Ticker

6/recent/ticker-posts

Coretan yang Terselip

Coretan yang Terselip

​Taman di ujung kompleks sore itu tampak lengang. Hanya terdengar gesekan daun kering yang terseret angin, berbaur dengan aroma tanah basah sisa hujan siang tadi. Aroma itu masuk ke indra penciuman, memberikan sedikit ruang tenang di tengah kepala yang masih pening karena deretan soal matematika.

​Langkah kaki menjadi pilihan satu-satunya hari ini. Motor masih tertahan di bengkel dan kondisi isi dompet hanya menyisakan tumpukan struk minimarket dengan tinta yang nyaris pudar. Saat melewati area taman, gerak kaki melambat secara otomatis ketika pandangan tertuju pada satu titik.

​Atau lebih tepatnya pada satu orang.

Oniel.

Cewek yang udah tiga tahun ini, jadi alasan utama playlist galau gue nggak pernah ganti. Dia juga biang keladi caption IG gue yang selalu mendayu-dayu lebay setengah mati. Dan satu-satunya alasan gue masih betah tinggal di komplek ini, meskipun tetangga depan suka muter dangdut sampai jam tiga pagi.

Dan dia...

...lagi main sama Jeki.

Kucing peliharaan gue. Literally, segumpal bulu yang lebih sering dikira karpet daripada makhluk hidup. Jeki, si kucing oportunis yang nggak pernah mau dielus sama gue. Tapi sekarang, liat dia manja sama Oniel. 

​Gue mencoba mengatur napas agar tetap tenang.

​Oke, saatnya gerak.

​Gue melangkah mendekat ke arahnya.

​"Si Jeki anteng bener ya sama lo," kata gue, berusaha keras biar suara nggak kedengeran gemeter.

​"Eh, Dion! Pinjem bentar ya si Jeki. Sorry nih, agak kotor gara-gara tadi gue ajak main di tanah," kata Oniel sambil tangannya masih sibuk mengelus bulu kucing itu.

Gue ikut jongkok, pura-pura ikut ngelus. ​"Santai aja kali. Emang hobinya dia mah ngacak-ngacak pasir. Udah bakat dari lahir kayaknya," sahut gue.

​Seketika tawa kecil lepas dari bibir Oniel. "Siapa tahu kan dia lagi nyari harta karun terpendam di sini."

​Gue cuma bisa ikut nyengir kuda. "Ya kalo yang ditemuin cuma tulang ayam sisa kemarin, jangan salahin gue ya."

Obrolan cukup mengalir, Saking ngalirnya, gue sempet kepikiran buat ngajak dia, jajan bakso. Bukan ngajak nikah. Serius, belum segitunya.

Dia nyender ke bangku taman. “Btw, Detective Conan lo masih boleh pinjam lagi, nggak? Masih ada?”

Logika seolah memberikan sinyal darurat. Ini adalah peluang yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.

​"Oh, masih ada kok!" jawab gue dengan nada yang sedikit terlalu tinggi karena saking semangatnya. "Paling cover-nya aja udah agak ngelupas, maklum koleksi lama. Tapi dalemnya masih aman banget. Mau gue ambilin sekarang?"

​"Mau banget dong!" Matanya nampak berbinar penuh antusias. Tatapan itu selalu sukses membuat pertahanan diri terasa goyah.

Tanpa membuang waktu, kaki segera melangkah lebar menuju rumah. Jeki ikut berlari mengekor di belakang, seolah menganggap gerakan terburu-buru ini adalah pertanda waktu makan malam telah tiba.

​Setibanya di rumah, rak buku langsung menjadi sasaran penggeledahan hingga komik yang dimaksud berhasil ditemukan. Kembali ke taman, tangan gue masih terasa sedikit bergetar saat menyodorkan buku usang tersebut dengan gestur yang diusahakan sekeren mungkin.

​"Nih, spesial buat lo," kata gue sok asik.

