Ticker

6/recent/ticker-posts

Coretan yang Terselip

Coretan yang Terselip


Bab 1: Komik, Kucing, dan Kesempatan

Sore itu, taman di ujung kompleks terasa begitu sunyi. Hanya terdengar desiran daun kering yang terbawa angin, berpadu dengan aroma tanah basah sisa hujan siang tadi. Aroma tersebut perlahan memberikan sedikit ketenangan setelah kepala gue sejak tadi dipenuhi rumus dan soal matematika.

Berjalan kaki menjadi satu-satunya pilihan hari ini. Motor masih terparkir di bengkel, sementara isi dompet hanya menyisakan beberapa struk belanja dengan tinta yang nyaris luntur. Ketika melewati halaman taman, langkah gue melambat dengan sendirinya setelah pandangan tertuju pada satu titik.

Atau lebih tepatnya, pada satu orang.

Oniel.

Cewek yang udah tiga tahun ini, jadi alasan utama playlist galau gue nggak pernah ganti. Dia juga biang keladi caption IG gue yang selalu mendayu-dayu lebay setengah mati. Dan satu-satunya alasan gue masih betah tinggal di komplek ini, meskipun tetangga depan suka muter dangdut sampai jam tiga pagi.

Dan sore ini, dia sedang bermain bersama Jeki.

Kucing peliharaan gue yang lebih sering dikira karpet berjalan daripada makhluk hidup. Jeki adalah kucing oportunis yang bahkan nggak pernah betah dielus sama gue. Namun sekarang, hewan itu malah terlihat begitu manja di hadapan Oniel.

Gue menarik napas pelan, berusaha menjaga ekspresi agar tetap biasa saja.

Oke. Saatnya bergerak.

Gue berjalan mendekati bangku taman tempat Oniel berada. Begitu jaraknya sudah cukup dekat, gue mencoba membuka percakapan dengan nada yang terdengar senatural mungkin.

“Si Jeki anteng banget, ya, kalau sama lo. Sama gue malah kerjaannya kabur terus.”

Oniel menoleh dan langsung menyadari keberadaan gue. Tangannya masih mengelus bulu Jeki ketika ia menjawab, “Eh, Dion. Ini gue pinjem bentar, ya. Tadi gue ajak main, jadi agak kotor kena tanah.”

Gue ikut jongkok di sampingnya, lalu menyentuh punggung Jeki sekilas. “Santai aja. Emang dia hobinya ngacak-ngacak pasir. Kayaknya dari lahir udah punya bakat jadi tukang gali.”

Tawa kecil terdengar dari Oniel. Ia kembali memperhatikan Jeki yang masih sibuk bermain di dekat kakinya.

“Siapa tahu dia lagi nyari harta karun yang dikubur orang di sini.”

Gue ikut tersenyum. “Kalau yang dia temuin malah tulang ayam sisa kemarin, jangan salahin gue. Berarti hartanya memang cuma segitu.”

Oniel tertawa lagi. Obrolan sederhana itu ternyata mengalir lebih mudah dari yang gue bayangkan. Bahkan, sempat terlintas keinginan untuk mengajaknya makan bakso setelah ini.

Bukan ngajak nikah. Serius, belum sampai tahap itu.

Oniel kemudian bersandar di bangku taman sambil memperhatikan Jeki yang mulai kehilangan minat bermain.

“Btw, Detective Conan lo masih boleh gue pinjem lagi nggak? Masih ada, kan?”

Pertanyaan itu terasa seperti peluang yang nggak boleh gue sia-siakan.

“Oh, masih ada kok. Paling cover-nya aja udah agak ngelupas karena itu koleksi lama. Tapi bagian dalamnya masih aman. Kalau lo mau, gue ambilin sekarang.”

“Mau banget dong. Gue lagi pengin baca lagi dari awal.”

Semangat dalam suaranya membuat gue nggak perlu berpikir dua kali. Gue langsung berdiri dan melangkah cepat menuju rumah. Jeki ikut berlari di belakang, seolah mengira gerakan gue yang mendadak itu ada hubungannya dengan waktu makan.

Sesampainya di rumah, gue langsung menuju rak buku dan mencari komik yang dimaksud. Setelah beberapa saat membongkar susunan buku, akhirnya Detective Conan yang dicari berhasil ditemukan.

