai makin jelas.

​Kata-kata yang udah bersiap keluar dari tenggorokan gue mendadak mampet gitu aja.

​Gue menatap mukanya selama beberapa detik tanpa kedip.

​Elin.

​Dia terus berjalan lurus ke arah tempat kita berdua berteduh.

​Entah kenapa, kehadiran Elin mendadak mengubah suhu udara di sekitar yang beberapa detik sebelumnya masih terasa hangat dan santai.

​Dan melihat caranya terus melangkah mendekat, insting gue mulai membisikkan satu hal, sore ini bakal berjalan jauh lebih panjang dan menguras emosi dari yang gue duga.

​Elin ini cewek SMA yang dulu sempat dekat banget sama gue. Hubungan kita waktu itu nggak pernah benar-benar punya kejelasan status. Dibilang dekat ya jelas dekat, dibilang jadian juga kagak. Kita saling perhatian, saban hari ngobrol, tapi nggak ada satu pun yang punya keberanian buat menembak duluan.

​Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, mungkin emang gue yang terlalu pengecut dan keras kepala. Atau bisa jadi Elin yang kebanyakan drama dan pertimbangan. Bisa juga kita berdua cuma sama-sama sibuk nunggu siapa yang mau menurunkan gengsi duluan.

​Yang jelas, hubungan tanpa status itu menguap gitu aja tanpa pernah ada kata putus.

​Dan sore ini, sosok yang harusnya udah tersimpan rapi di laci masa lalu malah mendadak berdiri tegak di hadapan gue.

​"Gi," panggil Elin pelan, suaranya halus tapi sanggup bikin jantung gue lompat. "Kamu kenapa sih belakangan ini nggak pernah bales pesan aku sama sekali?"

​Mampus gue.

​Dari sekian banyak sudut di kota ini, kenapa dia harus muncul di gang pasar ini? Dan dari sekian banyak populasi manusia yang ada, kenapa harus ada Ekin yang duduk tepat di sebelah gue?

​Gue mendadak kena amnesia cara berbicara. Tangan gue malah sibuk meremas kantong plastik berisi cireng yang dari tadi gue pegang sampai bunyinya kriuk-kriuk berisik. Plastik itu kelihatan jauh lebih panik ketimbang raut muka gue.

​Gue baru bisa menguasai lidah setelah jeda beberapa detik yang menyiksa.

​"Elin... aku kira hubungan kita emang udah selesai. Maksud aku, aku pikir setelah kejadian waktu itu kita berdua udah sama-sama paham kalau semuanya udah lewat."

​Elin diam sebentar sebelum akhirnya mengukir senyum tipis yang terkesan dipaksakan.

​"Nggak apa-apa kok. Aku cuma mikir kamu mungkin lagi butuh waktu sendiri aja. Makanya aku masih coba buat ngehubungin kamu."

​Tatapannya tenang, tapi bobot kalimatnya lumayan sukses bikin dada gue serasa dihantam beban berat.

​Gue belum sempat merangkai balasan pas sadar kalau Ekin di sebelah gue udah nggak ada suara tawanya lagi.

​Sejak Elin mendadak nongol, Ekin lebih banyak bungkam. Matanya beberapa kali bergantian menatap gue sama Elin. Nggak ada raut marah yang meledak-ledak, tapi atmosfer di antara kita berdua udah terlanjur berubah drastis.

​"Ekin..." panggil gue ragu.

​Dia nggak langsung menengok. Baru selang beberapa detik kemudian, dia membuka suara. "Aku pulang duluan ya."

​Gue refleks memutar badan. "Loh, kok mendadak pulang? Kita kan masih mau ngobrol."

​"Udah makin sore juga."

​"Aku temenin sampai ujung jalan depan deh."

​Ekin langsung menggeleng pelan. "Nggak usah, aku bisa jalan sendiri kok."

​Dia meriah tas kecil yang tergeletak di samping bangku. Nggak ada nada galak atau ketus dari omongannya. Justru respons tenangnya itu yang bikin perasaan gue makin nggak karuan.

​Gue ingin banget menahan tangannya biar nggak pergi, tapi kepala gue sendiri bingung harus merangkai kalimat apa.

