Ticker

6/recent/ticker-posts

Coretan yang Terselip


Coretan yang Terselip

Bab 1: Komik, Kucing, dan Kesempatan

Sore itu, taman di ujung kompleks terasa begitu sunyi. Hanya terdengar desiran daun kering yang terbawa angin, berpadu dengan aroma tanah basah sisa hujan siang tadi. Suasana tersebut perlahan memberikan sedikit ketenangan setelah kepala gue seharian dipenuhi rumus serta soal matematika.

​Berjalan kaki menjadi satu-satunya pilihan hari ini. Kendaraan masih terparkir di bengkel, sementara isi dompet cuma menyisakan beberapa struk belanja dengan tinta yang nyaris luntur. Ketika melewati area hijau ini, langkah gue melambat dengan sendirinya saat pandangan tertuju pada satu titik.

​Atau lebih tepatnya, pada satu orang.

​Oniel.

​Dia lagi main sama Jeki. Kucing gue yang lebih sering dikira keset berjalan daripada makhluk hidup. Hewan oportunis itu juga nggak pernah betah kalau gue elus. Sekarang, dia malah pasrah guling-guling di depan Oniel.

​Gue menarik napas pelan, berusaha menata raut wajah supaya nggak kelihatan seperti orang grogi. Lalu melangkah mendekati.

​​"Jeki bisa anteng gitu ya sama lo. Padahal kalau sama gue bawaannya mau kabur terus tuh."

​Oniel menoleh sebentar, tangannya masih sibuk menggaruk dagu Jeki. "Eh, Dion. Kaget gue. Sorry ya, kucing lo jadi belepotan tanah begini."

​Gue ikut jongkok di sebelahnya, terus nepuk punggung Jeki yang sama sekali nggak peduli sama majikan aslinya. "Halah santai aja lah. Emang kelakuannya begitu, doyan main tanah."

Oniel menggeser posisi duduknya sedikit untuk memberi ruang. "Ya siapa tahu dia lagi nyari harta karun terpendam di situ."

​Gue ikut tersenyum. “Nanti kalau yang ketemu cuma tulang ayam sisa kemarin, jangan komplen ya. Rejeki dia emang cuma segitu."

​Melihat dia tertawa, rasanya beban rumus kalkulus di kepala langsung menguap begitu saja. Percakapan ini berjalan lumayan lancar, jauh dari bayangan gue yang tadinya sempat panik bakal kehabisan kata-kata. Langsung kepikiran buat ngajak dia jajan bakso di depan kompleks.

​Tenang, cuma ngajak makan bakso. Belum ada niat sampai ngajak ke pelaminan.

Oniel kemudian bersandar di bangku kayu sambil memperhatikan Jeki yang mulai kehilangan minat bermain dan malah sibuk mengejar kupu-kupu.

​​"Btw, Detective Conan lo masih boleh gue pinjem lagi nggak? Masih ada kan?"

​Pertanyaan itu terdengar seperti angin segar di tengah sore yang sepi ini. Kesempatan emas buat bikin dia makin sering mampir atau minimal ngechat duluan.

​​"Masih ada kok. Paling sampulnya aja agak ngelupas dikit soalnya koleksi lama, tapi dalemnya mah utuh. Mau? Gue ambil dulu nih ke rumah," kata gue siap-siap berdiri.

​"Mau banget lah! Gue lagi pengin maraton baca dari jilid awal lagi nih," sahutnya dengan mata berbinar.

​Melihat semangat di wajahnya, gue langsung bergerak cepat. Gue melangkah setengah lari meninggalkan area hijau itu. Jeki yang sadar malah ikut melesat di belakang, mungkin dikira ini instruksi jam makan sore.

​Begitu sampai di rumah, gue langsung ngobrak-ngabrik susunan komik di sudut meja belajar sampai debunya berterbangan. Buku yang dicari akhirnya ketemu di bagian paling bawah.

​Gue kembali ke taman dengan napas sedikit ngos-ngosan. Gue menyodorkan komik itu sambil berusaha tetap terlihat santai.

​"Nih, mumpung belum gue obral ke tukang rongsok. Jaga baik-baik ya."

​Oniel menerima komik tersebut lalu mengusap sampulnya yang agak kusam. "Wah, ini beneran edisi jadul banget. Tapi masih bagus begini. Makasih banyak ya, Dion."

​​​"Santai. Kalau lo mau judul lain tinggal bilang aja, di rumah masih numpuk," balesan gue sukses bikin dia senyum manis.

​Dia mengangguk pelan sambil sibuk membolak-balik halaman depan.

