Ticker

6/recent/ticker-posts

Old Era vs New Era



Sebagai fans yang sudah ngikutin JKT48 dari zaman baheula, gue ngerasa wajib buat kasih perspektif soal pergeseran antara Old Era ke New Era. Kenapa? Karena memang dua fase ini punya vibe yang jauh berbeda, dan perubahannya tuh kerasa banget di banyak aspek.

​Untuk itu, gue akan coba bedah perubahannya dengan fokus pada beberapa aspek yang paling signifikan. Ini murni pandangan pribadi gue, dan ya, namanya juga perspektif, gue usahain seobjektif mungkin.

​OLD ERA: KONEKSI, PRESTISE, DAN STRUGGLE YANG NYATA

​1. Sistem MVP: Prestige yang Sekarang Ilang

​Dulu, sistem MVP itu semacam medali kehormatan buat fans royal. Lo rajin teateran, katakanlah minimal 100 kali, lo dapat gelar MVP. Reward-nya gak cuma kaos bertanda tangan ataupun group-shoot, tapi lo ngerasa dihargai sebagai penyokong utama. Nama lo muncul di website resmi; ada prestige di situ.

​Sekarang? Gelar itu kayak menguap. Gak ada lagi sistem yang jelas buat nge-reward loyalitas kehadiran fisik yang kayak gitu. Vibe pengakuan eksklusif buat fans teater garis keras itu jadi hilang.

​2. Event Idol Yang Gak Setengah-Setengah

​Selain teater, dulu rutin ada Event Ofc (official fan club), Direct selling, sampai Handshake. Vibe "Idol yang bisa ditemui" itu beneran ada dan terasa dekat. Sekarang, banyak event khas yang hilang atau sekadar formalitas yang terasa kurang greget. Intinya, ritual kedekatan yang intens itu kini memudar.

​3. Sakralnya Teater dan Atmosfer

​Karena dulu nggak ada live streaming, satu-satunya cara buat nonton oshi ya harus datang langsung ke FX Sudirman. Lo antre, masuk, terus ngerasain atmosfernya langsung. Sensasi itu bikin teater terasa sakral dan effort yang lo keluarin itu terbayar. Sekarang orang nonton sambil rebahan juga bisa. Efeknya, rasa "spesial" dari pengalaman menonton itu jelas beda.

​4. Spotlight Berdasarkan Usaha Keras

​Dulu, buat dapat tempat atau spotlight, member itu harus beneran usaha. Nggak bisa cuma modal gimmick di sosmed. Kita sebagai fans jadi lebih emosional karena ngerasa nemenin mereka berjuang dari nol banget. Ada rasa kepemilikan dan koneksi yang kuat terhadap pencapaian mereka.

​5. Akses dan Harga yang Bersahabat

​Ini yang paling kerasa dampaknya ke komunitas. Dulu ada tiket pelajar, harganya masuk akal buat semua kalangan. Fans dari berbagai latar belakang ekonomi bisa support oshi. Sekarang? Tiket makin mahal, akses makin ribet. Jadi kesannya JKT48 sekarang cuma buat yang dompetnya tebel aja. Ini yang menurut gue perlu dipertimbangkan lagi soal inklusivitas.

MINUSNYA:

​1. Member Potensial Cuma Jadi "Pajangan" Teater

​Ini yang paling nyesek. Banyak member yang secara skill sebenarnya mumpuni, tapi sayangnya tidak difasilitasi. Rutinitas mereka cuma aktif di teater saja. Mau sehebat apa pun skill lo, boro-boro bisa dapat project di luar.

​2. Asal Punya Karakter, Skill Nomor Sekian

​Dulu, manajemen terlalu obsesi banget sama yang namanya "karakter unik". Seakan lupa kalau pada dasarnya ini adalah grup musik. Efeknya? Publik luar jadi punya stigma kalau JKT48 itu isinya cuma cewek-cewek modal imut yang gak bisa nyanyi atau dance. Stigma "gak berbakat" ini akhirnya melekat terus hingga sekarang, susah ilang. Kita yang fans paham betul konsep "tumbuh bersama", tapi buat orang awam, peduli apa?

​3. Pernah Disangka Sudah Bubar

​Fenomena ini dimulai sekitar tahun 2015 ke atas. JKT48 jadi terkesan terlalu eksklusif. Di teater memang ramai, tapi di radar publik, mereka mulai menghilang. Saking jarangnya muncul, orang luar sampai nanya, "Loh, mereka masih ada?" Kondisi ini terlalu niche. Akibatnya ya begitu, fandom jadi stagnan karena pintu masuknya tertutup rapat. Gak ada upaya masif yang konsisten buat menjaring audiens baru di luar "bubble teater".

​4. Purist Tim

​Sistem tim seharusnya membuat setiap member terpacu untuk push dirinya ke versi terbaik agar tidak kalah saing dari tim lain. Sayangnya, rivalitas ini justru malah berakhir jadi saling sikut antar sesama fans. Alih-alih bersaing secara sehat, ini sudah level toksik, dan member kena sasaran juga pula.


​JKT48 NEW ERA

​1. Spotlight yang Lebih "Merata" dan Terdistribusi

​Di New Era, spotlight terasa lebih adil. Sudah tidak ada lagi cerita member cuma jadi pajangan teater. Bahkan trainee pun kini dikasih panggung buat muncul di off-air atau on-air. Meskipun budaya "member anak emas" masih ada hingga sekarang, namun para member underated tetap mendapatkan kesempatan meskipun tidak selamanya berbentuk senbatsu. Misalnya, kesempatan itu datang dalam bentuk project-project khusus dan lainnya.