​Pada akhirnya gue cuma bisa melihat Ekin melangkah meninggalkan teras warung. Gerakannya tetap tenang, cuma ketukan langkah kakinya sedikit lebih cepat dari biasanya.

​Gue menatap punggungnya yang makin menjauh sebentar sebelum memutar pandangan balik ke Elin.

​"Elin..."

​Elin kelihatan makin serba salah. Kelihatannya dia juga baru sadar kalau kedatangannya barusan sukses merusak momen.

​"Kayak aku datang di momen yang nggak tepat ya," gumam Elin pelan. "Nanti-nanti aja deh kita ngobrolin lagi."

​"Lin, tunggu dulu. Aku bisa jelasin semuanya."

​"Nggak usah sekarang, Gi."

​Elin kemudian berbalik dan berjalan menuju arah yang berlawanan.

​Gue akhirnya kembali terduduk sendirian di atas bangku plastik biru yang bergoyang.

​Plastik cireng masih tergenggam erat di tangan. Gue memandangi gorengan dingin itu sebentar, lalu menghembuskan napas berat.

​Beberapa menit lalu gue masih bisa tertawa lepas gara-gara membahas anime Haikyuu!! yang sempat disangka anime masak-masakan. Sekarang cireng hangat di tangan gue bahkan udah kehilangan daya tariknya sama sekali.

​Keramaian gang yang biasanya diwarnai deru mesin motor, celoteh warga, sama pedagang yang menjajakan barang dagangan tetap berjalan normal. Orang-orang masih sibuk melintas. Motor sesekali lewat memercikkan sisa air. Hujan juga benar-benar udah berhenti.

​Cuma gue satu-satunya orang di sini yang mendadak linglung nggak tahu harus berbuat apa.

​Gue cuma bisa duduk termenung meratapi kekacauan barusan.

​Masalah utamanya bukan cuma gara-gara Ekin yang memilih walkout gitu aja.

​Gue tahu Elin juga nggak bisa disalahkan sepenuhnya. Dia cuma datang buat mempertanyakan kejelasan hubungan masa lalu yang emang belum pernah gue selesaikan secara dewasa.

​Dan mungkin di situ letak kesalahan terbesar gue.

​Gue sibuk mencoba membuka lembaran baru sama orang lain, sementara urusan lama masih gue biarkan menggantung tanpa kejelasan.

​Bab 3: Klarifikasi

Malam itu, HP gue mendadak bergetar di atas meja.

​Nama Elin terpampang di layar.

​Pesannya tergolong singkat.

​"Gi, kita bisa ketemu sebentar nggak? Aku pengen ngobrol. Cuma mau klarifikasi aja sih. Kalau kamu nggak keberatan ya."

​Gue membaca tulisan itu berulang kali. Jempol gue sempat membeku beberapa saat di atas keyboard. Pikiran gue langsung melayang balik ke kejadian sore tadi pas Ekin mendadak angkat kaki gitu aja.

​Pada akhirnya gue mengetik satu kata singkat.

​"Bisa."

​Ini bukan soal nggak enakan. Gue cuma udah capek membiarkan urusan gue sama Elin menggantung kayak jemuran ditinggal hujan tanpa pernah benar-benar dituntaskan.

​Kita sepakat buat ketemu di warkop langganan yang udah gue kenal dari zaman SMA. Tempatnya hampir nggak ada yang berubah. Bangku kayunya masih kelihatan reyot seolah bakal patah kalau diduduki orang yang kebanyakan dosa. Lampunya tetap remang-remang, bertambah riuh sama deru motor dari jalan raya yang sesekali masuk menyela percakapan para pengunjung.

​Gue sampai lebih awal.

​Gue memilih meja kayu di pojokan, sudut legendaris yang dulu sering kita pakai buat nongkrong sampai sore. Dulu meja ini pernah jadi saksi kita tertawa lepas gara-gara hal konyol nggak penting. Malam ini, gue malah sibuk memutar otak mencari kalimat pembuka yang paling aman.

​Beberapa menit kemudian, Elin melangkah masuk.

​Dia mendudukkan diri tepat di depan gue lalu memesan satu gelas Ovaltine dingin. Pas minumannya datang, tangannya cuma sibuk memutar-mutar sedotan di dalam gelas.

