Ticker

6/recent/ticker-posts

Kamis Yang Ga Biasa




"Kamis Yang Gak Biasa"


Hari itu, sepulang sekolah, gue masih Dion yang biasa. Nilai pas-pasan, skill futsal yang lebih sering bikin tiang gawang trauma daripada mencetak gol. Hidup gue berjalan datar saja, sampai Jinan datang dengan napas terengah-engah dan raut wajah yang panik.

​"Dion! Anterin gue pulang. Sekarang. Darurat!" katanya sambil mencoba mengatur napas.

​Gue masih memegang bola, tubuh basah oleh keringat, lalu menyeringai tanpa tahu situasi. "Lah, kenapa sih? Rumah lo kebakaran? Kucing lo lahiran?"

​Jinan menatap gue tajam. "Bukan, bego. Ibu gue yang lahiran! Gue punya adik sekarang!"

​Bola di tangan gue langsung terlepas begitu saja. Belum sempat otak gue memproses ucapan ajaib itu, Jinan sudah menarik lengan baju gue dengan kuat. Tenaganya nggak main-main, membuat gue terseret pasrah mirip sapi kurban.

​Motor tua gue terparkir di dekat gerbang sekolah. Dia langsung naik ke jok belakang tanpa ragu, persis seperti orang yang sedang naik ojek langganan. Gue memutar kunci dan menyalakan mesin motor.

​Saat kendaraan mulai melaju, angin sore berembus agak kencang, menyibak rambut panjang Jinan yang belum sempat dia ikat. Ada satu detik di mana gerakan rambut itu terlihat bergerak pelan sekali. Momen yang terasa teramat dramatis, padahal ini cuma hari Kamis.


"Rumah lo di mana, Ji?" tanya gue dengan mata yang fokus menatap jalan raya di depan.

​"Lurus dulu aja," jawabnya santai, menunjuk ke depan tanpa berpikir panjang.

​"Kalau cuma lurus terus, bisa-bisa kita muterin kota sampai malam. Sekalian healing," cetus gue setengah bercanda.

​Pikiran gue mendadak melayang ke masa lalu. Gue teringat pertama kali kenal Jinan saat dia baru pindah sekolah. Waktu itu gue juga masih status anak baru yang kaku, lebih sering duduk sendirian di lantai tiga sambil menatap langit layaknya karakter utama film indie yang sok melankolis. Tiba-tiba dia datang menyodorkan satu botol teh dingin.

​"Sendirian terus lo? Nih minum, biar muka lo nggak kelihatan meratapi nasib banget," ucapnya waktu itu.

​Kalimatnya agak menusuk, tapi entah mengapa gue justru tertawa kecil. Sejak kehadiran dia hari itu, keseharian gue yang membosankan mendadak berubah jadi menyenangkan.

​Pikiran gue langsung buyar saat Jinan berteriak tepat di belakang telinga.

​"BELOK KANAN SEKARANG!"

​Gue spontan membelokkan stang, membuat motor tua gue sempat oleng dan hampir jatuh.

​"Bisa santai nggak sih? Gue masih ada cita-cita mau menikah, jangan bikin kita mati konyol di jalan!" ngomel gue.

​Jinan menepuk bahu gue pelan. "Maaf, gue panik banget. Nyokap gue pasti udah nungguin dari tadi."

​Kami akhirnya memasuki gang sempit yang makin lama terasa kian padat. Sebuah pasar tradisional menyambut kedatangan kami. Aroma ikan asin, terasi, dan minyak gorengan bekas beradu di udara, menyergap hidung tanpa permisi. Suasana makin lembap saat kendaraan gue terpaksa merayap pelan di antara kerumunan ibu-ibu dan deretan gerobak pedagang.

​"Ini sebenarnya pasar apa sih, Ji?" tanya gue sambil mencoba menahan napas.

​"Pasar Kemiri. Nyokap gue sering belanja bahan masakan di sini," sahut Jinan santai, seolah pemandangan di sekitar kami adalah hal yang biasa.

​Namun bagi gue, sudut ini terasa aneh. Gang sempit, tembok lusuh dengan lumut kering, hingga suara teriakan tukang sayur dari kejauhan seolah tidak asing. Ada sesuatu yang mengusik pikiran, tapi gambarannya masih sangat samar. Persis seperti dokumen di laptop yang rusak, bisa terbuka setengah tapi bagian isinya tidak terbaca.

​"Stop di sebelah situ! Rumah gue udah nyampe!"

​Gue langsung menarik tuas rem mendadak.

​"Masukin aja kendaraan lo ke dalam, nggak apa-apa kok," kata Jinan yang sudah turun lebih dulu lalu menggeser pagar besi kecil di depannya.

​Gue sempat terdiam di atas jok. Sisi introvert dalam diri gue mendadak menjerit histeris membayangkan harus bertemu keluarga orang asing. "Gue cuma antar sampai depan pagar aja ya?"

​Jinan menoleh. Raut wajahnya tidak menunjukkan amarah, tapi nada bicaranya berubah pelan. "Masuk sebentar aja, tolong. Tante gue pasti senang kalau bisa ketemu sama lo."

​Pintaannya tidak terdengar memaksa, tapi ada selipan harapan di sana. Gue yang tidak tahu harus beralasan apa lagi akhirnya cuma bisa menurut.

​Gue mendorong motor pelan memasuki pekarangan. Bangunannya tergolong mungil tapi terasa cukup asri, dikelilingi pot tanaman yang tertata rapi. Ada aroma tanah basah, cicit burung dari sangkar kecil di pojokan, serta satu sensasi asing yang sulit dijelaskan.

​Bukan rasa takut, melainkan perasaan ganjil seolah gue pernah menginjakkan kaki di tempat ini sebelumnya.