​Oniel menerima komik itu, memperhatikan sampulnya sejenak, lalu tertawa kecil. "Wah, ini edisi jadul banget ternyata. Makasih banyak ya, Ion."

​"Sama-sama," balas gue singkat.

​Namun, di balik momen manis yang baru saja tercipta, ada sebuah detail kecil yang luput dari pengawasan. Di sanalah, sebuah kesalahan fatal sedang mulai menunjukkan wujudnya.

 

Malam itu, gue rebahan di kasur sambil senyum-senyum ga jelas. bukan disebabkan jadwal ulangan mendadak ditunda atau mendapat keberuntungan finansial yang enggak terduga. Semua itu murni sisa dari obrolan singkat bersama Oniel sore tadi.

​Ada sesuatu yang terasa beda dari sikapnya kali ini. Cara dia bicara dan intensitas tatapannya terasa jauh lebih dalam dari biasanya. Entah itu hanya sekadar sisa pemikiran gue yang terlalu kepedean atau bukan, namun yang pasti, perasaan ini sudah cukup membuat hati merasa tenang.

​Pandangan gue tertuju pada sudut langit-langit kamar yang tampak sedikit retak. Untuk pertama kalinya, retakan itu terlihat menyerupai simbol hati. Sebuah pemandangan yang mendadak terasa sangat romantis di mata yang sedang kasmaran.

​Namun, saat lamunan sedang berada di puncaknya, sebuah ingatan mendadak muncul dan memicu kepanikan.

​"Kertas itu," gumam gue pelan.

​Seketika tubuh terduduk tegak. Pikiran mendadak kacau, seolah mesin di dalam kepala sedang mengalami gangguan teknis yang parah.

​Komik yang tadi dipinjamkan kepada Oniel.

​Di dalamnya terselip sebuah benda yang seharusnya tidak ada di sana.

​Selembar kertas kecil dengan lipatan yang sangat rapi di halaman tertentu. Isinya adalah surat cinta hasil guratan tangan sendiri. Kalimat-kalimat di dalamnya disusun dengan gaya bahasa yang sangat metafora, penuh dengan rangkaian kata puitis ala remaja yang baru saja mengenal karya sastra. Dahulu, surat itu dibuat hanya sebagai pelampiasan rasa tanpa ada niat sedikit pun untuk benar-benar mengirimkannya. Gue mengira kertas itu sudah lama hilang atau terselip di tumpukan buku yang lain.

​Dan sekarang, benda itu sudah berpindah tangan ke Oniel.

​Tubuh kembali jatuh terhempas ke kasur sambil memegang kepala. Denyut jantung terasa berdegup jauh lebih kencang dari biasanya.

​"Duh, gue nulis apaan aja ya di situ?" kata gue sambil garuk-garuk kepala, berusaha keras mengingat tiap baris kalimat yang memalukan itu.

Aplikasi pesan singkat dibuka dengan jempol yang terasa kaku saat berusaha menyusun rangkaian kata di atas layar ponsel yang cahayanya terasa menyilaukan.

​"Niel, sori banget. Di dalem komik itu kayaknya ada kertas nyelip. Itu iseng-iseng doang kok. Bisa gue ambil lagi nggak besok pagi?"

​Pesan terkirim. Centang dua muncul di pojok bawah gelembung percakapan, namun tak kunjung berubah menjadi biru.

​Waktu seolah berjalan melambat. Menit demi menit berlalu tanpa ada tanda-tanda balasan, membuat suasana kamar yang sunyi terasa makin mencekam. Tidak ada respon sama sekali.

​Dalam kondisi mental yang sudah berada di ambang kehancuran, aplikasi YouTube menjadi pelarian terakhir. Kolom pencarian diisi dengan kalimat putus asa, Cara menghilang tanpa jejak.

​Hasilnya cukup bervariasi. Video pertama menyarankan untuk pergi menggunakan kapal ke pulau terpencil. Video kedua memberikan opsi untuk masuk ke dalam hutan dan hidup bersama gorila. Sementara video ketiga menawarkan tutorial pura-pura mengalami amnesia permanen.