​Gue juga memilih diam.

​Jadilah kita berdua kayak dua orang asing yang sebenarnya punya segudang masalah buat dibahas, tapi malah kompak sibuk mengamati serat kayu meja.

​Akhirnya Elin yang memberanikan diri memecah keheningan.

​"Aku kira selama ini kamu cuma lagi butuh waktu sendiri aja, Gi."

​Gue menarik napas panjang. "Lin, aku mikir hubungan kita emang udah selesai dari kapan tahu. Waktu itu emang nggak ada yang berani ngomong jujur, tapi aku ngerasa semuanya udah berhenti di situ."

​Elin mendongak. Tatapannya masih kelihatan tegas, meskipun ada gelagat lain yang mulai kelihatan dari raut mukanya.

​"Terus kalau sekarang gimana? Kamu udah punya cewek lain?"

​Pertanyaannya lugas. Jawabannya pun sebenarnya nggak begitu rumit.

​"Iya, udah ada."

​Gue tahu jawaban polos itu mungkin bakal menorehkan luka. Tapi gue juga nggak mau terus-terusan memberi harapan palsu yang bikin bingung.

​Elin menundukkan kepala sebentar. Beberapa detik menyiksa berlalu sebelum dia membuka suara lagi.

​"Kenapa dari dulu bukan aku, Gi?"

​Pertanyaan itu sukses bikin gue bungkam cukup lama.

​"Dulu pas zaman sekolah, aku emang beneran suka sama kamu," tutur gue jujur. "Aku pernah berusaha buat makin dekat, sengaja cari-cari alasan biar bisa ngobrol terus. Tapi tiap kali aku ngerasa kamu mulai menarik diri, aku refleks ikut mundur. Lama-lama aku bingung sendiri harus terus maju apa berhenti sekalian."

​Elin mengusap pelan ujung matanya.

​"Aku tuh sebenarnya tahu kalau kamu suka sama aku. Aku bukan cewek yang nggak peka."

​Gue menatap mukanya. "Terus kenapa kamu nggak pernah blak-blakan bilang?"

​"Soalnya aku juga nungguin kamu yang ngomong duluan!" Suaranya mulai agak bergetar. "Aku pikir kalau kamu beneran serius, suatu saat kamu bakal punya keberanian buat jujur. Tapi ternyata kamu malah ikutan nungguin aku."

​Gue tertawa sumbang. Sama sekali nggak ada lucunya.

​"Berarti kita berdua emang sama-sama bego ya."

​Elin mengukir senyum tipis. Matanya kelihatan agak basah.

​"Mungkin aja."

​Gue menunduk sebentar sebelum melanjutkan omongan.

​"Masalah utamanya tuh di situ, Lin. Kita kelamaan saling nunggu tanpa kepastian. Aku sibuk menerka-nerka apa yang kamu mau, dan kamu mungkin juga sibuk nebak jalan pikiranku. Sampai akhirnya nggak ada satu pun dari kita yang beneran berani mengambil langkah pertama."

​Elin cuma bergeming mendengarkan.

​"Sekarang aku ketemu sama orang yang beda," lanjut gue pelan. "Dia hadir gitu aja tanpa bikin aku harus terus-terusan bertanya-tanya. Aku nggak perlu pusing menerka dia nyaman apa nggak denganku. Semuanya terasa jauh lebih jelas."

​Setetes air mata Elin akhirnya jatuh juga. Dia buru-buru menyekanya pakai punggung tangan.

​"Jadi selama ini kita cuma masalah keterlambatan waktu aja ya?"

​Gue nggak langsung merespons.

​Mungkin emang begitu kenyataannya.

​Bukan berarti rasa yang dulu itu cuma fiktif belaka. Justru gara-gara rasa itu pernah ada, tapi kita berdua terlalu sibuk memelihara gengsi dan rasa takut, sampai akhirnya kesempatan emas itu menguap begitu saja.

​"Kayaknya kita emang ketemu di timing yang salah deh," balas gue pelan. "Atau mungkin kita berdua cuma kelamaan takut buat jujur sama perasaan sendiri."

​Elin mengangguk pelan.

