Malam itu, gue rebahan di kasur sambil senyum-senyum ga jelas. bukan karena jadwal ulangan mendadak ditunda atau mendapat keberuntungan finansial yang enggak terduga. Semua itu murni sisa dari obrolan singkat bersama Oniel sore tadi.
Ada sesuatu yang terasa beda dari sikapnya kali ini. Cara dia bicara dan intensitas tatapannya terasa jauh lebih dalam dari biasanya. Entah itu hanya sekadar sisa pemikiran gue yang terlalu berlebihan atau bukan, namun yang pasti, perasaan ini sudah cukup membuat hati merasa tenang.
Sembari berguling ke sana kemari, pandangan tertuju pada sudut langit-langit kamar yang tampak sedikit retak. Untuk pertama kalinya, retakan itu terlihat menyerupai simbol hati. Sebuah pemandangan yang mendadak terasa sangat romantis di mata yang sedang kasmaran.
Namun, saat lamunan sedang berada di puncaknya, sebuah ingatan mendadak muncul dan memicu kepanikan.
"Kertas itu," gumam gue pelan.
Seketika tubuh terduduk tegak dengan kedua telapak tangan menutupi wajah. Pikiran mendadak kacau, seolah mesin di dalam kepala sedang mengalami gangguan teknis yang parah.
Komik yang tadi dipinjamkan kepada Oniel.
Di dalamnya terselip sebuah benda yang seharusnya tidak ada di sana.
Selembar kertas kecil dengan lipatan yang sangat rapi di halaman tertentu. Isinya adalah surat cinta hasil guratan tangan sendiri. Kalimat-kalimat di dalamnya disusun dengan gaya bahasa yang sangat berlebihan, penuh dengan rangkaian kata puitis ala remaja yang baru saja mengenal karya sastra. Dahulu, surat itu dibuat hanya sebagai pelampiasan rasa tanpa ada niat sedikit pun untuk benar-benar mengirimkannya. Gue mengira kertas itu sudah lama hilang atau terselip di tumpukan buku yang lain.
Dan sekarang, benda itu sudah berpindah tangan ke Oniel.
Tubuh kembali jatuh terhempas ke kasur sambil memegang dada. Denyut jantung terasa berdegup jauh lebih kencang dari biasanya.
"Duh, gue nulis apaan aja ya di situ?" kata gue sambil garuk-garuk kepala, berusaha keras mengingat tiap baris kalimat yang memalukan itu.
Aplikasi pesan singkat dibuka dengan jempol yang terasa dingin. Jemari bergetar hebat saat berusaha menyusun rangkaian kata di atas layar ponsel yang cahayanya terasa menyilaukan.
"Niel, sori banget. Di dalem komik itu kayaknya ada kertas nyelip. Itu iseng-iseng doang kok. Bisa gue ambil lagi nggak besok pagi?"
Pesan terkirim. Centang dua abu-abu muncul di pojok bawah gelembung percakapan, namun tak kunjung berubah menjadi biru.
Waktu seolah berjalan melambat. Menit demi menit berlalu tanpa ada tanda-tanda balasan, membuat suasana kamar yang sunyi terasa makin mencekam. Tidak ada respon sama sekali.
Dalam kondisi mental yang sudah berada di ambang kehancuran, aplikasi YouTube menjadi pelarian terakhir. Kolom pencarian diisi dengan kalimat putus asa: Cara menghilang tanpa jejak.
Hasilnya cukup bervariasi. Video pertama menyarankan untuk pergi menggunakan kapal ke pulau terpencil. Video kedua memberikan opsi untuk masuk ke dalam hutan dan hidup bersama gorila. Sementara video ketiga menawarkan tutorial pura-pura mengalami amnesia permanen.
Pada akhirnya, semua riset kilat itu bermuara pada satu kesimpulan: rasa malu ini sudah tidak tertolong. Ini adalah level kecemasan yang membuat rencana pindah ke planet lain terdengar seperti ide yang sangat masuk akal.