​Cuma masalahnya, di tengah rasa seneng itu, ada satu hal krusial yang lupa gue cek.

​​Satu kecerobohan konyol yang bakal bikin gue kelabakan sendiri pas sadar nanti.



Bab 2: Surat yang Tertinggal

Malam itu, gue rebahan di kasur sambil mesem-mesem sendiri. Bukan dapat kabar guru matematika tiba-tiba besok absen atau nemu uang lima puluh ribu di saku celana jeans. Semua ini murni akibat interaksi singkat sama Oniel sore tadi.

​Ada yang beda dari tatapan dia tadi. Kerasa lebih lama dari biasanya. Entah dia emang ada rasa, atau gue aja yang kelewat pede. Yang jelas, bayangan itu sukses bikin gue senyum-senyum sendiri.

​Gue menatap sudut langit-langit kamar yang catnya mulai mengelupas. Lucunya, bentuk kupasan cat itu malah kelihatan mirip bentuk hati. Begitulah orang kalau lagi dimabuk asmara, hal random di langit-langit rumah pun mendadak kelihatan romantis.

​Imajinasi indah itu mendadak buyar saat sebuah memori kelam melintas di kepala.

​"Tunggu... kertas selipan itu," gumam gue pelan.

​Gue mendadak duduk tegak. Rasa adem yang tadi memenuhi dada langsung berubah jadi sensasi dingin yang menjalar sampai ke ujung kaki.

​Komik yang tadi gue kasih ke Oniel.

​Ada benda berbahaya yang harusnya nggak boleh ikut terbawa.

​Selembar kertas lipat ukuran kecil terselip rapi di antara halaman tengah. Isinya surat ungkapan perasaan yang gue tulis pas awal SMA. Kalimatnya penuh susunan kata mendayu-dayu yang lebaynya bikin geli, tipikal tulisan bocah yang baru merasa dirinya paling puitis se-kecamatan.

​Benda keramat yang gue pikir udah lenyap dari muka bumi ternyata masih tersimpan manis di situ.

​Tragisnya, orang yang gue taksir itu yang sekarang lagi megang komiknya.

​Gue kembali nutupin muka pakai bantal. Ingatan soal isi tulisan di kertas itu mulai bermunculan satu per satu.

​"Aduh, gue nulis apaan aja di situ?" ringis gue sambil mengacak-acak rambut. "Kalau sampai dibaca, mau ditaruh di mana muka gue besok?"

​Gue berusaha mengingat setiap baris kata yang pernah terukir di sana. Makin keras gue mengingatnya, makin hebat pula rasa cemas yang bikin gue nggak bisa tidur semalaman.

___

Gue langsung buka WhatsApp. Jempol gue agak gemeter pas ngetik di layar yang nyenterin muka di kamar gelap ini.

​Setelah gue baca ulang berkali-kali, akhirnya gue keberanian buat pencet kirim.

​"Niel, sori mengganggu malem-malem. Di dalem komik tadi ada kertas nyelip gak ya? Itu cuma orat-oretan iseng doang. Besok gue minta balik ya, jangan dibaca wkwk."

​Pesan terkirim. Tanda centang dua langsung muncul di bawah balon teks, tapi warnanya nggak kunjung berubah jadi biru.

​Gue menunggu dengan napas tertahan.

​Satu menit lewat. Dua menit berlalu. Tetap nggak ada pergerakan sama sekali.

​Ruangan yang tadinya sepi perlahan makin terasa menyesakkan. Gue melirik layar ponsel berulang kali, berharap ada tanda-tanda balasan yang masuk. Nihil.

​​Karena makin panik dan gak tahu harus ngapain, gue malah buka YouTube sebagai pelarian. Kolom pencarian langsung gue isi kata kunci yang sangat menggambarkan kondisi malam ini.

​"Cara menghilang tanpa jejak dari peradaban."

​Hasil yang keluar lumayan bervariasi. Video pertama menyarankan kabur naik kapal kargo ke pulau terpencil. Video kedua membahas panduan hidup berdampingan bareng kawanan gorila di hutan rimba. Sementara video ketiga malah menyediakan tutorial pura-pura kena amnesia.

​Gue memandangi HP sebentar sebelum menarik kesimpulan pahit.

​Rasa malu malam ini sudah mencapai titik tertinggi. Bahkan opsi pindah kewarganegaraan ke Planet Mars mulai kelihatan realistis dibanding nggak harus ketemu dia besok.

​Gue berguling ke kanan kiri. Posisi bantal sampai berantakan nggak karuan. Jeki yang tadinya pulas di ujung kasur sampai terbangun, memilih bangkit dan berjalan pelan menuju kursi kayu di sudut ruangan.