Gue kembali ke taman dengan komik itu di tangan. Setelah sampai di hadapan Oniel, gue menyodorkannya sambil berusaha memasang ekspresi santai.

“Nih. Buat lo pinjem. Jangan sampai ilang, ya. Itu udah lama banget gue simpen.”

Oniel menerima komik tersebut, lalu membolak-balik sampulnya sebentar. “Wah, ini edisi jadul banget ternyata. Masih bagus juga. Makasih banyak, Ion.”

“Santai. Kalau lo mau baca yang lain, bilang aja. Masih banyak kok di rumah.”

Oniel mengangguk sambil kembali melihat komik di tangannya.

Namun, di balik momen sederhana yang baru saja terjadi, ada satu detail kecil yang luput dari perhatian gue.

Sebuah kesalahan fatal perlahan mulai menunjukkan wujudnya.



Bab 2: Surat yang Tertinggal

Malam itu, gue rebahan di kasur sambil senyum-senyum sendiri. Bukan karena jadwal ulangan mendadak ditunda atau tiba-tiba mendapat keberuntungan finansial yang enggak terduga. Semua itu murni akibat obrolan singkat bersama Oniel sore tadi.

Ada sesuatu yang terasa berbeda dari sikapnya kali ini. Cara dia bicara dan intensitas tatapannya terasa lebih dalam dari biasanya. Entah itu memang ada maksud tertentu atau cuma perasaan gue yang terlalu kepedean, yang jelas, memikirkannya saja sudah cukup bikin hati gue tenang.

Pandangan gue kemudian tertuju pada sudut langit-langit kamar yang tampak sedikit retak. Untuk pertama kalinya, retakan itu malah terlihat seperti simbol hati. Pemandangan sederhana yang mendadak terasa romantis ketika dilihat oleh orang yang sedang kasmaran.

Lamunan itu terus berjalan sampai sebuah ingatan tiba-tiba muncul dan langsung mengubah suasana.

“Kertas itu,” gumam gue pelan ketika baru menyadarinya.

Gue segera duduk tegak. Pikiran yang tadinya santai mendadak dipenuhi kepanikan.

Komik yang tadi gue pinjamkan kepada Oniel.

Di dalamnya ada sesuatu yang seharusnya nggak ikut terbawa.

Selembar kertas kecil yang dilipat dengan sangat rapi dan terselip di halaman tertentu. Isinya adalah surat cinta yang gue tulis sendiri. Kalimat-kalimat di dalamnya penuh metafora dan rangkaian kata puitis, khas tulisan seorang remaja yang baru merasa dirinya menemukan bakat sastra.

Padahal, surat itu dulu cuma gue tulis sebagai pelampiasan perasaan. Gue sama sekali nggak pernah punya keberanian untuk memberikannya kepada siapa pun. Setelah sekian lama, gue bahkan mengira kertas tersebut sudah hilang atau terselip di antara tumpukan buku lain.

Ternyata enggak.

Kertas itu masih ada.

Dan sekarang, surat tersebut sudah berpindah tangan ke Oniel bersama komik yang tadi dia pinjam.

Gue kembali menjatuhkan tubuh ke kasur sambil memegang kepala. Jantung terasa berdetak lebih cepat, sementara ingatan tentang isi surat itu perlahan mulai kembali.

“Duh, gue nulis apaan aja, sih, di situ?” kata gue sambil menggaruk kepala. “Jangan-jangan gue sampai nulis yang aneh-aneh. Malu banget kalau dia beneran baca.”

Gue berusaha mengingat setiap baris yang pernah ditulis di kertas itu. Semakin banyak yang berhasil diingat, semakin besar pula rasa malu yang muncul.

Surat yang selama ini gue kira sudah hilang ternyata masih tersimpan di dalam komik.

Dan sekarang, orang yang paling nggak seharusnya membaca surat itu justru sedang membawanya pulang.


Aplikasi pesan singkat gue buka. Jempol terasa kaku ketika mulai menyusun kalimat di layar ponsel yang cahayanya terasa menyilaukan di tengah kamar yang sudah gelap.

Gue mengetik pesan untuk Oniel, lalu membacanya beberapa kali sebelum akhirnya memberanikan diri menekan tombol kirim.