Tubuh kembali dihempaskan ke kasur. Berbagai skenario buruk mulai menari-nari di dalam kepala.
"Kalo dia udah baca terus nganggep gue aneh gimana ya?" gumam gue penuh kecemasan. "Atau jangan-jangan suratnya difoto terus disebar di grup keluarga dia? Terus dijadiin status WhatsApp pake tulisan: 'Pede bener nih orang', kelar idup gue."
Gue terus berguling gelisah di atas kasur, persis seperti ikan asin yang sedang digoreng di atas wajan panas. Jeki, yang biasanya tidur tenang di ujung kaki, mendadak beranjak pergi menuju kursi di pojok kamar. Sepertinya kucing itu pun merasa muak dengan aura kegalauan yang mulai memenuhi ruangan.
Tiap kali mata mencoba untuk terpejam, bayangan yang muncul selalu sama: Oniel. Dia sedang duduk santai di ruang tamu, memegang surat cinta itu lebar-lebar, membacanya bersama sang ibu sambil menikmati camilan kacang rebus. Riwayat asmara gue sepertinya memang harus berakhir dengan cara yang sangat tragis malam ini.
Pagi buta yang masih menyisakan hawa dingin tidak cukup untuk mendinginkan suhu tubuh yang mendadak panas dingin. Langkah kaki terasa berat saat berdiri tepat di depan pintu rumahnya. Napas memburu tidak beraturan, seolah baru saja menyelesaikan lari maraton lima putaran, padahal jarak dari pagar ke pintu depan tidak sampai lima meter.
Tangan kanan terangkat hendak mengetuk, namun mendadak ditarik kembali. Percobaan kedua dilakukan setelah menarik napas panjang, tapi nyali kembali menciut dan urung dilakukan.
"Udahlah, Yon. Cowok harus berani. Urusan malu belakangan, yang penting itu surat aman," bisik gue menyemangati diri sendiri yang sebenarnya sudah hampir pingsan di tempat.
Dengan sisa keberanian yang ada, ketukan pelan mendarat di daun pintu sebanyak dua kali. Di saat yang sama, detak jantung berdegup kencang, persis suara genderang marching band yang sedang melakukan parade.
Tidak lama kemudian, pintu terbuka. Oniel muncul dengan tampilan wajah bangun tidur yang masih polos. Rambutnya nampak sedikit berantakan dan matanya masih menyipit karena kantuk, namun anehnya, pemandangan itu justru membuatnya terlihat jauh lebih manis. Hal itu sukses membuat tingkat kegugupan melonjak drastis.
Dia menatap gue sambil memberikan senyum tipis. "Pagi-pagi banget, Yon. Ada apaan nih?"
Gue berusaha menjaga nada bicara agar tetap stabil, meskipun telapak tangan sudah basah karena keringat dingin. "Ehm, Niel. Mau ambil komik yang kemarin. Maksud gue, itu, kertas yang ada di dalemnya."
"Kertas yang mana ya?" tanyanya dengan tatapan yang seolah mencoba menyelami maksud kedatangan gue yang mendadak ini.
"Kertas kecil yang diselipin. Belum sempet lo buka, kan?" tanya gue memastikan dengan nada penuh harap.
Oniel sempat menoleh ke arah dalam rumah sejenak. "Oh, iya. Tunggu bentar ya."
Durasi lima detik saat dia menghilang di balik pintu terasa seperti penantian selama lima abad. Bahkan pengalaman saat kepergok menyontek oleh guru di sekolah pun tidak pernah memicu kepanikan sedahsyat ini.
Ketika kembali, dia sudah membawa komik tersebut di tangannya. "Nih," katanya sambil menyodorkan buku itu. "Belum gue baca kok."