​Pada akhirnya, semua riset kilat itu bermuara pada satu kesimpulan, rasa malu ini sudah tidak tertolong. Ini adalah level kecemasan yang membuat rencana pindah ke planet lain terdengar seperti ide yang sangat masuk akal.

​Tubuh kembali dihempaskan ke kasur. Berbagai skenario buruk mulai menari-nari di dalam kepala.

​"Kalo dia udah baca terus nganggep gue aneh gimana ya?" gumam gue penuh kecemasan. "Atau jangan-jangan suratnya difoto terus disebar di grup keluarga dia? Terus dijadiin status WhatsApp pake tulisan: 'Pede bener nih orang". Kelar idup gue.

​Gue terus berguling-guling di atas kasur, persis seperti ikan asin yang sedang digoreng. Jeki, yang biasanya tidur tenang di ujung kaki, mendadak beranjak pergi menuju kursi di pojok kamar. Sepertinya kucing itu pun merasa muak dengan aura kegalauan yang mulai memenuhi ruangan.

​Tiap kali mata mencoba untuk terpejam, bayangan yang muncul selalu sama, Oniel. Dia sedang duduk santai di ruang tamu, memegang surat cinta itu lebar-lebar, membacanya bersama nyokapnya sambil menikmati camilan kacang rebus. Tamat sudah riwayat asmara gue sepertinya memang harus berakhir dengan cara yang sangat tragis malam ini.

 

Pagi buta gue sudah berdiri di depan rumahnya. Langkah kaki terasa berat. Napas tidak beraturan, seolah baru saja menyelesaikan lari maraton lima putaran, padahal jarak dari pagar ke pintu depan tidak sampai lima meter.

Gue angkat tangan mau ngetuk... batal.
Tarik napas, coba lagi... batal lagi.
​"Udahlah, Ion. Cowok harus berani. Urusan malu belakangan, yang penting itu surat aman," bisik gue menyemangati diri sendiri yang sebenarnya sudah hampir pingsan di tempat.

​Dengan sisa keberanian yang ada, ketukan pelan mendarat di daun pintu sebanyak dua kali. Di saat yang sama, detak jantung berdegup kencang, persis suara genderang marching band yang sedang melakukan parade.

​Tidak lama kemudian, pintu terbuka. Oniel muncul dengan tampilan wajah bangun tidur yang masih polos. Rambutnya nampak sedikit berantakan dan matanya masih menyipit karena kantuk, namun anehnya, pemandangan itu justru membuatnya terlihat jauh lebih manis. Seketika sukses membuat tingkat kegugupan gue melonjak drastis.

​Dia menatap gue sambil memberikan senyum tipis. "Pagi-pagi banget, Ion. Ada apaan nih?"

​Gue berusaha menjaga nada bicara agar tetap stabil, meskipun telapak tangan sudah basah karena keringat dingin. "Ehm, Niel. Mau ambil komik yang kemarin. Maksud gue, itu, kertas yang ada di dalemnya."

​"Kertas yang mana ya?" tanyanya dengan tatapan yang seolah mencoba menyelami maksud kedatangan gue yang mendadak ini.

​"Kertas kecil yang diselipin. Belum sempet lo buka, kan?" tanya gue memastikan dengan nada penuh harap.

​Oniel sempat menoleh ke arah dalam rumah sejenak. "Oh, iya. Tunggu bentar ya."

​Durasi lima detik saat dia menghilang di balik pintu terasa seperti penantian selama lima abad. Bahkan pengalaman saat kepergok menyontek oleh guru di sekolah pun tidak pernah memicu kepanikan sedahsyat ini.

​Ketika kembali, dia sudah membawa komik tersebut di tangannya. "Nih," katanya sambil menyodorkan buku itu. "Belum gue baca kok."

