Ticker

6/recent/ticker-posts

"Jatah Pahit Gue Hari Ini"

 


Gini ya, kita tuh sering banget terjebak sama pikiran sendiri. Kita pengen hidup tuh lurus, rapi, sesuai rencana. Tapi masalahnya, realita itu nggak punya kewajiban buat menuruti kemauan kita. Realita itu, kalau kata anak sekarang, hobi banget nge-troll.

​Contoh paling gampang ya, soal Timnas. Lu udah ngitung skenario Timnas lolos Pildun. Lu udah kalkulasi setiap peluang, mulai selisih gol, liat jadwal lawan, dsb. Tapi masalahnya, Timnas nggak tau rencana lu. Pemain lawan apalagi, mereka nggak peduli sama hitung-hitungan lu di atas kertas.

​Pas mereka akhirnya kalah, yang sakit bukan cuma skornya, tapi benturan antara rencana indah di kepala lu sama kenyataan pahit di lapangan. Di situlah "troll" itu terjadi.

Tapi, siang tadi gue ketemu satu kutipan dari Bertrand Russell, filsuf:

“Untuk bener-bener bahagia, kita harus siap nerima kenyataan pahit. Dan itu harus dilakukan tiap hari. Hidup nggak akan pernah bersih dari rasa kecewa atau sakit.”

Dalam juga sih omongan si Om Russell ini.

Yap, masalah kita selama ini adalah ekspektasi. Kita yang bikin "skenario ideal" di kepala, terus pas realita nggak cocok sama skenario itu, kita yang ngerasa hancur. Kita nganggep bahagia itu kalau semuanya lancar. Padahal ya nggak gitu mainnya. Bahagia itu sebenernya seberapa kuat "otot" mental kita buat nerima pas keadaan lagi berantakan.

​Mau itu bola kalah, engagement konten sepi, atau apa pun yang nggak sesuai harapan, ya udah. Anggep aja itu "jatah pahit" buat hari ini. Lo punya jatah manis, lo juga punya jatah pahit. Adil kan?

​Gue suka cara pandang kayak; hidup itu bukan musuh yang harus dikalahin, tapi partner sparring. Kalau lo diajak sparring terus, lama-lama mental lo bakal lebih kuat, lebih tenang pas kena hantaman.

​Jadi, kalau besok ada hal yang bikin nyesek lagi, entah itu urusan fandom atau hal lain, nggak usah terlalu diambil pusing. Tarik aja napas, terus bilang ke diri sendiri, 

​“Oke, ini jatah pahit gue hari ini. Besok kita push lagi.”

Sesimple itu.

(Kutipan diambil dari Bertrand Russell, filsuf & matematikawan, penerima Nobel Sastra.)

© 2025 by Agi Dione | All rights reserved.