​Gue melirik ke arahnya.

​"Kenapa, lo merasa ilfeel kan sama pemilik lo sendiri?"

​Kucing itu tentu saja nggak membalas. Dia cuma kembali meringkuk nggak peduli.

​Gue menarik kain selimut sampai menutup seluruh kepala.

​Sepertinya kisah cinta gue memang ditakdirkan berakhir tragis malam ini.

​Dan kalaupun harus karam, jalannya memang harus seabsurd ini.

 

Bab 3: Surat yang Belum Terbaca

Pagi-pagi banget gue udah berdiri di depan rumah Oniel. Langkah terasa berat, sementara napas gue nggak beraturan, seolah baru saja menyelesaikan lari lima putaran GBK. Padahal, jarak dari pagar sampai pintu depan bahkan nggak sampai empat meter.

​Tangan gue udah ngambang di udara mau ngetok, tapi batal lagi.

​Tarik napas.

​Coba lagi.

​Batal lagi.

​"Malu belakangan dah, yang penting itu kertas balik dulu," bisik gue ke diri sendiri.

​Setelah ngumpulin sisa keberanian, jemari gue akhirnya ngetok pintu. Dua ketukan halus bergema, disusul detak jantung yang langsung makin kencang.

​Nggak lama kemudian, grendel pintu bergeser. Pintu perlahan terbuka.

​Oniel muncul dengan muka masih bantal. Rambutnya agak berantakan, matanya menyipit akibat dipaksa melek. Anehnya, penampilan baru bangun tidur gitu malah bikin dia kelihatan makin manis. Rasa panik yang dari tadi gue tahan malah makin melonjak.

​Dia memandang gue heran sambil mengusap matanya, lalu melepas pertanyaan dengan suara serak khas bangun tidur.

​"Pagi-pagi amat, Ion. Ada apa jam segini udah berdiri di depan rumah?"

​Gue menelan ludah, memikirkan cara agar mengeluarkan suara senormal mungkin tanpa terdengar ada sedikitpun kegugupan. 

​"Ehm, gue mau minta balik komik yang kemarin. Eh maksud gue, bukan bukunya. Tapi kertas lipat yang terselip di dalam."

​​Oniel berkerut. "Kertas yang mana? Yang semalem lo chat itu?"

​"Iya, yang ukurannya kecil. Belum sempet lo baca kan?" tanya gue memastikan, berharap keajaiban masih ada.

​Oniel sempet nengok ke arah ruang tengah sebentar, terus ngeliatin gue lagi.

​"Oh, itu. Tunggu sebentar ya, gue ambilin dulu."

​Dia berbalik lalu berjalan santai ke dalam rumah.

Beberapa saat kemudian, Oniel kembali sambil membawa komik tersebut. Dia menyodorkannya ke arah gue.

​"Nih. Coba lo cek sendiri, masih ada nggak di dalam."

​Gue langsung nyambar komik itu, terus buru-buru buka halaman tengah. Pas liat lipatan kertasnya masih ada di posisi semula, rasanya beban di dada langsung diangkat. Gue menghela napas lega.

​Oniel ngeliatin gue sambil senyum penuh selidik.

​"Serius banget. Jangan-jangan puisi cinta zaman purba ya?"

​"Kagak, sumpah!" bales gue cepet. "Cuma orat-oretan iseng, gue lupa pernah nyelipin di situ. Gak penting sama sekali."

​Oniel menyandarkan bahunya di kusen pintu. Senyum tipis mengembang di bibirnya yang masih agak pucat.

​"Hmm, oke deh. Kalau lo bilang nggak penting, ya udah. Gue juga gak kepo-kepo amat."

​Ucapan itu harusnya bikin pikiran gue makin tenang. Tapi anehnya, intonasi santai yang dia pakai malah bikin gue gak nyaman.

​Gue memutuskan buat nggak memperpanjang interaksi konyol ini sebelum pertahanan gue makin runtuh.

​"Oke, gue balik dulu ya. Sori banget Niel pagi-pagi udah mengganggu ketenangan rumah lo."

​"Iya, santai aja. Hati-hati di jalan, Ion."

​Gue berbalik arah dan melangkah meninggalkan teras rumahnya. Baru berjalan sekitar tiga meter, dorongan di kepala bikin gue sempat menoleh ke belakang.

​Oniel ternyata masih nyender di pintu.

​Dia senyum tipis sambil terus ngeliatin langkah gue yang makin menjauh.