“Niel, sori banget. Di dalam komik itu kayaknya ada kertas yang nyelip. Itu cuma iseng-iseng doang kok. Besok pagi bisa gue ambil lagi nggak?”

Pesan terkirim. Dua tanda centang muncul di bawah gelembung percakapan, tetapi tidak kunjung berubah menjadi biru.

Gue menunggu.

Satu menit berlalu. Lalu dua menit. Tetap nggak ada balasan.

Kamar yang tadinya hanya terasa sunyi perlahan mulai terasa semakin nggak nyaman. Gue beberapa kali mengecek layar, berharap ada notifikasi baru yang muncul. Hasilnya tetap sama. Tidak ada respons dari Oniel.

Dalam kondisi mental yang sudah hampir menyerah, gue akhirnya membuka YouTube sebagai pelarian terakhir. Kolom pencarian gue isi dengan kalimat yang menurut gue cukup menggambarkan keadaan saat ini.

“Cara menghilang tanpa jejak.”

Hasil pencarian ternyata cukup beragam. Video pertama menyarankan pergi menggunakan kapal ke pulau terpencil. Video kedua membahas kemungkinan hidup di tengah hutan bersama gorila. Sementara video ketiga menawarkan tutorial pura-pura mengalami amnesia permanen.

Gue menatap layar beberapa saat sebelum akhirnya menyimpulkan semuanya.

Rasa malu ini sudah berada di level yang nggak tertolong. Bahkan pindah ke planet lain mulai terdengar seperti pilihan yang cukup masuk akal.

Tubuh gue kembali dihempaskan ke kasur. Berbagai kemungkinan buruk mulai bermunculan di kepala tanpa diminta.

“Kalau dia udah baca terus nganggep gue aneh, gimana, ya?” gumam gue. “Atau jangan-jangan suratnya difoto, terus disebar ke grup keluarga dia? Habis itu dijadiin status WhatsApp dengan tulisan, ‘Pede banget nih orang.’ Wah, kelar hidup gue.”

Gue berguling ke kanan, lalu kembali ke kiri. Berkali-kali sampai posisi bantal pun ikut berantakan. Jeki yang sejak tadi tidur tenang di ujung kaki akhirnya membuka mata dan memandang gue sebentar.

Beberapa detik kemudian, kucing itu bangkit dan berjalan menuju kursi di pojok kamar.

Gue sempat menoleh melihatnya.

“Lo juga jijik, ya, sama kelakuan gue?”

Jeki tentu saja nggak menjawab. Ia hanya naik ke kursi dan kembali meringkuk.

Gue menghela napas, lalu membenamkan wajah ke bantal.

Setiap kali mencoba memejamkan mata, bayangan yang muncul selalu sama.

Oniel.

Dalam bayangan gue, dia sedang duduk santai di ruang tamu rumahnya sambil memegang surat itu. Kertas tersebut terbuka lebar di tangannya, sementara nyokapnya duduk di sebelah sambil ikut membaca. Di atas meja tersedia camilan kacang rebus yang entah kenapa selalu muncul dalam setiap skenario buruk yang dibuat otak gue.

Gue menarik selimut sampai menutupi kepala.

Kayaknya, riwayat asmara gue memang bakal tamat malam ini.

Dan kalau benar berakhir, caranya juga harus seaneh ini.


 

Bab 3: Surat yang Belum Terbaca

Pagi buta, gue sudah berdiri di depan rumah Oniel. Langkah terasa berat, sementara napas gue nggak beraturan, seolah baru saja menyelesaikan lari maraton lima putaran. Padahal, jarak dari pagar sampai pintu depan bahkan nggak sampai lima meter.

Gue mengangkat tangan untuk mengetuk pintu, tetapi kembali mengurungkannya.

Tarik napas.

Coba lagi.

Batal lagi.

Gue mengembuskan napas panjang, lalu berusaha meyakinkan diri sendiri.

“Udahlah, Ion. Cowok harus berani. Urusan malu belakangan. Yang penting suratnya aman dan nggak sempat dibaca.”

Setelah mengumpulkan sisa keberanian, akhirnya gue mengetuk daun pintu dua kali. Detak jantung langsung berpacu kencang sampai rasanya seperti genderang marching band yang sedang parade.

Nggak lama kemudian, pintu terbuka.

