Orang sering nganggep menerima kenyataan itu sama dengan menyerah. Seolah kalau lo bilang, "Ya udah, memang kondisinya begini," berarti lo udah berhenti berjuang.
Padahal, menerima kenyataan dan menyerah itu dua hal yang berbeda.
Banyak orang justru terjebak sama anggapan kalau memaksakan keadaan supaya sesuai sama rencana, realitas pasti bakal ngikutin.
Padahal, hidup gak sesederhana itu.
Coba lihat pelatih sepak bola. Sebelum pertandingan dimulai, mereka udah nyusun strategi selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Semua kemungkinan dipelajari. Semua skenario dipersiapkan.
Tapi baru lima menit pertandingan berjalan, bek tengah kena kartu merah.
Duarrr.... Dalam hitungan detik, sebagian besar rencana yang udah disusun langsung kehilangan relevansi.
Orang yang nonton dari luar mungkin bilang, "Berarti pelatihnya kurang siap."
Padahal justru sebaliknya. Pelatih yang bagus bukan yang ngotot mempertahankan rencana awal seolah gak ada yang berubah. Dia juga bukan yang sibuk nyeselin nasib di pinggir lapangan.
Dia menerima dulu faktanya. Timnya sekarang bermain dengan sepuluh orang.
Begitu kenyataan itu diterima, baru dia bisa mengambil keputusan yang masuk akal. Mungkin formasi diubah, mungkin pemain depan ditarik, mungkin target pertandingan ikut berubah. Strateginya berganti, tapi tujuannya tetap sama, yaitu mencari hasil terbaik dari situasi yang ada.
Beberapa hari lalu gue nemu kutipan dari Bertrand Russell yang bunyinya, "The key to happiness is accepting one unpleasant reality every day."
Entah kalimat itu benar-benar pernah dia ucapkan atau enggak masih sering diperdebatkan, tapi idenya menurut gue menarik.
Kita memang perlu bikin rencana. Tanpa rencana, kita gak punya arah. Yang jadi masalah bukan rencananya, tapi ketika kita terlalu melekat sama rencana itu. Kita mulai menganggap hidup harus berjalan persis seperti yang ada di kepala kita.
Begitu kenyataannya melenceng sedikit aja, kita frustrasi.
Misalnya waktu lo bikin konten. Lo udah kepikiran video ini bakal rame, banyak yang share, banyak yang komentar. Pas ternyata performanya biasa aja, yang bikin kecewa sebenarnya bukan angka views atau likes.
Yang bikin kecewa adalah kenyataan yang gak sesuai sama cerita yang udah lo bangun sendiri sebelum tombol upload ditekan.
Menurut gue, di situ letak pentingnya menerima kenyataan.
Maksud di sini bukan supaya kita jadi pasif, ya. Bukan juga supaya kita berhenti punya target.
Justru karena kita menerima keadaan apa adanya, kita bisa berhenti berdebat dengan hal yang memang udah terjadi. Energi yang tadinya habis buat ngeluh atau nyalahin keadaan bisa dipakai buat mikir, "Sekarang langkah berikutnya apa?"

Social Plugin