​Saat itu juga, firasat jelek mendadak muncul di kepala gue. Cara dia senyum barusan kayak menyimpan sesuatu.

​Gue curiga, Oniel sebenernya udah selesai baca isi surat itu semalem.

​Dia cuma lagi pura-pura gak tahu aja.

Ini adalah suratnya.


Bab 4: Bersembunyi di Warung Kopi

Hari itu setelah balik sekolah, langkah kaki gue otomatis berbelok pas di persimpangan jalan pulang. Alih-alih mengarah ke rumah, gue malah mengambil rute sebaliknya. Rasanya belum siap mental kalau harus berpapasan sama Oniel yang biasanya duduk santai di teras.

​Kalau tiba-tiba dia memanggil nama gue terus mendadak membahas soal kertas itu, harga diri gue rasanya bakal runtuh. 

​Akhirnya, gue memilih warung kopi di mulut gang sebagai tempat pelarian sementara. Gue memesan segelas es teh manis, lalu menyudut di pojokan yang jauh dari lalu lalang orang.

​Embun perlahan memenuhi permukaan gelas plastik di meja. Pas banget menggambarkan isi kepala gue yang masih dipenuhi deretan pertanyaan konyol.

​"Dia beneran belum baca, atau pura-pura gak tahu biar gue gak malu?" gumam gue pelan. "Tapi kalau udah baca, kok mukanya lempeng banget? Atau gue aja yang overthinking?"

​Nggak ada jawaban pasti yang bisa memuaskan rasa penasaran ini.

​Secara refleks, jempol gue membuka aplikasi catatan di ponsel. Layar terus gue usap ke bawah sampai menemukan folder berisi draf tulisan lama yang nggak pernah dikirim.

​Hampir semuanya membahas tentang Oniel.

​Ada catatan soal gaya tersenyumnya yang entah kenapa nagih meskipun kadang bikin jengkel. Ada juga paragraf puitis tentang tatapan singkat yang mungkin baginya nggak bermakna apa-apa, tapi sukses gue ingat lebih lama dibanding pelajaran sejarah.

​Perasaan absurd ini sudah lama bercokol di dada, cuma sampai detik ini gue sendiri masih bingung harus memberi label apa.

​Dulu, semua itu cuma barisan teks aman di layar ponsel. Gue bebas mengetik hal sesuka hati tanpa perlu pusing memikirkan respons dari subjek utamanya.

​Sekarang kondisinya sudah beda total.

​Coretan yang tadinya terkunci rapi di draf sempat berpindah tangan ke Oniel semalaman. Gue nggak bisa membayangkan ekspresi wajahnya kalau memang sudah sempat membacanya.

​Mungkin dia cuma tersenyum tipis. Atau yang paling tragis, dia malah tertawa terbahak-bahak membaca metafora norak yang gue racik waktu itu.

​Gue menatap satu baris teks yang terpampang di layar.

​"Hujan sore dan detak jantung yang tidak sinkron."

​Najis.

​Gue langsung meringis geli sendiri.

​"Sumpah, dulu otak gue kemasukan setan apa bisa nulis ginian?" bisik gue sambil nepok jidat. "Gue yang nulis aja geli, apalagi Oniel pas ngebaca."

​Es teh di meja udah mencair semua, rasanya tawar. Gue sruput sisa es teh itu sampai habis.

​Langit udah makin gelap, suara azan Magrib juga udah mulai kedengeran dari masjid.

​Gue menghembuskan napas panjang.

​Gak mungkin juga gue nongkrong di warkop terus kayak buronan.

​"Udahlah, pulang aja. Nanti kalau papasan sama Oniel, paling gue cuma perlu lempar senyum kaku. Nggak usah sok ide bikin sidang klarifikasi segala."

​Setelah merasa sedikit lebih tenang, gue beranjak dari kursi dan mulai melangkah meninggalkan warung.

​Mau seburuk apa pun skenario di depan nanti, gue tetap harus pulang ke rumah.

Bab 5: Surat Balasan

Minggu siang itu, gue cuma terbaring di atas kasur tanpa melakukan apa-apa. Kamar terasa sunyi sampai terdengar ketukan pelan dari arah jendela samping.

​Gue menoleh.

​Oniel sudah berdiri di balik kaca.

​Tangan kirinya membawa kantong plastik berisi dua botol minuman dingin yang permukaannya dipenuhi embun. Tangan kanannya masih sibuk mengetuk, sementara wajahnya santai banget, seolah bertamu lewat jendela kamar orang sudah jadi rutinitas tiap akhir pekan.

​Gue segera bangkit dan menggeser engsel jendela.