​Gue segera menyambar komik tersebut dengan gerakan cepat. Begitu diperiksa, kertas kecil itu masih berada di posisi semula, masih terlipat rapi dan tampak belum tersentuh.

​"Sentimental banget kayaknya ya? Isinya puisi?" goda Oniel, seolah sedang menguji tingkat kejujuran gue pagi itu.

​"Bukan, sumpah!" jawab gue cepat-cepat memotong kalimatnya. "Cuma coretan nggak jelas doang kok, beneran nggak penting."

​Oniel kemudian menyandarkan bahunya ke kusen pintu. Tatapannya masih tertuju lurus ke arah gue, sementara senyum tipisnya membuat rongga dada terasa makin sesak.

​"Hmm, oke deh. Kalo emang lo bilang nggak penting, ya udah," sahutnya pelan.

​Kesempatan itu langsung gue gunakan untuk segera melarikan diri dari situasi yang semakin canggung. "Oke, gue balik dulu ya. Makasih banyak waktunya, Niel."

​Saat melangkah pergi meninggalkan teras rumahnya, ada sebuah kesadaran yang muncul di benak. Oniel masih berdiri diam di sana sambil terus melempar senyum. Namun, itu bukanlah sekadar senyum ramah biasa yang gue lihat. Ada sesuatu di balik sorot matanya yang membuat gue sangat yakin bahwa dia sebenarnya sudah tahu apa isi kertas itu.

Tapi milih pura-pura nggak tahu.

Ini adalah suratnya.

Langkah kaki otomatis berbelok saat di jalan dari balik sekolah. Bukannya mengarah ke rumah, gue malah mengambil rute yang berlawanan. Rasanya belum siap kalau harus berpapasan dengan Oniel yang biasanya sedang asik duduk di teras rumahnya, entah sambil main ponsel atau sekadar melamun. Kalau dia tiba-tiba memanggil dan membahas soal kertas itu, rasanya harga diri ini bakal langsung merosot tajam.

​Pilihan terakhir jatuh pada warung kopi di depan gang. Sebuah tempat persembunyian yang ideal. Segelas es teh manis dipesan untuk mendinginkan kepala yang sudah terasa panas, lalu gue mengambil posisi di pojokan yang paling minim cahaya.

​Embun mulai menutupi permukaan gelas, suasana yang sangat menggambarkan kondisi pikiran yang sedang buram.

​"Dia beneran belum baca, atau sengaja pura-pura biar gue nggak malu ya?" Pertanyaan itu terus berputar di dalam kepala tanpa ada jawaban yang pasti.

​Secara refleks, jempol membuka aplikasi catatan di ponsel. Layar digeser perlahan menuju folder berisi draf-draf lama yang tidak pernah punya nyali untuk dikirimkan. Isinya tidak jauh-jauh dari segala hal tentang Oniel.

​Mulai dari cara dia tersenyum yang terasa candu meski terkadang menyebalkan, hingga tatapan singkat yang sebenarnya tidak bermakna apa-apa tapi selalu berhasil menetap lama di ingatan. Perasaan absurd yang sampai saat ini gue sendiri bingung harus memberi nama apa.

​Dulu, semua itu hanya sekadar barisan kalimat di layar ponsel.

​Namun sekarang, situasinya sudah sangat berbeda.

​Tulisan itu sudah menjelma menjadi selembar kertas yang pernah berpindah tangan ke dia. Mungkin saja saat ini kertas itu sudah selesai dibaca. Gue sama sekali tidak tahu apakah dia sedang tersenyum tipis, merasa terharu, atau justru tertawa terbahak-bahak melihat penggunaan metafora norak yang gue buat dulu.

​"Hujan sore dan detak jantung yang tidak sinkron." Kalimat itu terasa sangat memalukan jika diingat kembali sekarang.

​Sisa es teh manis yang sudah hambar diteguk sampai habis. Kondisi rasanya sangat mewakili suasana hati yang sedang tidak menentu. Matahari perlahan mulai tenggelam, menyisakan warna jingga yang samar di langit. Sayup-sayup suara azan magrib mulai terdengar dari kejauhan.

