Ticker

6/recent/ticker-posts

Old Era vs New Era


Gue ngikutin JKT48 dari old era. Bukan berarti gue paling tahu soal semuanya, tapi karena udah cukup lama ada di fandom, perubahan yang terjadi kerasa banget dari dalam.

Tulisan ini juga bukan kebenaran mutlak. Ini cuma pengamatan gue sebagai orang yang ngalamin dua era yang cukup berbeda.

Old Era: Banyak Hal yang Bikin Kangen

Salah satu hal yang paling gue kangenin dari masa dulu adalah sistem MVP.

Buat yang belum tahu, MVP itu singkatan dari Most Valuable Participants. Konsepnya sederhana. Semakin sering lo nonton teater, semakin banyak penghargaan yang bisa lo dapet. Mulai dari kaos bertanda tangan member, pin badge, sampai nama lo dipajang di Wall of Fame website resmi JKT48.

Menurut gue, yang bikin sistem ini berkesan bukan semata-mata hadiahnya. Yang terasa penting justru karena ada pengakuan. Loyalitas fans yang datang berkali-kali benar-benar terlihat dan dihargai.

Belum lagi dulu ada handshake, direct selling, sampai hi-touch setelah show selesai. Hal-hal kayak gitu yang bikin konsep "idola yang bisa ditemui" terasa nyata. Lo nggak cuma datang buat nonton, tapi juga punya kesempatan berinteraksi langsung dengan member.

Dan jangan lupa, dulu belum ada streaming teater. Kalau mau nonton, ya harus datang langsung ke FX Sudirman. Karena nggak ada alternatif lain, pengalaman nonton teater jadi terasa lebih spesial.

Tapi Old Era Juga Nggak Sempurna

Meski banyak hal yang bikin kangen, bukan berarti semuanya lebih baik.

Salah satu masalah yang paling sering gue lihat dulu adalah banyak member potensial yang seolah mentok di teater. Skill ada, kualitas ada, tapi kesempatan buat berkembang ke luar sering kali terbatas. Kalau kebetulan lo bukan member yang populer, ya risikonya bisa lama berada di posisi yang sama. Sorry kalo gue harus nyebut nama, Novinta Dhini adalah salah satunya. 

Bahas audisi. 
Menurut gue, pendekatan manajemen saat itu juga cukup berbeda dibanding sekarang. Yang sering dicari bukan selalu calon idol yang sudah punya fondasi kuat, melainkan karakter yang unik dan mudah diingat.

Akibatnya, kualitas member kadang terlihat cukup timpang dan stigma soal kemampuan vokal maupun dance JKT48 ikut berkembang di luar fandom (normies).

Terlalu ekslusif. 
Ada satu hal lain yang menurut gue mulai terasa sekitar 2016-an. Aktivitas JKT48 saat itu makin banyak berputar di dalam ekosistem fandom sendiri.

Teater tetap jalan, handshake tetap ramai, dan event untuk fans terus ada. Masalahnya, sebagian besar aktivitas itu lebih banyak dinikmati oleh orang-orang yang memang sudah menjadi fans. Akibatnya, JKT48 jadi tidak terlalu mudah ditemukan oleh masyarakat umum dan regenerasi fans baru berjalan lebih lambat.

Mungkin itu juga yang bikin di media sosial sering muncul komentar seperti, "Loh, JKT48 masih ada?" Bukan karena grupnya berhenti beraktivitas, justru mereka sangat aktif. Hanya saja aktivitas mereka lebih sering terlihat oleh fans lama dibanding orang di luar fandom.

Sekarang bahas sistem tim. Rivalitas antar tim yang awalnya dimaksudkan sebagai kompetisi sehat juga kadang berubah jadi gesekan antar fans. Pada akhirnya member yang sering kena dampaknya.

New Era: Banyak yang Berhasil Dibenahi

Ketika New Era dimulai pada 2022, perubahan yang paling terasa buat gue adalah dihapusnya sistem tim.

Nggak ada lagi Team J, KIII, dan T yang berjalan sendiri-sendiri. Semua member punya kesempatan tampil di setlist yang sama. 

Di new era bukan berarti masalah member underrated langsung hilang. Sampai sekarang masih ada member yang kesulitan. Bedanya, sekarang jalur untuk mendapatkan exposure jauh lebih banyak dibanding dulu.

