Ticker

6/recent/ticker-posts

Ekin, Gang Sempit Favorit


Alarm sudah gue snooze berkali-kali. Gue kira itu ujian terberat pagi ini. Ternyata belum ada apa-apanya dibanding suara ketukan pintu nyokap.

“Bangun, Gi! Ke pasar!”

Gue masih menunda, tapi begitu nyokap ngomong, “Anak itu, bantuin ibu!”, gue tahu perlawanan gue sudah selesai.

Di pasar, gue masih agak linglung sampai tangan gue dipaksa megang ikan kakap. Besarnya keterlaluan. Gue cuma bisa ngedumel dalam hati, “Ini belanja atau olahraga angkat beban?”

Sambil nyokap tawar-menawar, gue nyelinap ke gang sempit di samping pasar. Gang itu sumpek, becek, dan panas, tapi anehnya punya daya tarik sendiri. Ada aroma asap sate Madura yang bercampur bau bensin eceran. Kombinasi aneh, tapi bikin gue betah.

Di tengah keramaian, mata gue berhenti pada satu sosok.

Seorang cewek, rambutnya panjang, pergelangan tangannya penuh gelang rajut warna-warni. Jalannya santai, tapi justru itu yang bikin gue gak bisa alihkan pandangan.
Sebenernya bukan cuma itu, karena dIa juga ga asing di mata gue. 

Saat itu juga, suara-suara sekitar seakan mengecil. Gue otomatis meraih pensil dan buku sketsa. Ada dorongan kuat, seperti alarm di kepala, “Gambar dia sekarang.”


Pulang dari pasar, gue pikul dua kantong plastik merah. Isinya ikan, tahu, sama sayur. Beratnya lumayan bikin pundak pegal. Nyokap jalan di depan, udah ngomong sendiri soal menu siang.

“Gi, nanti ibu tumis kangkung, ya. Ikannya dibakar.”

“Iya, Bu.”

Gue jawab seadanya. Kaki tetap jalan, tapi ritmenya pelan. Nggak secepat tadi.

Ada yang narik perhatian gue.

Refleks gue nengok ke ujung gang. Nyokap masih terus maju, nggak sadar gue mulai ketinggalan.

Dan di sana, dia.

Cewek yang tadi pagi cuma sempat gue gambar sekilas.

Dia duduk di bangku plastik biru yang warnanya sudah pudar. Di depannya warung kecil dengan rolling door setengah terbuka. Dia menunduk, fokus ke layar ponsel. Rambut panjangnya jatuh ke sisi kiri wajah, nutupin sebagian pipi. Dari posisi gue berdiri, cuma kelihatan ujung hidung dan bibirnya yang sedikit manyun, entah lagi baca apa.

Gue berhenti.

Nyokap sudah makin jauh. Gue bisa nyusul. Harusnya begitu.

Tapi kaki gue belok sendiri.

Pelan-pelan gue mendekat. Dua meter. Satu meter. Kantong plastik masih gue pegang, plastiknya berderit tiap gue geser.

Gue berdehem.

Dia angkat kepala pelan. Matanya nyipit sebentar, mungkin silau atau lagi nyesuaiin fokus.

Gue berdeham pelan. “Eh… Vina, ya?”

Dia angkat kepala. Tatapannya datar, tapi nggak jutek. “Bukan.”

Gue langsung garuk kepala, senyum kikuk. “Ekin?”

Dia memperhatikan gue beberapa detik. Lalu alisnya naik sedikit. “Dan… kamu Agi, kan?”

Gue kaget. “Iya. Eh, lo tahu gue?”

Dia angguk kecil. “Kita pernah saling kenal di IG.”

Butuh satu detik buat otak gue nyambung. Lalu gue nyengir. “Oh, yang suka lempar meme receh itu?”

Sudut bibirnya naik. “Iya. Yang itu.”

Ada jeda setelah itu. Nggak lama, tapi cukup buat bikin gue sadar jantung gue lagi kerja lembur.

Gue berusaha santai. “Lagi nongkrong di sini?”

“Iya. Nunggu temen. Tapi kayaknya dia lama.” Dia ngangkat bahu.

“Kamu sering di sini?”

“Kadang aja. Rumah tanteku deket sini.”

Jawabannya simpel. Nggak dibuat-buat.

Gue lihat sekeliling, lalu nekat duduk di sebelahnya. Nggak terlalu dekat, tapi juga nggak jauh. Ada jarak yang sopan.