​Dia meraih tas kecilnya yang tergeletak di atas meja. Gelas Ovaltine di depannya masih menyisakan bongkahan es yang mulai meleleh. Minumannya bahkan belum tersentuh separuh.

​Sebelum melangkah pergi, Elin berhenti sebentar di samping meja gue dan menatap muka gue beberapa saat.

​"Kalau kamu emang beneran serius sama dia, jaga dia baik-baik ya, Gi."

​Gue mengangguk mantap.

​"Jangan sampai dia ngalamin hal nyesek yang sama kayak aku," lanjutnya pelan. "Jangan pernah bikin dia harus menebak-nebak perasaan kamu sendirian."

​Kalimat itu terdengar sederhana, tapi entah kenapa justru jadi bagian yang paling awet menancap di kepala gue.

​Elin kemudian berbalik dan melangkah keluar dari warkop.

​Gue masih terduduk diam di tempat selama beberapa saat. Pandangan gue tertuju ke gelas Ovaltine dingin di depan meja. Es batunya udah hampir mencair sepenuhnya, menyisakan genangan air di dasar gelas.

​Lucu juga kalau dipikir-pikir.

​Dulu gue sering datang ke warkop ini cuma buat tertawa lepas bareng Elin.

​Malam ini, gue datang ke tempat yang sama khusus buat menutup buku cerita kita berdua.

Bab 4: Kesempatan

Beberapa hari gue sengaja nggak memunculkan batang hidung di gang itu.

​Gue butuh waktu buat merapikan isi kepala yang sejak kejadian sore itu rasanya acak-adut. Tiap kali mengingat momen menyesakkan tersebut, bayangan Ekin yang melangkah pergi tanpa banyak kata selalu muter lagi di ingatan.

​Anehnya, justru keheningan dia yang paling sukses mengganggu pikiran gue.

​Gue nggak bisa sepenuhnya menyalahkan Elin. Dia cuma datang buat mempertanyakan kepastian yang emang selama ini belum pernah gue tuntaskan.

​Ekin juga sama sekali nggak salah.

​Kalau harus menunjuk siapa dalang utama yang paling pantas disalahkan, ya jelas diri gue sendiri.

​Gue yang membiarkan cerita lama menggantung tanpa kejelasan. Gue juga yang kebelet ingin memulai lembaran baru tanpa pernah benar-benar membereskan urusan lama.

​Sekarang dampaknya malah merembet ke orang yang sama sekali nggak ada hubungannya sama masa lalu gue.

​Hari Minggu, sekitar jam tiga sore, akhirnya gue memberanikan diri balik lagi ke gang itu.

​Matahari masih lumayan menyengat. Jalanan pasar ramai seperti biasa, deru mesin kendaraan bersahut-sahutan sama teriakan pedagang yang menjajakan barang dagangan. Semuanya berjalan normal tanpa kendala.

​Cuma isi kepala gue yang kagak.

​Mungkin gara-gara kali ini gue udah tahu pasti siapa orang yang beneran ingin gue temui.

​Dan benar saja, Ekin udah di sana.

​Dia duduk sendirian. Di sampingnya tergeletak segelas es teh manis yang bongkahan esnya udah hampir cair sepenuhnya.

​Ekin duduk menghadap ke arah jalanan. Gue nggak tahu apakah dia beneran lagi mengamati orang-orang yang lewat atau cuma sengaja cari kesibukan biar nggak perlu menatap ke arah gue.

​Gue melangkah mendekat, lalu mendudukkan diri tepat di sebelahnya.

​Dia nggak langsung memutar kepala.

​Selama beberapa detik kita berdua cuma bisa bungkam. Jarak duduk kita sebenarnya nggak nyampe semeter, tapi atmosfernya terasa jauh lebih canggung ketimbang pas pertama kali kita tatap muka.

​Akhirnya gue mencoba mencairkan suasana.

​"Kamu masih suka makan cireng, kan?"

​Ekin menoleh sebentar, matanya menatap gue datar. "Masih. Tapi aku nggak mau yang teksturnya alot. Gigi aku bukan tang pemotong kawat."

​Gue terkekeh pelan.

​Setidaknya dia masih mau merespons pakai candaan.

