Senyum JKT48 Tulus dari Hati, atau Tuntutan Profesi Aja?
Gue sering banget denger orang nanya, bahkan sesama fans masih sering ribut soal satu hal ini..
"Senyum member JKT48 itu beneran tulus dari hati, atau cuma tuntutan kerja sih?"
Jujur, gue paham kenapa pertanyaan ini muncul. Kita semua tahu ini industri hiburan. Ada image yang harus dijaga, ada SOP-nya, dan jelas ada momen di mana mereka wajib terlihat bahagia di depan kita.
Tapi gini, kalau lo terjebak di pemikiran itu terus, lo bakal melewatkan satu hal penting. Sesuatu yang direncanakan atau dituntut itu nggak otomatis bisa disebut palsu.
Bayangin ada seorang guru yang tetap senyum waktu ngajar, padahal dia lagi ada masalah di rumah. Atau barista yang ramah banget ke lo, padahal dia lagi bad mood parah. Apakah senyum mereka palsu?
Bukan. Itu namanya profesionalisme.
Member JKT48, bahkan banyak dari mereka masih remaja, udah dituntut buat selalu kasih energi positif tiap ketemu kita. Mereka kayak gak punya ruang buat bad mood atau ngumbar masalah pribadinya. Kenapa? Karena mereka ngerti banget risikonya ke grup dan ke fans.
Inget gak yang pernah diomongin Marsha pas Q&A di Malaysia? Intinya dia bilang gini:
"...we can’t let them know we’re having a hard time. Whatever the tough parts of being a JKT48 member, we have to keep smiling and giving all the positive energy we have…”
Diulang lagi nih: "we have to keep smiling."
Jadi kalau emang ada satu-dua senyuman yang kerasa "terpaksa" karena mereka lagi capek banget, gue justru melihat itu sebagai usaha yang luar biasa. Usaha buat tetap hadir, tetap profesional, dan tetap jadi sumber kebahagiaan buat orang banyak.
Kalau kita melihatnya dari sudut pandang itu, kita bakal paham. Mungkin senyumnya berawal dari tuntutan profesi, tapi usaha mereka buat tetap memberikan senyum itu di tengah rasa capek, itulah bentuk ketulusan yang sebenarnya. Dan menurut gue, itu yang justru layak kita hargai.

Social Plugin