Kami ngobrol hal-hal ringan. Soal sekolah, soal IG yang sekarang makin aneh isinya, soal meme yang makin garing. Dia ketawa beberapa kali, pelan tapi tulus. Tangannya sesekali merapikan rambut, lalu kembali mainin gelang di pergelangan tangannya.

Gue memperhatikan detail-detail kecil itu. Cara dia mikir sebelum jawab. Cara matanya sedikit menyempit kalau lagi serius.

Ada dorongan yang sama kayak tadi pagi. Keinginan buat gambar dia lagi. Bukan sekadar karena dia menarik, tapi karena momen ini terasa jarang.

Dulu cuma sebatas nama dan foto profil di layar. Sekarang dia duduk di samping gue, jaraknya cuma sejengkal.

Di tengah obrolan, gue akhirnya bilang, “Jujur, tadi gue kira lo Vina.”

Dia ketawa kecil. “Aku Ekin.”

Gue angguk pelan.

“Iya. Aku Ekin.”

Dan entah kenapa, kalimat sederhana itu nempel kuat di kepala gue sepanjang jalan pulang.


Bab 2: Gang, Bayang-Bayang Masa Lalu

Setelah pertemuan itu, gang sempit ini jadi tujuan tetap gue setiap pagi. Gue selalu punya alasan untuk ke pasar, meski kulkas rumah masih penuh. Kadang bawa pulang kantong kosong, kadang cuma belanja receh, dua siung bawang merah, tiga biji cabe rawit. Apapun itu yang penting seakan habis belanja. 

Sampai akhirnya nyokap mulai curiga.

“Kenapa tiap hari ke pasar sih?”

Nada suaranya, kayak lagi nge-interogasi.

Gue menarik napas panjang, pura-pura yakin, “Lagi coba disiplin, Ma. Biar lebih mandiri.”

Nyokap cuma diam, tatap gue agak lama, kayak nunggu gue cerita lebih. Tapi akhirnya ga dilanjut lagi.

Setiap sore, gue kembali ke gang itu. Dan setiap kali, Ekin hampir selalu ada. Bangku plastik biru yang nyaris pincang jadi singgasananya. Seolah memang jadi pemilik tetap dari warung sederhana itu.

Kami berbagi tawa, percakapan sederhana yang entah kenapa terasa begitu berarti. Saat dia bercerita tentang kebiasaannya bernyanyi pelan saat hujan turun, ada jeda hening yang tiba-tiba mengisi ruang dalam diri gue, sebuah ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Tapi seperti kata pepatah, cerita yang terlalu mulus selalu punya celah untuk retak.

Sore itu, kami duduk berdampingan. Ekin lagi asik cerita tentang temannya yang salah sangka, mengira Haikyuu itu anime masak-masakan. Gue sudah bersiap ngakak, tiba-tiba… seseorang muncul. Tanpa aba-aba, tanpa permisi, kehadirannya langsung mengubah suasana dalam sekejap.

Elin.

Teman SMA yang dulu pernah hampir jadi “kita”. Hubungan yang pernah nyaris menyatu tapi kandas di tengah jalan, menggantung tanpa jawaban. Entah karena gue yang bebal, dia yang rumit, atau kami berdua yang terlalu takut jujur.

“Gi,” suaranya pelan tapi menusuk, “Kamu kenapa nggak pernah bales chat aku?”

Duar. Kalimat itu jatuh tepat di hadapan Ekin, menusuk seperti pisau tajam.

Gue kaku. Otak gue blank. Tangan gue cuma bisa menggenggam kantong cireng yang tiba-tiba terasa ringan, absurd, seperti barang paling tak berarti di dunia.

Ekin diam saja. Tapi wajahnya berubah.Matanya yang biasanya penuh kisah dan tawa, mendadak jadi seperti jendela yang ditutup rapat, dingin dan hampa. Hening.

“E-Elin… gue pikir kita udah…” suara gue kecil, setengah menyesal, setengah bingung.

“Gak apa-apa kok.” Dia potong, tenang tapi senyumnya berbeda. Senyum yang dipakai untuk menyembunyikan luka. Senyum yang lebih dekat ke tangis daripada tawa.“Aku cuma kira kamu butuh waktu.”

Dan saat itu, Ekin berdiri.

Tanpa sepatah kata, tanpa menatap ke arah gue. Dia angkat tasnya dan melangkah pergi. Langkahnya pelan tapi pasti, seperti seseorang yang sudah memutuskan menutup bab lama dalam hidupnya.