​"Eh? Lo ngapain di situ, Niel? Kenapa nggak lewat pintu depan aja?"

​Oniel mengangkat kantong plastik di tangannya. "Gue bawain minum. Sekalian mau nanya sesuatu. Boleh gobrolnya dari sini aja?"

​Gue menerima salah satu botol dingin yang disodorkannya. Usapan es di permukaannya justru bikin telapak tangan gue makin gemetaran.

​"Ya ngobrol aja. Lo mau nanya apa?"

​Oniel memutar tutup botol minumannya sebelum menjawab.

​"Gue masih penasaran sama kertas yang kemarin. Kalau memang cuma coretan iseng, kenapa lo sampai nulisnya di kertas terus dilipat rapi kayak surat?"

​Perasaan gue langsung nggak enak.

​Oniel melanjutkan pertanyaannya tanpa ada beban sama sekali.

​"Terus, kenapa isinya juga kayak orang yang lagi serius banget curhat ke seseorang?"

​Mendengar pengakuannya, refleks gue langsung mendorong daun jendela buat menutupnya rapat-rapat. Tapi sebelum kaca itu tertutup, tangan Oniel lebih dulu menahannya.

​"Eh, santai. Gue datang bukan mau melabrak lo," katanya. "Gue cuma pengen ngomong sesuatu."

​Gerakan gue terhenti seketika. "Apaan?"

​Oniel terdiam sebentar. Sorot matanya berubah lebih dalam dari biasanya sebelum akhirnya meluncurkan kalimat yang paling gue takuti.

​"Sebenarnya gue sudah baca surat itu dari semalam."

​Gue mendadak membisu.

​Tenggorokan rasanya kering kerontang dan detak dada melaju jauh lebih cepat dari batas normal. Selama beberapa detik, pikiran gue benar-benar buntu.

​Setelah memaksakan diri buat menguasai keadaan, gue akhirnya bertanya pelan.

​"Lo... marah?"

​Oniel menggeleng pelan. "Nggak. Gue nggak marah sama sekali."

​"Terus lo ilfeel?"

​"Nggak juga. Kalau gue ilfeel, gue nggak bakal sudi melangkah ke sini sambil bawa minuman dingin."

​Jawabannya bikin gue tertegun sejenak. Tapi rasa janggal di kepala masih belum hilang.

​"Kalau gitu, kenapa waktu gue datang kemarin lo bilang belum baca?"

​Oniel menyandarkan dagunya di ambang kayu jendela.

​"Soalnya gue pengen lihat lo bakal jujur sendiri atau nggak. Gue penasaran lo bakal terus mengelak kalau itu cuma orat-oret biasa atau akhirnya berani ngaku kalau tulisan itu memang ada maknanya."

​Gue segera membuang pandangan ke arah lain. Melihat tembok kamar yang retak rasanya jauh lebih aman dibanding harus menatap matanya langsung.

​"Nggak penting, Niel. Gue nulis itu dulu cuma buat pelampiasan iseng. Lagi pengen asal coret aja, terus kebetulan melintas hal-hal begitu di kepala."

​Oniel langsung memotong sebelum alasan konyol gue makin panjang.

​"Kalau menurut lo nggak penting, buat gue justru penting."

​Gue kembali menoleh ke arahnya.

​Oniel melanjutkan ucapannya dengan intonasi yang lumayan santai.

​"Gue suka membaca tulisan puitis kayak gitu. Apalagi kalau penulisnya ternyata cowok penakut yang lagi berdiri di depan gue sekarang. Jadi, menurut gue, kertas itu nggak seburuk yang lo bayangkan."

​Gue nggak bisa langsung membalas. Tungkai kaki rasanya lemas cuma gara-gara mendengar susunan kata sesederhana itu.

​Oniel kemudian memanggil nama gue dengan nada pelan.

​"Dion."

​Gue menatapnya.

​"Besok pagi, lo tulis lagi suratnya ya. Yang benar. Jangan pakai alasan cuma coretan iseng lagi."

​Dahi gue berkerut heran mendengar permintaan absurdnya.

​"Buat apa gue nulis ulang?"

​Oniel terdiam sejenak. Senyum tipis terukir di wajahnya sebelum dia memberi jawaban pamungkas.

​"Biar gue bisa baca sambil menyiapkan surat balasan buat lo."

​Mendengar ucapan itu, rasa cemas yang menyiksa gue seharian mendadak luntur. Detik itu juga, bibir gue otomatis membentuk senyum, menyadari kalau cerita ini baru saja berbelok ke arah yang jauh lebih manis dari perkiraan.




© 2025 by Agi Dione | All rights reserved.