​2. Terobosan Konten yang Lebih Inklusif

​Sangat berbeda dari dulu, di New Era ini, lo bakal dengan mudah menemukan konten JKT48 berseliweran di short, TikTok, reels, dan berbagai platform lainnya. Konten teater yang di-clip pendek-pendek itu efektif banget narik massa baru. Sekarang mereka benar-benar membuka pintu lebar-lebar buat publik. Efeknya? Nama grup naik lagi ke permukaan. Ditambah lagi, mereka juga jadi jauh lebih sering muncul di event on-air maupun off-air.

​3. Pencarian Bibit Potensial yang Lebih Serius

​Semoga ini bukan sebatas feeling gue aja, dan lo merasakan juga. Sejak Generasi 11 ke atas, audisinya udah nggak lagi cuma nyari yang "lucu" atau "unik". Mereka memang nyari yang punya basic beneran, baik dari segi vokal, dance, maupun personality. Ada indikasi bahwa manajemen semakin serius dalam mencari member dengan fondasi skill yang kuat.

​4. Streaming sebagai Penyelamat Fans Jarak Jauh

​Jujur aja, streaming teater itu solusi paling jenius di era sekarang. Emang sih, kesakralannya beda sama datang langsung, tapi seenggaknya fans luar kota atau lo yang males macet-macetan ke Sudirman tetap bisa nonton. Fandom jadi lebih luas dan inklusif secara geografis. Lo tetap bisa update progres oshi lo tanpa harus korbanin waktu seharian di jalan.

​5. Rajin Kolaborasi, Memperluas Jangkauan

​Sekarang, kolaborasi sama musisi, influencer, sampai konten kreator itu sudah jadi makanan sehari-hari. Ini memperkuat poin tentang inklusivitas. Mereka nggak lagi eksklusif di ekosistem sendiri, tapi aktif masuk ke berbagai circle industri hiburan dan media sosial, membuat brand JKT48 makin relevan.

​MINUSNYA: NEW ERA YANG MAKIN KOMERSIL

​1. OFC Kayak Cuma Formalitas Doang

​Jujur aja, langganan OFC (Official Fan Club) sekarang kerasa kayak kurang dapet manfaatnya. Dulu privilege-nya jelas, sekarang? Sudah akses tiket susah, konten eksklusif pun gitu-gitu aja. Fans lama pasti mikir: "Ini gue bayar buat dapet akses, atau cuma donasi ikhlas buat manajemen?". Kalau benefit-nya makin ampas, jangan salahkan fans kalau akhirnya pada lepas.

​2. Verifikasi Teater: Udah Kayak Menang War Tiket Coldplay

​Ini masalah yang makin parah. Venue teater area standing dipakai buat kru streaming. Fans makin membludak, tapi slot buat nonton langsung makin dipangkas. Sekarang dapet verif teater tuh hoki-hokiannya udah nggak masuk akal. Fans OFC aja sering zonk, apalagi yang general? Keterbatasan akses ini bikin fans loyal frustrasi.

​3. Fans Karbitan & Budaya FOMO yang Norak

​Efek viral memang bagus buat angka, tapi sampah buat etika. Banyak fans baru yang datang cuma modal FOMO tapi nggak ngerti aturan main. Ada yang jadi stalker, mengganggu privasi member di luar venue, sampai nggak tahu batasan interaksi. Mereka pikir ini grup pop biasa yang bisa dikit-dikit diganggu. Tolonglah, support boleh, tapi jangan jadi beban.

​4. Harga Tiket Makin "Nggak Ngotak"

​Gue paham biaya operasional naik, tapi ya kira-kira jugalah. Buat fans loyal yang dulu rutin ke teater, harga sekarang tuh udah bikin dompet teriak. Jangan sampai teater yang katanya "rumah" malah jadi tempat yang cuma bisa dikunjungi sama kaum elit doang. Kalau fans yang paling tulus malah makin jauh gara-gara hal ini, sama aja JKT48 menghancurkan diri pelan-pelan.

​5. Kehilangan Jati Diri "Idol"

​Gara-gara terlalu ngejar pasar luas, JKT48 jadi makin mirip grup pop atau girlband biasa. Event khas idol mulai hilang. Padahal, yang bikin JKT48 beda itu ya tradisinya, interaksi personalnya, dan momen-momen intimnya. Kalau itu hilang, ya apa bedanya sama grup sebelah?

​🔚 KESIMPULAN:

​Dua era ini emang punya warnanya masing-masing.

  • Old Era itu juaranya eksklusivitas sama nyawa idol yang kental banget.
  • New Era itu pemenangnya soal adaptasi, exposure, dan jangkauan pasar.

​Tapi kalau menurut gue pribadi sih, idealnya ya digabungin aja, Ambil yang bagus-bagus. Audisi tetep liat skill tapi jangan lupain karakter. Member underrated dikasih panggung, streaming jalan terus tapi teater tetep harus adain MVP lagi. Dan yang paling penting: balikin lagi vibe event-event khas jaman dulu biar identitas idol-nya gak pudar.

​Itu perspektif gue. Kalau menurut lo gimana, ada yang mau ditambahin lagi gak?

© 2025 by Agi Dione | All rights reserved.