​Habis itu kita kembali terdiam. Dari arah pasar, sautan pedagang menawarkan dagangan masih terdengar riuh. Motor sesekali melintas membelah gang. Beberapa warga saling menyapa santai.

​Semuanya terasa wajar.

​Cuma dinamika gue sama Ekin yang rasanya belum sepenuhnya pulih kayak dulu.

​Gue menarik napas panjang. Kalau terus-terusan nunggu momen yang pas, mungkin sampai ini pasar digusur pun gue nggak bakal memberanikan diri buat bicara.

​"Aku balik ke sini soalnya aku nggak mau kamu terus-terusan salah paham," ucap gue akhirnya.

​Ekin masih sibuk memutar-mutar sedotan di dalam gelas es tehnya.

​Selang beberapa saat, dia baru membuka suara. "Aku sebenarnya masih bingung kenapa waktu itu aku refleks pergi gitu aja."

​Gue membiarkannya menyambung kalimat.

​"Kita kan emang belum ada status apa-apa ya," lanjutnya pelan. "Tapi pas aku melihat kamu berdiri berdua sama Elin, rasanya aku cuma kayak cewek asing yang kebetulan lagi numpang duduk di situ. Kayak aku tuh nggak punya tempat di antara kalian berdua."

​Gue menundukkan kepala sebentar.

​Kalimat itu sama sekali nggak terdengar kayak nada tuduhan. Justru gara-gara diucapkan dengan tenang, gue jadi makin mati langkah buat membantahnya.

​"Pas Elin mendadak datang, aku emang beneran panik," tutur gue jujur. "Aku bingung harus ngomong apa ke kamu. Aku takut kalau langsung sibuk menjelaskan semuanya detik itu juga, omongan aku malah kedengaran kayak alasan fiktif."

​Ekin akhirnya memutar badan menatap muka gue. Tatapannya sama sekali nggak memancarkan emosi marah. Dia cuma ingin mendengar kepastian yang transparan.

​"Aku cuma mau tahu satu hal aja sih, Gi."

​Gue membalas tatapannya.

​"Kamu balik ke sini karena kamu memang beneran peduli sama aku, atau cuma gara-gara kamu baru sadar kalau kamu nggak mau kehilangan aku?"

​Pertanyaan telak itu sukses bikin gue bungkam seketika.

​Selama beberapa hari belakangan, gue juga sempat mempertanyakan hal yang persis sama ke diri sendiri.

​Gue bisa aja langsung melontarkan jawaban manis biar atmosfernya nggak makin tegang. Tapi kali ini gue menolak mengulang pola lama. Gue nggak mau mengobral kata-kata cuma gara-gara kalimat itu kedengaran paling aman di telinga.

​Setelah terdiam sejenak, gue akhirnya menjawab. "Aku balik karena aku ngerasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat aku miliki."

​Ekin nggak langsung membalas.

​"Elin itu emang bagian dari masa lalu aku, Kin. Urusan sama dia emang belum pernah aku bereskan secara tuntas. Aku yang salah karena secara nggak sadar membawa dampak masalah itu sampai ke sini." Gue berhenti sebentar buat mengambil napas. "Tapi setelah aku renungkan baik-baik, aku sadar kalau yang aku cari sekarang bukan masa lalu. Aku pengin kenal sama kamu lebih jauh, tanpa perlu bikin kamu menebak-nebak posisi kamu lagi."

​Pandangan Ekin turun memandangi gelas es teh di tangannya. Bongkahan es di dalamnya udah mencair total, menyisakan cairan teh yang makin bening.

​Dia bergeming cukup lama sebelum akhirnya angkat bicara. "Aku nggak butuh janji manis yang ketinggian, Gi. Aku juga nggak butuh kamu ngomong seolah-olah semuanya bakal langsung beres detik ini juga."

​Gue mengangguk paham.

​"Aku cuma mau membuktikan satu hal aja," lanjutnya. "Minggu depan kamu masih mau datang ke sini lagi apa nggak."

​Gue mengukir senyum tipis. "Cuma itu doang?"

​"Iya, itu aja."

​Kali ini gue memilih nggak menjawab pakai obral janji.

​Gue juga nggak perlu sesumbar bilang kalau gue pasti bakal selalu standby di situ tiap minggu.