Oniel muncul dengan wajah yang masih menunjukkan sisa kantuk. Rambutnya sedikit berantakan dan matanya masih menyipit karena baru bangun. Anehnya, penampilan sederhana itu justru membuatnya terlihat makin manis di mata gue. Rasa gugup yang sejak tadi berusaha gue tahan malah naik beberapa tingkat.

Dia memandang gue sebentar sebelum bertanya dengan suara yang masih terdengar berat karena mengantuk.

“Pagi-pagi banget, Ion. Ada apaan sampai pagi begini nyariin gue?”

Gue berusaha mempertahankan nada suara supaya tetap terdengar normal, meskipun telapak tangan sudah mulai berkeringat.

“Ehm, gue mau ambil komik yang kemarin. Maksud gue, bukan komiknya. Kertas yang ada di dalamnya itu.”

Oniel mengernyit sedikit. “Kertas yang mana? Lo kemarin bilang ada kertas yang nyelip, kan?”

“Iya, yang kertas kecil itu. Belum sempat lo buka, kan?” gue memastikan, berharap jawabannya sesuai dengan yang gue inginkan.

Oniel sempat melihat ke dalam rumah sebelum kembali menatap gue.

“Oh, iya. Tunggu bentar, gue ambilin dulu.”

Dia kemudian berbalik dan masuk ke dalam rumah.

Lima detik.

Cuma lima detik.

Namun, buat gue, durasinya terasa jauh lebih panjang. Bahkan pengalaman ketika pernah ketahuan menyontek oleh guru di sekolah nggak pernah bikin jantung gue berdebar separah ini.

Beberapa saat kemudian, Oniel kembali sambil membawa komik tersebut. Ia menyodorkannya kepada gue.

“Nih. Belum gue baca sama sekali, kok. Masih aman.”

Gue langsung mengambil buku itu dan membukanya di halaman tempat kertas tersebut terselip. Begitu melihat lipatannya masih rapi dan berada di posisi semula, gue akhirnya bisa bernapas sedikit lebih lega.

Oniel memperhatikan reaksi gue sebelum bertanya dengan nada menggoda.

“Serius amat. Jangan-jangan isinya sesuatu yang sentimental, ya? Puisi cinta gitu?”

“Bukan, sumpah. Cuma coretan nggak jelas doang. Gue dulu nulis iseng, terus kelupaan kalau kertasnya masih ada di situ. Nggak penting sama sekali.”

Oniel bersandar pada kusen pintu sambil menatap gue. Senyum kecil masih terlihat di wajahnya.

“Hmm, oke deh. Kalau menurut lo memang nggak penting, ya udah. Gue juga nggak bakal kepo.”

Jawaban itu seharusnya membuat gue lega. Namun, entah kenapa, cara dia mengatakannya justru membuat perasaan gue sedikit nggak enak.

Gue memilih nggak memperpanjang situasi.

“Oke, gue balik dulu, ya. Makasih udah dibalikin, Niel. Maaf juga gue datang kepagian.”

“Iya, santai. Hati-hati.”

Gue berbalik dan mulai berjalan meninggalkan teras rumahnya. Baru beberapa langkah, gue sempat menoleh.

Oniel masih berdiri di ambang pintu.

Dia tersenyum kecil sambil memperhatikan gue pergi.

Saat itu, sebuah pikiran tiba-tiba muncul. Senyum tersebut terasa berbeda dari biasanya. Tatapannya juga menyimpan sesuatu yang sulit gue jelaskan.

Entah kenapa, gue merasa Oniel sebenarnya sudah tahu apa isi kertas itu.

Dia cuma memilih untuk pura-pura nggak tahu.


Ini adalah suratnya.


Bab 4: Bersembunyi di Warung Kopi

Langkah kaki gue otomatis berbelok ketika sampai di jalan pulang dari sekolah. Alih-alih mengarah ke rumah, gue malah mengambil rute sebaliknya. Rasanya belum siap kalau harus berpapasan dengan Oniel yang biasanya duduk santai di teras rumahnya, entah sambil main ponsel atau sekadar melamun.

Kalau tiba-tiba dia manggil gue dan membahas soal kertas itu, rasanya harga diri gue bakal langsung jatuh ke titik paling rendah.