​Gue menarik napas panjang untuk mengumpulkan sisa keberanian. Rasanya tidak mungkin terus-terusan bersembunyi di sini seperti orang yang sedang masuk daftar pencarian orang.

​Yaudahlah. Pulang aja.

Minggu siang itu, tubuh hanya tergeletak tidak berdaya di atas kasur. Kamar terasa sunyi sampai sebuah suara ketukan pelan terdengar dari arah jendela samping.

​Saat menoleh, Oniel sudah berdiri di sana.

​Tangan kirinya menjinjing kantong plastik berisi dua botol minuman dingin yang permukaannya sudah berembun. Sementara itu, tangan kanannya masih mengetuk kaca jendela dengan ekspresi wajah yang sangat lempeng, seolah kedatangannya lewat jendela adalah hal yang lumrah dilakukan setiap hari.

​Gue membuka jendela sedikit dengan perasaan yang masih diliputi kebingungan. "Eh? Ngapain lo di situ, Niel?"

​"Ngasih ini," jawabnya singkat sambil menyodorkan satu botol minuman. "Sama mau nanya satu hal sih."

​Gue menerima botol dingin itu dengan tangan yang mulai bergetar halus. "Nanya apaan?" tanya gue pelan.

​Dia mengangkat bahu dengan gestur santai. "Cuma penasaran aja. Kalo emang itu cuma coretan iseng, kenapa harus ditulis di kertas surat segala?"

​Pandangannya melirik ke arah meja di belakang gue, tepat ke posisi kertas yang menjadi sumber masalah selama beberapa hari terakhir. "Terus, kenapa gaya tulisannya kayak lo lagi curhat serius ke seseorang?"

​Refleks, gue langsung berdiri dan berniat menutup jendela secepat mungkin. Namun, Oniel dengan sigap menahannya menggunakan tangan.

​"Tenang aja, gue nggak marah kok," katanya dengan nada suara yang melunak. "Gue cuma mau bilang satu hal."

​Dia terdiam sejenak, menciptakan jeda yang membuat suasana makin tegang. Lalu, dia melanjutkan dengan kalimat yang terdengar sangat jelas di telinga.

​"Sebenernya gue udah baca."

​Gue menelan ludah dengan susah payah. Jantung kembali berdegup kencang tanpa aturan. Selama beberapa detik, mulut ini terasa terkunci rapat dan tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.

​"Lo... marah?" tanya gue pada akhirnya.

​"Enggak."

​"Ilfeel?"

​Dia hanya tersenyum kecil. "Enggak juga."

​"Terus, kenapa lo malah bohong pas gue tanya kemarin?"

​Oniel semakin menyandarkan tubuhnya dan menopang dagu di ambang jendela. "Ya karena gue lagi nunggu lo sendiri yang ngomong langsung ke gue."

​Gue segera memalingkan wajah, berusaha menghindari kontak mata yang terasa mengintimidasi itu. "Nggak penting, Niel. Gue nulis itu cuma buat iseng doang sebenernya."

​"Nggak penting buat lo, tapi penting buat gue," potongnya dengan sangat cepat.

​"Gue suka baca tulisan kayak gitu. Apalagi kalo yang nulis orangnya lagi ada di depan gue sekarang," lanjutnya sambil melirik ke arah gue.

​Seketika itu juga lutut rasanya kehilangan tenaga, benar-benar lemas.

​Ion," panggilnya lagi dengan suara pelan. "Besok pagi, lo tulis surat yang bener ya. Bukan cuma sekadar coretan iseng lagi."

​Gue menoleh dengan ekspresi kaget yang tidak bisa disembunyikan. "Buat apaan?"

​Dia terdiam sebentar, lalu menyeringai tipis. "Biar gue bisa bacanya sambil nyiapin surat balasan buat lo."






© 2025 by Agi Dione | All rights reserved.