​Rasanya emang nggak perlu diobral lewat kata-kata.

​Kalau gue beneran serius, Ekin nggak butuh mendengar pamer janji dari mulut gue. Dia cuma perlu melihat pembuktiannya secara langsung.

​Kali ini gue merasa tindakan nyata jauh lebih berguna ketimbang kebanyakan omong.

​Gue akhirnya cuma duduk santai di samping Ekin, membiarkan obrolan kita pelan-pelan kembali mencair kayak biasanya. Nggak ada lagi pembahasan soal drama kemarin. Nggak ada juga usaha defensif buat menjelaskan hal yang rasanya udah nggak perlu diperpanjang.

​Aneh memang, tapi justru momen hening itu yang bikin beban di dada gue mendadak terangkat.

​Untuk pertama kalinya sejak kekacauan sore itu, gue bisa mendudukkan diri di tempat yang sama tanpa perlu pusing memikirkan hrs ngomong apa.

​Gue sadar, gue balik ke gang ini bukan buat sibuk merekonstruksi masa lalu.

​Gue datang karena gue ingin memberi ruang buat sesuatu yang baru.

​Sisanya, biar perjalanan waktu yang membuktikan apakah gue beneran udah belajar jadi lebih dewasa, atau ternyata gue cuma makin jago merangkai alasan.

Bab 5: Gang yang Sepi

Hari Sabtu, gue balik ke gang itu jauh lebih cepat dari perkiraan. Baru jam sebelas siang, tapi sengatan matahari udah lumayan bikin gerah.

​Gue mendudukkan diri di bangku plastik biru yang selama ini jadi spot favorit kita ngobrol. Kali ini gue datang membawa satu keyakinan sederhana, Ekin pasti muncul.

​Ternyata bangku itu tetap kosong melompong.

​Nggak ada Ekin. Nggak ada gelas es teh di sampingnya. Nggak ada suara tawanya yang renyah. Yang terdengar cuma decitan kipas angin warung yang berputar kepanasan, plus teriakan anak-anak kecil yang lagi balapan sepeda di ujung gang.

​Awalnya gue masih bisa santai.

​Mungkin dia cuma telat sebentar.

​Lima belas menit berlalu tanpa kejelasan.

​Lalu bertambah jadi setengah jam.

​Gue mulai merasa canggung duduk sendirian di bangku itu. Akhirnya gue memutuskan beli tahu bulat dari pedagang yang kebetulan melintas. Bukan karena kebelet lapar sih. Gue cuma butuh pengalihan isu biar nggak kelihatan merana banget duduk nungguin orang.

​Satu kantong tahu bulat sukses berpindah ke perut.

​Ekin tetap nggak memunculkan batang hidungnya.

​Gue merogoh HP lalu mencoba mengetik pesan singkat.

​"Kin, aku udah di gang nih. Kamu jadi datang kan? Kemarin katanya aku tinggal membuktikan."

​Statusnya langsung terkirim dan terbaca.

​Tapi sama sekali nggak ada balasan.

​Gue masih bertahan menunggu beberapa menit sebelum akhirnya memasukkan HP kembali ke saku celana.

​Bangku plastik yang biasanya terasa biasa aja mendadak kelihatan agak mengenaskan. Kosong, sedikit retak di ujungnya, dan anehnya tetap gue duduki biarpun orang yang ditunggu nggak kelihatan hilalnya.

​Saat itu gue sempat membatin, mungkin niat baik emang nggak selalu berbanding lurus sama hasil.

​Tiga hari berikutnya gue masih konsisten balik ke tempat itu.

​Bukan karena Ekin pernah menyuruh gue standby tiap hari. Gue cuma memelihara harapan siapa tahu suatu sore dia mendadak muncul.

​Hari pertama, nihil.

​Hari kedua, setali tiga uang.

​Hari ketiga, gue bahkan mulai merasa kayak patung selamat datang yang nggak pernah memesan apa-apa. Tiap kali datang, gue sengaja membawa kantong belanjaan berpotongan seadanya. Setidaknya gue punya alasan fiktif kalau ada warga lokal yang curiga kenapa gue betah nongkrong di situ.

​Sampai akhirnya Kamis sore, pas gue udah hampir menyerah dan mau angkat kaki, HP gue mendadak bergetar.