Gue segera menyambar komik tersebut dengan gerakan cepat. Begitu diperiksa, kertas kecil itu masih berada di posisi semula, masih terlipat rapi dan tampak belum tersentuh.
"Sentimental banget kayaknya ya? Isinya puisi?" goda Oniel, seolah sedang menguji tingkat kejujuran gue pagi itu.
"Bukan, sumpah!" jawab gue cepat-cepat memotong kalimatnya. "Cuma coretan nggak jelas doang kok, beneran nggak penting."
Oniel kemudian menyandarkan bahunya ke kusen pintu. Tatapannya masih tertuju lurus ke arah gue, sementara senyum tipisnya membuat rongga dada terasa makin sesak.
"Hmm, oke deh. Kalo emang lo bilang nggak penting, ya udah," sahutnya pelan.
Kesempatan itu langsung gue gunakan untuk segera melarikan diri dari situasi yang semakin canggung. "Oke, gue balik dulu ya. Makasih banyak waktunya, Niel."
Saat melangkah pergi meninggalkan teras rumahnya, ada sebuah kesadaran yang muncul di benak. Oniel masih berdiri diam di sana sambil terus melempar senyum. Namun, itu bukan sekadar senyum ramah biasa. Ada sesuatu di balik sorot matanya yang membuat gue sangat yakin bahwa dia sebenarnya sudah tahu apa isi kertas itu.
Dia hanya memilih untuk berpura-pura tidak tahu demi menjaga perasaan gue tetap aman.
Langkah kaki otomatis berbelok saat jam pulang sekolah tiba. Bukannya mengarah ke rumah, gue malah mengambil rute yang berlawanan. Rasanya belum siap kalau harus berpapasan dengan Oniel yang biasanya sedang asik duduk di teras rumahnya, entah sambil main ponsel atau sekadar melamun. Kalau dia tiba-tiba memanggil dan membahas soal kertas itu, rasanya harga diri ini bakal langsung merosot tajam.
Pilihan terakhir jatuh pada warung kopi di depan gang. Sebuah tempat persembunyian yang ideal. Segelas es teh manis dipesan untuk mendinginkan kepala yang sudah terasa panas, lalu gue mengambil posisi di pojokan yang paling minim cahaya.
Embun mulai menutupi permukaan gelas, suasana yang sangat menggambarkan kondisi pikiran yang sedang buram.
"Dia beneran belum baca, atau sengaja pura-pura biar gue nggak malu ya?" Pertanyaan itu terus berputar di dalam kepala tanpa ada jawaban yang pasti.
Secara refleks, jempol membuka aplikasi catatan di ponsel. Layar digeser perlahan menuju folder berisi draf-draf lama yang tidak pernah punya nyali untuk dikirimkan. Isinya tidak jauh-jauh dari segala hal tentang Oniel.
Mulai dari cara dia tersenyum yang terasa candu meski terkadang menyebalkan, hingga tatapan singkat yang sebenarnya tidak bermakna apa-apa tapi selalu berhasil menetap lama di ingatan. Perasaan absurd yang sampai saat ini gue sendiri bingung harus memberi nama apa.
Dulu, semua itu hanya sekadar barisan kalimat di layar ponsel.
Namun sekarang, situasinya sudah sangat berbeda.
Tulisan itu sudah menjelma menjadi selembar kertas yang pernah berpindah tangan ke dia. Mungkin saja saat ini kertas itu sudah selesai dibaca. Gue sama sekali tidak tahu apakah dia sedang tersenyum tipis, merasa terharu, atau justru tertawa terbahak-bahak melihat penggunaan metafora norak yang gue buat dulu.
"Hujan sore dan detak jantung yang tidak sinkron." Kalimat itu terasa sangat memalukan jika diingat kembali sekarang.
Sisa es teh manis yang sudah hambar diteguk sampai habis. Kondisi rasanya sangat mewakili suasana hati yang sedang tidak menentu. Matahari perlahan mulai tenggelam, menyisakan warna jingga yang samar di langit. Sayup-sayup suara azan magrib mulai terdengar dari kejauhan.