Baru saja gue melepas helm, pintu depan rumah sudah terbuka lebar. Seorang wanita berusia empat puluh tahunan melangkah keluar dengan senyum yang terkembang lebar.

​"Wah, ini siapa? Pacar barunya Jinan ya?" tanyanya antusias.

​"Bukan, Tante!" Jinan memotong dengan cepat. "Cuma teman sekolah kok."

​Tantenya tertawa renyah. "Iya, iya, zaman sekarang semua orang awalnya juga bilang cuma teman."

​Begitu melangkah masuk ke dalam, aroma khas hunian keluarga langsung menyapa. Campuran minyak kayu putih, minyak telon, dan wangi pakaian bersih menciptakan suasana yang begitu menenangkan.

​Di ruang tengah, ibu Jinan tampak terbaring lemah di atas kasur busa tipis dengan selimut tebal. Wajahnya terlihat begitu tenang. Di pelukannya, sesosok bayi mungil bertubuh kemerahan sedang menggeliat pelan, jemari kecilnya bergerak-gerak seperti berusaha menggapai udara.

​"Makasih banyak ya, Nak, sudah bantu mengantar Jinan pulang," ucap sang ibu dengan suara yang lembut. Senyumnya tampak lelah namun terasa hangat, membuat gue yang berdiri di dekat pintu mendadak salah tingkah.

​Gue cuma bisa mengangguk pelan sambil menahan rasa canggung. "Iya, Bu, sama-sama."

​Melihat Jinan duduk bersila di samping ibunya sambil mengelus jemari adiknya dengan senyuman tipis, gue merasa sedang melihat sisi lain dari dirinya. Biasanya perempuan itu tidak berhenti mengomel atau mengejek gue tiap lima menit sekali.

​Tidak lama kemudian, tante Jinan kembali dari arah dapur membawa satu piring besar berisi bolu pandan yang masih mengepulkan uap halus. Aroma harum adonan matang itu langsung memenuhi ruangan, membuat perut gue spontan berbunyi cukup nyaring.

​"Ayo dimakan dulu bolunya, Dion. Ini Tante baru banget mengangkatnya dari kukusan," katanya sembari meletakkan piring di atas meja kayu.

​Gue sempat terdiam sejenak, mencoba menahan gengsi sebagai tamu. Namun wangi bolu yang begitu menggoda pertahanan iman akhirnya membuat logika gue menyerah kalah.

​"Wah, terima kasih banyak, Tante," balas gue sambil mengambil sepotong. Kuenya terasa lembut, hangat, dengan tingkat kemanisan yang sangat pas di lidah. Makanan semacam ini benar-benar jawaban atas segala keletihan sepulang sekolah.

​Tante Jinan memperhatikan gue mengunyah dengan tatapan yang mendalam, seolah-olah sedang berusaha mengingat-ingat sesuatu dari raut wajah gue.

​"Kamu dulu pernah tinggal di daerah sekitar sini, kan?" tanyanya tiba-tiba.

​Bolu pandan yang baru saja hendak meluncur mulus ke dalam kerongkongan mendadak berhenti di tengah jalan. Gue langsung tersedak hebat, batuk-batuk kecil sambil memegangi dada.

​Jinan yang melihat itu spontan beranjak dari samping ibunya. "Aduh, Dion! Makan pelan-pelan dong. Gue ambilkan minum dulu ke dapur ya," ucapnya lalu melangkah terburu-buru meninggalkan ruang tengah.

​Di saat Jinan menghilang ke belakang, tante Jinan masih memperhatikan gue dengan tatapan yang makin mendalam. Tanpa kehadiran Jinan di antara kami, suasana mendadak terasa makin intens.

​"Tante ingat betul, waktu kalian masih kecil, kamu sama Jinan sering banget bermain di lorong gang depan. Lari-larian sambil memegang balon warna-warni," lanjut sang tante dengan suara pelan namun sangat yakin.

​Tebakan itu menghantam pikiran gue cukup keras. Ada rasa aneh yang mendadak merayap pelan di belakang kepala, membuat gue kesulitan menata kalimat jawaban.

​"Tapi Tante beneran ingat, lho," bisiknya lagi, seolah membagikan rahasia besar. "Wajah kamu itu familier banget. Seperti orang yang saban hari lewat di depan rumah."

​Gue cuma bisa bungkam, duduk terpaku dengan tenggorokan yang masih terasa kering.

​Tepat saat keheningan itu makin menekan, Jinan kembali dari dapur sambil membawa segelas air putih hangat. Dia langsung menyodorkannya ke arah gue, memotong pembicaraan yang baru saja menggantung.

​"Nih minum dulu, Dion! Lagian Tante ngomong apa sih dari tadi? Jangan bikin tamu bingung deh, mending Tante bantu ibu ngecekin perlengkapan adik bayi di dalam," celetuk Jinan sengaja mengalihkan perhatian, membuat tantenya akhirnya terkekeh lalu berjalan menuju kamar.

​Gue menerima gelas itu dengan tangan yang sedikit kaku. Piring berisi bolu masih ada di meja, tetapi pandangan gue mendadak kosong. Ada sesuatu yang perlahan-lahan mulai berputar di dalam pikiran, bukan rasa pusing, melainkan serpihan kenangan yang mendadak muncul ke permukaan.

​Bayangan gang sempit.

Balon-balon gas yang terlepas ke udara.

Gelak tawa anak kecil.

Langit senja yang berwarna kemerahan.

Serta sebuah tangan mungil yang menarik lengan baju gue dengan erat.

​Namun seluruh gambaran itu masih terlampau kabur, persis seperti ingatan samar yang tersisa dari mimpi buruk saat demam tinggi.

© 2025 by Agi Dione | All rights reserved.