Kalau di Old Era member yang kurang populer sering terasa mentok di teater, di New Era mereka masih punya peluang muncul lewat berbagai project lain. Mulai dari kolaborasi bareng musisi, endorsement, konten digital, on-air, sampai berbagai kegiatan di luar teater.

Menurut gue, perubahan di New Era juga nggak cuma terlihat dari sistem yang lebih terbuka/inklusif. Cara manajemen membangun generasi baru terasa ikut berubah.

Kalau dulu karakter unik sering menjadi nilai jual utama, sekarang kemampuan dasar sebagai idol juga terlihat jauh lebih diperhatikan sejak proses seleksi. Banyak member generasi baru sudah menunjukkan kemampuan dance, vokal, dan stage presence yang menjanjikan sejak masa perkenalan, sehingga kualitas performa secara keseluruhan terasa lebih merata dibanding dulu.

Lebih inklusif. 
Sekarang konten JKT48 gampang banget ditemukan. TikTok, Reels, Shorts, semuanya jadi pintu masuk buat fans baru. Ditambah kolaborasi dengan musisi maupun konten kreator, nama JKT48 kembali muncul di luar lingkaran fandom.

Banyak orang yang awalnya cuma lewat di FYP, akhirnya ikut mengenal member, menonton konten mereka, lalu pelan-pelan masuk ke fandom.

Menurut gue, keputusan menghadirkan streaming teater juga langkah yang tepat. Selama bertahun-tahun banyak fans luar kota yang cuma bisa mengikuti dari jauh. Sekarang mereka punya akses untuk menonton oshi mereka tanpa harus datang ke Jakarta.

Tapi New Era Juga Punya Konsekuensi

Di sisi lain, ada beberapa hal yang menurut gue hilang.

MVP Awards dan hi-touch berhenti sejak pandemi dan sampai sekarang belum kembali. Buat sebagian fans lama, hilangnya dua hal ini cukup terasa karena dulu itu bagian dari pengalaman menjadi fans.

Verif teater juga terasa makin sulit. Kapasitas penonton langsung tidak sebanyak dulu karena sebagian area digunakan untuk kebutuhan produksi streaming. Akibatnya, bahkan fans OFC pun sering gagal mendapatkan tiket.

Lalu ada efek samping dari pertumbuhan fandom yang sangat cepat. Masuknya banyak fans baru tentu hal yang bagus, tapi nggak semuanya memahami budaya dan batasan yang selama ini dijaga. Kasus gangguan terhadap privasi member di luar venue misalnya, itu bukan sesuatu yang muncul tanpa sebab.

Ada satu hal lagi yang kadang gue rasakan belakangan ini. Semakin besar usaha untuk menjangkau pasar yang lebih luas, identitas idol group yang dulu sangat kuat perlahan mulai berkurang. Beberapa elemen khas yang dulu menjadi pembeda dengan girl group biasa sekarang sudah tidak sebanyak dulu.

Intinya

Setiap era membawa kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Old Era punya kekuatan besar di kedekatan antara member dan fans, serta identitas idol yang sangat kuat.

New Era unggul dalam hal jangkauan, eksposur, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman.

Kalau Old Era lebih menonjol dalam membangun ikatan emosional dan karakter member yang kuat, New Era terasa lebih berhasil dalam membuka peluang bagi member, meningkatkan standar kualitas generasi baru, dan menjangkau generasi fans yang baru.

Dua-duanya berhasil di bidang yang berbeda.

Dan sekarang situasinya jadi menarik karena pada 2026 sistem tim kembali hadir lewat Team Love, Team Dream, dan Team Passion.

Karena itu, pertanyaan yang selalu muncul di kepala gue sampai sekarang sebenarnya sederhana.

Bisakah manajemen mengambil yang terbaik dari kedua era ini?

Kedekatan khas era lama tetap ada, tapi peluang untuk member juga lebih terbuka. Streaming tetap berjalan, tapi apresiasi untuk fans loyal juga kembali hadir. Eksposur ke publik tetap luas, tapi identitas idol yang menjadi ciri khas JKT48 juga tetap terjaga.

Sampai hari ini gue rasa jawabannya masih belum jelas.

Tapi justru karena belum ada jawabannya, pertanyaan itu masih layak terus diajukan.

© 2025 by Agi Dione | All rights reserved.