Gue menarik napas panjang untuk mengumpulkan sisa keberanian. Rasanya tidak mungkin terus-terusan bersembunyi di sini seperti orang yang sedang masuk daftar pencarian orang.
Yaudahlah. Pulang aja.
Minggu siang itu, tubuh hanya tergeletak tidak berdaya di atas kasur. Kamar terasa sunyi sampai sebuah suara ketukan pelan terdengar dari arah jendela samping.
Saat menoleh, Oniel sudah berdiri di sana.
Tangan kirinya menjinjing kantong plastik berisi dua botol minuman dingin yang permukaannya sudah berembun. Sementara itu, tangan kanannya masih mengetuk kaca jendela dengan ekspresi wajah yang sangat lempeng, seolah kedatangannya lewat jendela adalah hal yang lumrah dilakukan setiap hari.
Gue membuka jendela sedikit dengan perasaan yang masih diliputi kebingungan. "Eh? Ngapain lo di situ, Niel?"
"Ngasih ini," jawabnya singkat sambil menyodorkan satu botol minuman. "Sama mau nanya satu hal sih."
Gue menerima botol dingin itu dengan tangan yang mulai bergetar halus. "Nanya apaan?" tanya gue pelan.
Dia mengangkat bahu dengan gestur santai. "Cuma penasaran aja. Kalo emang itu cuma coretan iseng, kenapa harus ditulis di kertas surat segala?"
Pandangannya melirik ke arah meja di belakang gue, tepat ke posisi kertas yang menjadi sumber masalah selama beberapa hari terakhir. "Terus, kenapa gaya tulisannya kayak lo lagi curhat serius ke seseorang?"
Refleks, gue langsung berdiri dan berniat menutup jendela secepat mungkin. Namun, Oniel dengan sigap menahannya menggunakan tangan.
"Tenang aja, gue nggak marah kok," katanya dengan nada suara yang melunak. "Gue cuma mau bilang satu hal."
Dia terdiam sejenak, menciptakan jeda yang membuat suasana makin tegang. Lalu, dia melanjutkan dengan kalimat yang terdengar sangat jelas di telinga.
"Sebenernya gue udah baca."
Gue menelan ludah dengan susah payah. Jantung kembali berdegup kencang tanpa aturan. Selama beberapa detik, mulut ini terasa terkunci rapat dan tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
"Lo... marah?" tanya gue pada akhirnya.
"Enggak."
"Ilfeel?"
Dia hanya tersenyum kecil. "Enggak juga."
"Terus, kenapa lo malah bohong pas gue tanya kemarin?"
Oniel semakin menyandarkan tubuhnya dan menopang dagu di ambang jendela. "Ya karena gue lagi nunggu lo sendiri yang ngomong langsung ke gue."
Gue segera memalingkan wajah, berusaha menghindari kontak mata yang terasa mengintimidasi itu. "Nggak penting, Niel. Gue nulis itu cuma buat iseng doang sebenernya."
"Nggak penting buat lo, tapi penting buat gue," potongnya dengan sangat cepat.
"Gue suka baca tulisan kayak gitu. Apalagi kalo yang nulis orangnya lagi ada di depan gue sekarang," lanjutnya sambil melirik ke arah gue.
Seketika itu juga lutut rasanya kehilangan tenaga, benar-benar lemas.
Ion," panggilnya lagi dengan suara pelan. "Besok pagi, lo tulis surat yang bener ya. Bukan cuma sekadar coretan iseng lagi."
Gue menoleh dengan ekspresi kaget yang tidak bisa disembunyikan. "Buat apaan?"
Dia terdiam sebentar, lalu menyeringai tipis. "Biar gue bisa bacanya sambil nyiapin surat balasan buat lo."
Social Plugin