Ticker

6/recent/ticker-posts

PERSIB THREE-PEAT CHAMPIONS



Musim 2025/2026 bukan musim yang nyaman buat Persib. Skuad dirombak besar-besaran. Ciro Alves sama David da Silva, dua mesin gol yang selama ini nutupin banyak kelemahan taktik Hodak, pergi ke Malut United. Sebagai gantinya, Persib mendatangkan tidak kurang dari 13 pemain baru sekaligus, termasuk sembilan pemain asing. Perombakan nyaris total. Di antara semua nama baru itu, yang paling bikin Bobotoh kembali optimis adalah Thom Haye dan Eliano Reijnders, diaspora timnas Indonesia yang didatangkan langsung dari Eredivisie.

Masalahnya, adaptasi makan waktu. Di awal musim Persib keliatan loyo dan sempat nyangkut di posisi 7 karena chemistry belum terbentuk. Tapi mereka tetap tampil di AFC Champions League Two. Meskipun akhirnya gugur di babak 16 besar, perjalanan mereka di turnamen itu punya dampak: koefisien liga Indonesia naik, dan Super League dapat jatah dua slot di ACL Two untuk musim 2027.  

Sementara Persib masih nyari bentuk, di sisi lain ada Borneo FC yang lagi betul-betul menggila.

Borneo menjadi satu-satunya klub yang mampu meraih 10 kemenangan berturut-turut di awal musim kompetisi kasta tertinggi tanah air. Dengan 30 poin dari 10 pertandingan, mereka unggul tujuh poin dari pesaing terdekatnya, Persija Jakarta. Dalam 10 laga itu mereka mencetak 23 gol dan hanya kebobolan empat kali. Rekor ini sekaligus memecahkan catatan kemenangan terpanjang dalam sejarah kompetisi tertinggi sepak bola nasional yang sebelumnya dipegang PSM Makassar, Persik Kediri, dan Bali United dengan sembilan kemenangan.  

Singkatnya, waktu itu Borneo keliatan udah lari sendirian. Wajar kalau banyak yang nganggep musim ini udah selesai sebelum setengah jalan.

Titik balik mulai muncul pas Persib ngalahin Borneo FC 3-1 di GBLA pada lanjutan laga tunda 5 Desember 2025. Kemenangan itu langsung mendongkrak posisi Persib ke tangga ketiga klasemen sementara, sekaligus memangkas jarak dengan Borneo yang masih di puncak. Dari situ persaingan mulai terbuka.

Masuk paruh kedua musim, Persib pelan-pelan merangkak naik dan akhirnya mengambil alih puncak klasemen dengan jarak 4 poin. Tapi drama belum selesai. Masuk tujuh pekan terakhir, dua hasil seri beruntun lawan Dewa United dan Arema jadi masalah karena Borneo di waktu yang bersamaan terus menang. Persaingan jadi ketat lagi, adu kejar poin sampai pekan-pekan terakhir.

Laga paling krusial datang di pekan ke-33. Persib bertandang ke kandang PSM Makassar di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare. Maung Bandung bahkan datang dalam kondisi pincang, tanpa pelatih Bojan Hodak yang terkena sanksi akumulasi kartu, plus kehilangan Federico Barba dan Luciano Guaycochea karena alasan yang sama. Gol penentu kemenangan lahir di menit-menit akhir lewat sundulan kepala Julio Cesar. Sebelumnya PSM sempat menyamakan kedudukan jadi 1-1 di babak kedua, dan itu yang bikin Bobotoh keringat dingin. Pasalnya, jika sampai poin Persib stagnan dan cuplikan gol Borneo tiba-tiba muncul di layar TV, posisi klasemen otomatis langsung bergeser. Untungnya, ketakutan itu gak kejadian. Justru Persib yang akhirnya menjebol gol kemenangan dengan skor berakhir 1-2. Perlu dicatat, saat itu pihak TV memang cuma menayangkan laga PSM lawan Persib, jadi informasi soal hasil Borneo baru ketahuan belakangan.

Di pertandingan terakhir alias laga penentuan, Persib sebetulnya punya dua skenario yang sama-sama bisa berujung gelar. Hasil imbang pun udah cukup untuk mengunci juara karena Persib unggul head to head, meskipun tentu saja menang tetap jauh lebih diinginkan. Dan memang begitulah akhirnya. Pertandingan berakhir 0-0 lawan Persijap. Di tempat lain, Borneo memang mengamuk dan membantai Malut United 7-1, tapi semua itu gak ada artinya lagi. Hasil imbang itu udah lebih dari cukup untuk membawa trofi kembali ke Bandung. Kalau dipikir-pikir lagi, gol menit akhir Julio Cesar di kandang PSM itu ternyata bukan sekadar penentu tiga poin, tapi jadi salah satu gol paling krusial dalam perjalanan panjang musim ini.

Gelar juara emang udah di tangan, tapi tetep aja ada beberapa catatan yang ngeganjel di otak gue. Pertama, soal Bojan Hodak. Dia tuh tipikal pelatih yang pendekatannya pragmatis banget. Yang penting pertahanan kokoh, gak gampang kebobolan, dan kalau perlu menang tipis 1-0 pun gak masalah. Musim lalu taktik ini berjalan mulus karena masih ada Ciro dan Silva di lini depan. Kualitas individu mereka berdua kan emang di atas rata-rata. Jadi, mau skema permainan Persib se-monoton atau sebosan apa pun buat ditonton, ujung-ujungnya tetep aja jadi gol.

Begitu keduanya cabut ke Malut United musim ini, kelemahan lini depan Persib baru benar-benar kelihatan. Lini belakang yang kokoh memang masih tetap jadi kekuatan, tapi saat transisi ke fase menyerang, gak ada lagi sosok pembeda yang punya insting klinis seperti Silva atau determinasi seperti Ciro. Penyerang-penyerang baru yang didatangkan belum bisa memberikan jaminan gol yang sama levelnya. Jujur, lini depan kita loyo.

Untungnya, musim ini pemain dari posisi lain sering muncul jadi penyelamat di saat yang paling dibutuhkan. Pas striker lagi mandul, gol-gol krusial justru lahir dari kaki gelandang, atau dari skema bola mati yang berhasil dimaksimalkan oleh para bek. Kalau gak dibantu oleh produktivitas kolektif dari lini-lini lain itu, posisi Persib di klasemen musim ini pasti udah jauh merosot. Semoga ini bisa jadi bahan evaluasi serius buat musim depan.

Catatan kedua dari gue, sebagai pendukung Persib, gue kecewa karena kita masih belum belajar dari masalah lama yang sama. Rasisme itu harus dihentikan. Malu rasanya kalau pihak luar memandang Bobotoh sebagai kelompok yang identik dengan tindakan rasis. Mungkin pelakunya hanya oknum, tapi dampaknya kena ke semua pendukung tanpa terkecuali. Mari kita saling mengingatkan, dan berhenti pura-pura masalah ini tidak ada.

Dan yang terakhir, buat Etam, Beckham Putra. Gue tahu lo punya passion yang besar terhadap lambang yang ada di dada lo, dan itu yang bikin lo selalu menggebu-gebu terutama saat berhadapan dengan rival. Tapi tolong, lebih kalem. Jangan terlalu menunjukkan sikap yang bisa memancing reaksi dari pihak lain, meskipun mungkin lo sendiri sebetulnya gak ada niat provokatif sama sekali. Karena niat dan persepsi itu dua hal yang berbeda. Jadi tolong, lebih kalem, dan fokus ke permainan saja.

© 2025 by Agi Dione | All rights reserved.