Akhirnya, gue memilih warung kopi di depan gang sebagai tempat singgah. Tempat itu cukup sepi untuk menyembunyikan kegugupan yang sejak tadi belum juga hilang. Gue memesan segelas es teh manis, lalu mengambil tempat di pojokan yang jauh dari jalan.

Embun perlahan memenuhi permukaan gelas. Pemandangan itu terasa cocok dengan kepala gue yang masih dipenuhi pertanyaan.

“Dia beneran belum baca, atau sebenarnya sengaja pura-pura nggak tahu biar gue nggak malu, ya?” gumam gue pelan. “Kalau memang udah baca, kenapa tadi dia santai banget? Atau jangan-jangan gue aja yang terlalu mikir jauh?”

Nggak ada jawaban yang bisa gue dapat dari pertanyaan itu. Pikiran gue malah terus kembali ke kejadian pagi tadi.

Secara refleks, jempol gue membuka aplikasi catatan di ponsel. Layar kemudian gue geser perlahan sampai menemukan folder berisi draf-draf lama yang nggak pernah punya keberanian untuk dikirim.

Hampir semuanya berkaitan dengan Oniel.

Ada catatan tentang cara dia tersenyum yang entah kenapa terasa candu meskipun kadang menyebalkan. Ada juga tulisan tentang tatapan singkat yang mungkin sebenarnya nggak berarti apa-apa, tetapi selalu berhasil gue ingat lebih lama daripada seharusnya.

Perasaan seperti itu sudah lama ada, tetapi sampai sekarang gue sendiri masih bingung harus menyebutnya apa.

Dulu, semua itu cuma barisan kalimat di layar ponsel. Gue bisa menulis apa saja tanpa harus memikirkan bagaimana reaksi orang yang menjadi sumbernya.

Sekarang kondisinya berbeda.

Tulisan yang dulu hanya tersimpan sebagai draf sudah berubah menjadi selembar kertas yang sempat berpindah tangan ke Oniel. Bahkan, saat ini gue nggak tahu apakah surat itu masih tersimpan di dalam komiknya atau sudah selesai dibaca.

Yang lebih bikin gue kepikiran, gue juga nggak tahu reaksi Oniel kalau memang sudah membacanya.

Mungkin dia cuma tersenyum kecil. Mungkin merasa tersentuh. Atau bisa saja malah tertawa terbahak-bahak karena membaca metafora norak yang gue tulis dengan penuh percaya diri waktu itu.

Pandangan gue berhenti pada salah satu kalimat yang muncul di layar.

“Hujan sore dan detak jantung yang nggak sinkron.”

Gue langsung meringis.

“Anjir, gue dulu kenapa bisa nulis beginian, sih?” gumam gue. “Kalau sekarang dibaca lagi, kayaknya gue sendiri yang pengin pura-pura nggak kenal sama penulisnya.”

Es teh manis di depan gue sudah hampir tidak terasa manisnya. Gue menghabiskan sisa minuman tersebut sekaligus, lalu meletakkan gelas kembali di atas meja.

Hari mulai beranjak sore. Matahari perlahan turun, meninggalkan semburat jingga di langit. Dari kejauhan, suara azan Magrib mulai terdengar.

Gue menarik napas panjang.

Rasanya nggak mungkin gue terus bersembunyi di warung ini seperti orang yang sedang masuk daftar pencarian orang.

“Ya udahlah. Pulang aja. Kalau ketemu Oniel, paling gue tinggal senyum. Nggak perlu langsung bikin sidang klarifikasi soal surat itu.”

Setelah merasa sedikit lebih tenang, gue berdiri dari kursi dan mulai berjalan meninggalkan warung.

Apa pun yang terjadi, gue tetap harus pulang.


Bab 5: Surat Balasan

Minggu siang itu, gue hanya terbaring di atas kasur tanpa melakukan apa-apa. Kamar terasa sunyi sampai terdengar ketukan pelan dari arah jendela samping.

Gue menoleh.

Oniel sudah berdiri di sana.

Tangan kirinya membawa kantong plastik berisi dua botol minuman dingin yang permukaannya dipenuhi embun. Tangan kanannya masih mengetuk kaca, sementara wajahnya terlihat begitu santai, seolah masuk lewat jendela kamar orang lain merupakan hal yang biasa dilakukan setiap akhir pekan.

Gue segera bangkit dan membuka jendela sedikit.