​Satu notifikasi masuk dari akun Instagram @ekinra.

​Gue refleks membuka aplikasinya.

​Pesannya cuma terdiri dari satu kalimat pendek.

​"Kamu masih sering ke gang itu?"

​Gue menatap layar dan membaca kalimat itu dua kali sebelum membalas.

​"Masih kok. Bangkunya juga masih kosong, jadi aku pikir sekalian nemenin."

​Begitu terkirim, gue baru sadar balasan barusan bisa terdengar terlalu melucu atau malah terlampau jujur.

​Ekin nggak langsung merespons.

​Sepuluh menit berlalu.

​Dua puluh menit.

​Setengah jam.

​Gue mulai skeptis bakal kena ghosting lagi.

​Satu jam kemudian, notifikasi baru akhirnya muncul di layar.

​"Besok sore, kalau kamu nggak sibuk, ketemu aku di taman dekat musala ya. Ada sesuatu yang mau aku omongin."

​Gue tanpa pikir panjang langsung membalas, "Oke, aku pasti datang."

​Beberapa detik kemudian, satu balasan susulan masuk.

​"Dan bawa satu hal yang menurut kamu paling jujur dari diri kamu."

​Gue memandangi kalimat itu lumayan lama.

​Maksudnya "paling jujur" itu apaan coba?

​Gue bahkan sempat melamun menatap meja warung sambil memutar otak menerka arah pikirannya. Tapi makin dicerna, makin nggak ketemu jawaban yang logis.

​Pada akhirnya gue cuma membalas seadanya, "Oke, aku usahain ya."

​Gue nggak paham apa persisnya yang ada di kepala Ekin.

​Tapi ada satu hal yang gue tahu pasti.

​Besok mungkin bakal jadi kesempatan pamungkas buat gue membuktikan kalau kehadiran gue selama ini bukan cuma formalitas belaka.

​Dan kali ini, gue menolak datang cuma mengandalkan obral kata-kata.

Bab 6: Halaman Kosong

Besoknya, sekitar jam lima sore, gue udah mendudukkan diri di bangku semen taman kecil dekat musala. Tempatnya tergolong sederhana. Cuma ada beberapa tempat duduk beton, pohon yang lumayan rindang, dengan lamat-lamat suara anak-anak kecil yang lagi main di pelataran rumah warga.

​Di pangkuan gue tergeletak sebuah buku sketsa yang udah lama tersimpan rapi di laci kamar. Sampulnya polos, tipis, tapi bebannya berasa lumayan berat buat dibawa sore ini.

​Beberapa menit berlalu, pandangan gue menangkap sosok Ekin berjalan dari ujung gang.

​Dia tampil dibalut hoodie biru kasual dengan tote bag mencangklong di bahunya. Rambut panjangnya cuma diikat seadanya. Penampilannya beneran simpel tanpa polesan berlebihan, tapi tetap aja fokus mata gue tertahan lebih lama dari durasi normal.

​Dia mendudukkan diri di sebelah gue, menyisakan jarak yang masih terbilang sopan.

​"Kamu bawa hal yang aku minta?" tanyanya tanpa basa-basi setelah jeda beberapa detik.

​Gue memungut buku sketsa yang dari tadi gue pegang lalu mengulurkannya pelan.

​"Bawa kok. Tapi jujur aku nggak tahu ini beneran sesuai sama ekspektasi kamu apa nggak."

​Ekin menerima buku itu. Dia memandangi sampul polosnya sebentar sebelum memberanikan diri membukanya perlahan.

​Halaman pertama.

​Lalu halaman kedua.

​Lanjut ke lembaran-lembaran berikutnya.

​Makin jauh jemarinya membalik kertas, makin lama tempo dia berhenti di tiap lembaran.

​Jantung gue mulai berdegup nggak karuan. Gue mendadak panik sendiri memikirkan garis-garis pensil yang sekarang lagi dipandangi Ekin. Di dalam buku itu terpampang raut muka dia dalam berbagai situasi. Ada momen pas dia lagi tertawa lepas, pas tangannya sibuk memainkan gelang rajut, pas dia nongkrong di depan warung, sampai beberapa coretan yang gue sendiri udah lupa kapan persisnya dibuat.

