Gue sudah beberapa kali menonton wawancara atau podcast dari beberapa eks member JKT48, dan ada satu diantaranya yang membuat gue sedikit heran. Kok ya narasi yang dia bawa cenderung berat ke sisi trauma, drama, dan penderitaan doang? Sampai segitunya?
Gini deh, semua orang paham JKT48 bukan tempat sempurna. Banyak hal di balik layar yang mungkin nggak enak. Tapi masa iya ketika ada mikrofon di depan muka, yang digoreng cuma sisi gelapnya aja? Padahal, apa pun yang terjadi, di sana dia dikasih panggung buat dikenal publik. Momen bawain "Langit Biru Cinta Searah" itu bukti kalau dia dulu dikasih kesempatan, bukan cuma sekadar dijebloskan ke dalam kubangan masalah.
Yang bikin gue sulit pahami, nama yang sekarang vokal soal "lingkungan toksik" ini dulunya punya track record yang nggak baik-baik amat. Dulu pernah melanggar aturan, belum lagi pernah melontarkan pernyataan yang menyinggung fansnya sendiri, bahkan sampai fanbasenya bubar gara-gara itu. Nah, kalau sekarang semua cerita dibingkai seolah-olah dia murni korban, rasanya kurang tepat aja gitu.
Coba deh bandingin sama teman seangkatannya di generasi 8 kayak Lulu, Oniel, atau Fiony. Mereka juga pasti ngalamin masa sulit yang sama, mereka masih aktif dan sampai sekarang nggak pernah terdengar jelekin fans atau grupnya. Cara mereka bersikap lebih mencerminkan apa yang seharusnya jadi teladan seorang idol.
Atau lihat Zara, senior dari generasi 5. Dia sama-sama sudah lulus dan sekarang kariernya moncer. Tapi setiap ditanya soal masa lalu di JKT, Zara nggak pernah koar-koar jelekin grupnya. Dia paham dengan pepatah "kacang yang tidak lupa kulitnya".
Gue sih nggak nyuruh pura-pura bahagia. Tapi kalau mau move on, ya jalanin dengan elegan. Nggak perlu bawa dendam ke mana-mana sampai setiap pembicaraan berubah jadi ruang curhat satu arah. Apalagi kalau masa lalunya sendiri juga nggak bersih-bersih amat dalam hal sikap ke fans maupun ketaatan rules.
Tapi ya, itu cuma pendapat gue. Mungkin dia punya sudut pandang yang gue nggak tahu. Cuma dari yang gue lihat, rasanya sayang aja kalau semua cerita masa lalu cuma diisi sama kepahitan.

Social Plugin