Elin pun mundur, melangkah ke arah lain, seperti baru menyadari dia salah masuk dalam cerita ini.

Gue?

Masih duduk di bangku plastik itu, tangan erat menggenggam kantong cireng yang kini terasa hambar.

Gang yang biasanya hidup dengan aroma sate, suara pedagang, teriakan anak-anak, dan deru motor mendadak sunyi, seolah menyiksa.

Kepala gue penuh suara tapi tubuh gue membeku.

Yang tersisa cuma satu, rasa salah yang menyesakkan.

Gue tahu ini salah gue.

Masa lalu yang tak pernah gue urus dengan benar, akhirnya mengejar gue, menabrak keras saat gue sedang berusaha membangun cerita baru.

Bab 3: Klarifikasi 

Malam itu, HP gue bergetar.

Elin.

“Gi... bisa ketemu nggak? Aku pengen ngobrol. Klarifikasi, kalau kamu nggak keberatan.”

Gue baca pesan itu berulang kali, jari gue sempat ragu. Tapi akhirnya, gue ketik satu kata: iya.

Bukan karena sungkan. Lebih karena gue capek membiarkan semua ini menggantung terlalu lama.

Warkop kecil itu tak banyak berubah sejak SMA. Bangku kayu yang reyot, lampu remang yang redup, dan suara motor lalu-lalang tetap jadi lagu pengiring yang familiar.

Gue sampai duluan. Duduk di pojokan, tempat biasa kami dulu nyanyi dan tertawa lepas.

Tak lama, Elin datang. Duduk di seberang gue, diam. Dia cuma pesan Ovaltine dingin lalu tetap terdiam.

Tangannya terus memutar sedotan, matanya tertunduk menatap meja. Sama sekali tak menatap gue.

Keheningan di antara kami terasa berat, penuh dengan rasa yang tak terucap, penuh kikuk dan luka yang masih mengendap.

“Aku kira kamu cuma butuh waktu,” suaranya lirih, setajam pisau.

Gue menahan napas, lalu pelan berucap, “Elin… gue pikir kita udah selesai.

”Dia mendongak, tatapannya tajam tapi rapuh sekaligus.“

Jadi, kamu sudah punya orang baru?”

Hening. Satu kata keluar dari mulut gue.

“Iya.”

Satu kata singkat tapi membawa beban lebih berat dari ribuan alasan yang tak terucap.

Elin menunduk, suara berat, “Kenapa bukan aku dari dulu?”

Gue menarik napas panjang, suara gue parau tapi jujur, “Dulu, waktu SMA... gue pernah suka sama lo. Gue coba deket, cari celah. Tapi setiap kali gue maju, lo mundur. Seolah ada jarak yang nggak pernah bisa gue lewati.”

Air mata mulai menggenang di sudut matanya. “Aku sebenernya peka, Gi. Aku tau. Tapi kamu nggak pernah sadar kalau aku juga nunggu kamu… nunggu kamu berani.”

Gue menatapnya lama, dada sesak. “Mungkin itu masalahnya, Lin. Kita sama-sama nunggu, sama-sama berharap. Tapi nggak pernah ketemu di tengah. Gue capek terus-terusan nebak arah yang nggak jelas. Sekarang… gue nemuin seseorang yang jelas, yang hadir, yang nggak bikin gue nunggu tanda.”

Elin menutup wajahnya sebentar, lalu tersenyum tipis dengan mata basah.“Jadi selama ini… kita cuma saling lewatin, ya?”

Gue mengangguk pelan.
“Mungkin… kita memang udah beda arah.”

Dia berdiri, meraih tasnya. Gelas Ovaltine di meja cuma sisa es yang meleleh.

Sebelum pergi, dia berhenti. Menoleh ke arah gue. Tatapan lurus, suara tenang.

“Jaga dia, Gi. Jangan sampai cerita kita terulang di dia.”

Langkahnya pelan, tapi gema kata itu terus menghantui kepala gue, meninggalkan bayangan yang susah dihapus.

Bab 4: Kesempatan

Beberapa hari gue nggak balik ke gang itu.

Gue perlu waktu buat merapikan benak yang kacau.

Bayangan Ekin pergi tanpa sepatah kata terus muter di kepala. Diamnya dia... entah kenapa, lebih menusuk daripada apa pun.