​Ekin mendadak menghentikan jemarinya di salah satu lembaran.

​"Ini... semuanya beneran gambar aku?"

​Intonasi suaranya memelan. Kedengarannya kayak orang yang lagi berusaha meyakinkan penglihatannya sendiri.

​Gue mengangguk pelan. "Iya. Aku nggak pernah memperlihatkan ini ke siapa pun sebelumnya."

​Dia kembali mengamati goresan pensil di atas kertas itu.

​"Kenapa?"

​Gue terdiam sejenak memutar otak merangkai kata-kata yang pas.

​"Awalnya aku cuma menyalurkan hobi menggambar. Tapi sejak makin sering ketemu kamu, entah kenapa aku jadi punya alasan kuat buat lebih rajin membuka buku ini."

​Ekin mengukir senyum tipis. Dia memilih nggak langsung merespons dan kembali membalik lembaran kertas.

​Sampai akhirnya gerakannya terhenti di sebuah halaman yang hampir polos.

​Cuma ada satu baris kalimat kecil di sudut bawahnya.

​Lembaran itu emang sengaja belum gue sentuh pakai pensil.

​Ekin membaca tulisan pendek itu beberapa kali sebelum akhirnya menoleh. "Ini maksudnya tulisan apa?"

​Gue menarik napas dalam-dalam.

​"Aku nggak tahu hubungan kita ke depannya bakal berlabuh jadi apa," tutur gue jujur. "Aku juga ogah sok tahu atau mengobral janji manis yang belum tentu sanggup aku tepati. Tapi aku pengin halaman kosong ini tetap ada di sini. Kalau kamu berkenan, kita bisa melengkapinya pelan-pelan."

​Ekin kembali menatap kertas polos tersebut.

​Selama beberapa saat dia cuma bergeming tanpa bersuara.

​Hembusan angin sore bergerak pelan menerpa dedaunan pohon di atas kita. Dari kejauhan, celetukan anak-anak main masih terdengar riuh. Suara azan dari musala juga belum berkumandang, masih ada sisa waktu beberapa menit lagi.

​Akhirnya Ekin angkat bicara.

​"Tapi kamu sadar kan? Halaman polos kayak gini tuh rawan sobek. Bisa kusut, terus bisa hilang juga kapan aja."

​Gue mengangguk mantap. "Paham kok. Aku tahu risiko itu."

​"Terus kalau sampai kejadian gimana?"

​"Ya kalau sobek atau rusak, tinggal aku gambar ulang dari awal."

​Ekin menatap muka gue.

​Matanya kelihatan agak berkaca-kaca, biarpun dia kelihatan berusaha keras menahannya.

​Dia kembali memandangi lembaran kosong itu sebelum akhirnya berujar, "Ya udah kalau gitu. Tapi ada satu syarat mutlak ya."

​"Syarat apaan tuh?"

​"Kalau nanti gambarnya jelek atau nggak simetris, aku berhak mengkritik sejujur-jujurnya. Nggak boleh baperan."

​Gue langsung mengangguk lega. "Deal. Tapi tolong banget jangan mengkritik sambil membawa spidol permanen buat mencoret-coret ya."

​Tawa Ekin mendadak pecah lebih lepas dari biasanya.

​"Tenang aja. Aku nggak sejahat itu kok."

​Kita berdua kemudian kembali memandangi buku sketsa itu berdampingan.

​Halaman kosong itu masih tersaji di tengah buku. Belum ada coretan gambar, belum ada ukiran cerita, belum ada apa-apa.

​Tapi kali ini, gue nggak lagi memandangnya sebagai kertas yang hampa.

​Gagah-gagahan status nggak ada yang diumumkan sore itu. Kalimat dramatis ala sinetron soal peresmian hubungan juga nggak pernah diucapkan.

​Cuma ada dua orang manusia yang akhirnya lelah saling menebak jalan pikiran dan memilih buat memberi kesempatan satu sama lain.

​Mungkin jalannya memang sesederhana itu.

​Sebuah halaman kosong, dan dua orang yang akhirnya punya alasan kuat buat mengisinya bersama.

© 2025 by Agi Dione | All rights reserved.