“Eh? Lo ngapain di situ, Niel? Kenapa nggak lewat depan aja?”

Oniel mengangkat kantong plastik yang dibawanya. “Gue bawain minum. Sekalian mau nanya sesuatu. Boleh masuk atau ngobrolnya dari sini aja?”

Gue menerima salah satu botol yang disodorkannya. Rasa dinginnya justru membuat tangan gue terasa semakin gugup.

“Ya ngobrol aja. Lo mau nanya apa?”

Oniel memutar tutup botol minumannya sendiri sebelum menjawab.

“Gue masih penasaran sama kertas yang kemarin. Kalau memang cuma coretan iseng, kenapa lo sampai nulisnya di kertas terus dilipet rapi kayak surat?”

Gue mulai merasa nggak nyaman.

Oniel melanjutkan pertanyaannya tanpa terburu-buru.

“Terus, kenapa isinya juga kayak orang yang lagi serius banget curhat ke seseorang? Gue baca dari awal sampai akhir, soalnya.”

Mendengar itu, refleks gue langsung hendak menutup jendela. Namun, sebelum kaca tersebut benar-benar tertutup, tangan Oniel lebih dulu menahannya.

“Eh, santai. Gue nggak datang buat marah-marah,” katanya. “Gue cuma pengin ngomong sesuatu sama lo.”

Gue berhenti bergerak. “Apaan?”

Oniel terdiam sebentar. Tatapannya berubah lebih serius sebelum akhirnya ia mengatakan hal yang sejak tadi berusaha gue hindari.

“Sebenernya gue udah baca suratnya.”

Gue langsung diam.

Tenggorokan terasa kering dan jantung berdetak jauh lebih cepat. Selama beberapa detik, gue benar-benar nggak tahu harus menjawab apa.

Setelah berhasil mengumpulkan keberanian, gue akhirnya bertanya pelan.

“Lo... marah?”

Oniel menggeleng. “Enggak. Gue nggak marah sama sekali.”

“Terus lo ilfeel?”

“Enggak juga. Kalau gue ilfeel, gue nggak mungkin datang ke sini sambil bawain minuman.”

Jawabannya membuat gue sedikit terdiam. Namun, masih ada satu hal yang mengganjal.

“Kalau gitu, kenapa waktu gue datang kemarin lo bilang belum baca?”

Oniel menyandarkan dagunya di ambang jendela.

“Karena gue pengin lihat lo bakal ngomong sendiri atau enggak. Gue penasaran apakah lo bakal terus bilang itu cuma coretan biasa atau akhirnya jujur kalau tulisan itu memang punya arti.”

Gue segera mengalihkan pandangan. Rasanya jauh lebih mudah melihat dinding kamar daripada harus menghadapi tatapan Oniel.

“Nggak penting, Niel. Gue nulis itu dulu cuma buat iseng. Lagi pengin nulis aja, terus kebetulan kepikiran hal-hal begitu.”

Oniel langsung menyela sebelum gue sempat melanjutkan.

“Kalau menurut lo nggak penting, buat gue justru penting.”

Gue kembali menoleh.

Oniel melanjutkan dengan nada yang lebih ringan.

“Gue suka baca tulisan kayak gitu. Apalagi kalau yang nulis orangnya ternyata ada di depan gue sekarang. Jadi, menurut gue, surat itu nggak seburuk yang lo pikir.”

Gue nggak langsung menjawab. Lutut terasa lemas hanya karena mendengar kalimat sederhana itu.

Oniel kemudian memanggil nama gue dengan suara pelan.

“Ion.”

Gue menatapnya lagi.

“Besok pagi, lo tulis lagi suratnya, ya. Yang bener. Jangan pakai alasan cuma coretan iseng lagi.”

Gue mengerutkan kening karena sama sekali nggak menyangka permintaannya.

“Buat apa gue nulis lagi?”

Oniel terdiam sesaat. Senyum tipis muncul di wajahnya sebelum ia menjawab.

“Biar gue bisa baca sambil nyiapin surat balasan buat lo.”

Gue hanya bisa menatapnya.

Untuk pertama kalinya sejak kertas itu berpindah tangan, gue merasa kepanikan yang selama ini gue rasakan mungkin memang nggak perlu sebesar itu.






© 2025 by Agi Dione | All rights reserved.