Ticker

6/recent/ticker-posts

MEMENANGI HATI FREYA

 


Di tengah riuh arena dan atmosfer persaingan yang kian memuncak, sebuah ajang tak biasa sedang dilangsungkan, yakni perlombaan untuk memenangkan hati Freya Jayawardhana. Kompetisi ini bukan cuma menguji fisik para peserta, melainkan juga menuntut ketulusan serta keberanian dari masing-masing individu.

​Restu yang dikantongi langsung dari orang tua Freya membuat tensi di lapangan makin membara. Semua orang yang mendaftar mendadak terpacu untuk mengerahkan seluruh kemampuan demi memikat hati sang idola.

​Sebagai salah satu kontestan yang terdaftar, gue merasa punya dorongan kuat untuk ambil bagian. Gue cukup paham kalau melangkah sejauh ini jelas tidak gampang, tapi rasa skeptis itu tertutup rapat oleh tekad melewati setiap rintangan di depan mata.

​Peluit tanda dimulainya lomba akhirnya dibunyikan. Masing-masing peserta dipersenjatai perangkat mekanikal canggih yang membuat jalannya persaingan terasa kian futuristik. Dengung mesin yang bersahut-sahut di dalam arena menciptakan aura mencekam yang memicu adrenalin. Tak hanya itu, lintasan kompetisi sengaja dirancang penuh rintangan rumit. Ketepatan manuver dan Kecepatan berpikir menjadi kunci utama agar tidak tersingkir sebelum mencapai titik akhir.

​Laki-laki yang berdiri tepat di samping gue membetulkan posisi pelindung lengannya. "Siap-siap aja, perjalanan lo bakal terhenti di tangan gue."

​Gue cuma menyunggingkan senyum tipis sambil memeriksa indikator senjata. "Santai aja, justru gue yang bakal melangkah paling jauh sampai ketemu Freya."

​Dia menepuk bahu gue agak keras. "Tingkat percaya diri lo boleh juga ya."

​"Coba aja buktikan nanti di lintasan," balas gue singkat tanpa berpaling dari jalur start.

​Mata gue bergerak cepat mengamati sudut-sudut lintasan demi menyusun taktik terbaik. Ketegangan yang merayap di sekeliling justru membuat konsentrasi gue makin tajam.

​Saat konflik antarpeserta pecah di tengah rintangan dan mereka saling menjatuhkan, situasi kacau itu justru membuka celah lebar. Gue memanfaatkannya untuk melesat maju melewati kerumunan tanpa hambatan berarti.

​Meskipun tekanan dari arah belakang makin gila mendekati titik akhir, gue tetap mempertahankan kecepatan penuh. Gue berhasil menyentuh garis akhir di urutan terdepan dengan selisih tipis dari kontestan di belakang gue.

​Bukannya saling memberi selamat, atmosfer di titik finis malah berubah panas. Beberapa orang mulai melancarkan protes dan memicu perdebatan hingga muncul kesepakatan sepihak untuk meniadakan posisi pemenang. Keputusan yang terkesan tidak adil itu jelas menyulut kekecewaan di dada gue.

​Dari sekian banyak kontestan yang bertarung, hanya ada lima orang yang sanggup bertahan hingga finish. Karena situasi makin buram, disepakati bahwa keputusan akhir sepenuhnya diserahkan kepada Freya untuk memilih satu di antara kami.

​Ibu dari Freya mencoba menenangkan suasana dengan mengambil alih pengeras suara. Beliau menyampaikan bahwa pengumuman pemenang baru bakal disampaikan pekan depan guna menghindari keributan yang lebih besar. Namun, usulan tersebut langsung ditolak mentah-mentah oleh para peserta yang menuntut kejelasan hari itu juga.

​Situasi yang makin terdesak membuat Freya akhirnya melangkah maju dengan helaan napas berat. Tanpa ragu, dia menyebutkan satu nama sebagai pilihannya, yaitu Agi.

​Gue terkejut saat nama itu terucap. Tanpa memikirkan hal lain, gue melangkah mendekati posisi Freya berdiri. Sorot mata penuh intimidasi dan gumaman nada ancaman dari peserta lain sama sekali tidak gue hiraukan.

​Melihat kondisi yang mulai tidak kondusif, ibu Freya melambaikan tangan, memberi isyarat agar gue ikut masuk ke dalam rumah mereka. Kini, sosok Freya berada tepat di ruang tamu, jaraknya hanya terpaut beberapa langkah dari tempat gue berdiri.

​Walaupun keluarga mereka datang dari latar belakang berada, kesederhanaan amat terasa di dalam ruangan itu. Tidak ada perabotan mewah berlebihan, kami bahkan cuma duduk beralaskan karpet di lantai.

​Keberadaan Freya yang begitu dekat membuat lidah gue terasa kaku.

​"Fre, kamu yakin sama keputusan tadi? Nggak salah pilih kan? Secara fisik, aku jelas bukan yang paling menonjol dibanding peserta yang lain."

​Freya membetulkan posisi duduknya di sebelah sang ibu, lalu menjawab dengan suara tenang. "Ini beneran kok, kamu memang pilihan aku."

​Setelahnya, Freya mulai menceritakan banyak hal tentang alasannya. Namun, fokus gue perlahan teralih, lebih banyak terpaku menatap paras wajahnya yang begitu memikat dari jarak sedekat ini.

© 2025 by Agi Dione | All rights reserved.