Gue nggak bisa sepenuhnya nyalahin Elin.

Ekin pun nggak salah.

Yang salah? Ya gue sendiri.

Karena gue nggak pernah menutup masa lalu dengan benar.

Dan sekarang, masa kini gue yang kena getahnya.

Hari Minggu. Jam tiga sore. Matahari cukup nyengat.

Tapi hati gue justru dingin.

Lebih dingin dari es teh yang biasa Ekin pesan.

Gue memaksakan diri balik ke gang itu.

Dan dia ada di sana.

Duduk sendirian di bangku plastik biru, yang kaki bangkunya masih miring seperti biasa.

Gelas es teh setengah meleleh di sampingnya.

Matanya lurus ke jalan, tapi gue tahu... dia sadar gue datang.

Gue melangkah pelan. Duduk di sampingnya.

Ada jeda panjang, ruang kosong di antara kami yang tak terlihat, tapi terasa begitu pekat.

“Masih suka cireng, kan?” gue coba memecah keheningan.

Dia menoleh singkat, matanya sekejap menatap gue lalu kembali ke jalan.

“Masih. Asal nggak keras.”

Gue senyum tipis.

Padahal jantung gue berdentum tak karuan.

Kami diam beberapa saat.

Suara pasar bergema dari kejauhan.

Orang lalu-lalang.

Teriakan pedagang.

Tapi semua itu seperti kejadian di dunia lain, jauh dari kami.

Gue menarik napas dalam-dalam.

Nyari keberanian yang tersisa.

“Gue balik... biar lo nggak salah paham lebih lama.”

Dia tak segera menjawab.

Tangannya terus memutar sedotan.

Ada sesuatu yang dia tahan, sesuatu yang berat.

“Aku nggak ngerti kenapa aku pergi waktu itu,” suaranya pelan, nyaris bergetar.

“Kita kan belum jadi apa-apa. Tapi waktu lihat kalian... Aku merasa cuma bayangan di latar belakang.”

Gue menunduk.

Kata-katanya menusuk.

Dan bener.

Justru karena itu, gue makin merasa bersalah.

“Waktu Elin dateng, gue benar-benar bingung,” gue bicara pelan.

“Gue nggak tahu gimana ngejelasin semuanya ke lo... tanpa bikin lo merasa disudutkan.”

Akhirnya dia menoleh.

Tatapannya menyelam ke mata gue.

Bukan tajam, tapi penuh kejujuran dan kedalaman.“

Aku cuma pengen tahu, Gi.”

“Nih ya... kamu balik ke sini karena kamu peduli? Atau karena kamu nggak siap kehilangan?”

Pertanyaan itu nggak teriak, tapi terasa seperti tamparan keras.

Jujur, gue juga pernah tanya itu ke diri sendiri.

Tapi setelah diam cukup lama, gue tahu jawabannya.“

Gue balik... karena gue ngerasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat gue punya.”

Suara gue kecil, nyaris bisikan.

“Elin itu masa lalu, Kin. Lo bikin gue pengen mulai dari awal... dengan cara yang bener.”

Dia tatap gelas es tehnya, yang esnya mulai mencair.

Diam lama, seperti sedang membaca tanda dari es itu.

Lalu dia ngomong.“Aku nggak butuh janji manis, Gi. Nggak butuh omongan muluk.”

“Aku cuma mau lihat minggu depan... kamu masih dateng atau nggak.”

“Nggak semua orang bisa bertahan. Dan aku capek berharap orang datang buat tinggal... padahal cuma numpang lewat.”

Gue mengangguk pelan.

Tak janji apa-apa.

Tapi dalam hati, ini sudah jadi keputusan.

Bukan buat nebus masa lalu.

Tapi buat nunjukin kalau gue belajar.

Dan kali ini, gue benar-benar akan datang.


Bab 5: Gang Yang Kosong

Hari Sabtu, gue balik ke gang itu lebih cepat dari janji. Jam sebelas siang, udara panas. 

Gue duduk di bangku plastik itu, menunggu.

Tapi Ekin nggak ada.

Bangku itu kosong melompong. Nggak ada gelas es teh, apalagi senyum tipisnya. Cuma suara kipas warung yang berdecit sama teriakan anak-anak main sepeda.

Gue nunggu. Lima belas menit, setengah jam, bahkan sampe gue beli tahu bulat cuma biar nggak kelihatan kayak orang bego. Tapi dia nggak dateng juga.

Gue coba chat.

"Kin, gue di gang. Jadi dateng, kan, kayak yang lo bilang?"

Centang dua. Tapi nggak dibalas.

Hati gue kerasa kayak bangku plastik itu: kosong, dingin, dan sedikit retak. Gue kira niat baik doang udah cukup buat beresin semuanya.

Tiga hari berlalu, dan gue balik lagi ke gang itu. Tiga kali, dengan hasil yang sama: kosong. Setiap sore, gue duduk, nunggu, bawa kantong belanja yang isinya cuma alasan buat diri sendiri.

Sampai akhirnya, hari Kamis sore, HP gue berbunyi. Notifikasi IG dari @ekinra.

"Kamu masih sering ke gang itu?"

Jantung gue kayak ditepuk centong nasi. Kaget tapi langsung anget. "Masih. Bangkunya nggak ada yang dudukin, soalnya."

Dia nggak langsung bales. Gue kira bakal digantung lagi. Tapi sejam kemudian, dia menulis:

"Besok sore, kalau kamu nggak sibuk, aku ada di taman deket musala. Bawa satu hal yang kamu anggap paling jujur dari diri kamu."

Gue beneran nggak ngerti maksudnya, tapi gue langsung setuju. Karena ini mungkin kesempatan terakhir gue.


Bab 6: Halaman Kosong

Besoknya, jam lima sore, gue udah duduk di taman kecil deket musala. Tangan gue ngegenggam erat buku sketsa yang udah lama ngumpet di laci, isinya gambar-gambar yang nggak pernah gue tunjukin ke siapa pun. 

Lalu dia datang.

Pakai hoodie biru, tote bag digantung di bahu, rambutnya diiket seadanya. Nggak dandan. Tapi justru itu… cantiknya malah lebih nyentuh. Bukan cantik yang minta dilihat, tapi cantik yang bikin lo pengen berhenti dan ngelihat lebih lama.

Dia duduk di samping gue. Nggak mepet, tapi cukup deket buat bikin jantung gue deg-degan nggak jelas.

"Kamu bawa?" tanyanya.

Gue cuma angguk, terus ngasih buku sketsa itu ke dia.

Ekin ngelihatnya sebentar, agak ragu. Lalu dia buka. Halaman pertama... kedua... ketiga... dan makin lama dia buka, makin lama juga dia diem.

Ekspresinya berubah. Awalnya datar. Lalu pelan-pelan matanya kayak bingung,, nggak percaya.

"...ini... semua aku?" suaranya pelan. Hampir kayak dia ngomong ke dirinya sendiri.

Gue angguk lagi. “Gue nggak pernah nunjukin ke siapa-siapa. Tapi tiap ketemu lo... rasanya selalu ingin melukis setiap momen bareng lo.”

Dia berhenti di satu halaman yang kosong. Di atasnya cuma ada tulisan kecil:
"Halaman yang belum selesai."

Ekin masih ngelihatin halaman itu lama. Tangan kirinya nahan sudut buku, tangan kanan mainin tali tote bag kayak anak kecil yang gugup.

"Ini maksudnya?"

Gue tarik napas. “Itu kita. Gue nggak tahu ini bakal jadi apa. Tapi gue pengen halamannya tetap ada... biar kita isi bareng.”

Dia diem. Lama. Suara angin kayak ikut nunggu jawaban.

Akhirnya dia nyengir sedikit, tapi senyumnya bukan senyum santai. Ada getir tipis yang ngendap.
"Tapi kamu sadar, kan? Halaman bisa sobek. Bisa kusut. Bisa hilang."

Gue angguk. “Gue tahu. Tapi kalau itu kejadian, gue bakal gambar ulang. Berkali-kali kalau perlu. Karena sekarang... gue punya alasan buat nyelesainnya.”

Dia ngeliatin gue. Lama. Matanya nggak sejernih biasanya, kayak ada yang dia tahan. Tapi akhirnya, dia senyum. Lebih hangat.

“Janji ya... kalau gambarnya jelek, aku boleh kritik pedes.”

Gue ketawa kecil, “Deal. Tapi jangan coret pake spidol juga, ya.”

Dan sore itu, tanpa embel-embel status, tanpa kata-kata resmi, kita mulai sesuatu.
Nggak dari nol. Tapi dari halaman kosong yang akhirnya siap buat diisi.

Bareng.

© 2025 by Agi Dione | All rights reserved.