Favoritisme Member oleh JOT: Salah Siapa, Sih?
Gue pengen ngebahas satu hal yang selalu jadi bahan keributan di fandom JKT48, Favoritisme.
Pasti lo sering denger, atau mungkin lo sendiri yang ngetik di Twitter: "Kenapa sih dia lagi yang dapet Senbatsu?" atau "Padahal si A lebih jago dance, kenapa si B yang dipilih?"
Jujur aja, kita sering banget nyalahin JOT (JKT48 Operation Team). Kita nganggep mereka pilih kasih. Tapi, sebelum kita emosi, coba kita bedah pake logika yang lebih jernih. Sebenernya, ini salah siapa?
1. JKT48 Itu Bisnis
Pertama, kita harus sepakat dulu, JKT48 itu entitas bisnis. Mereka hidup dari profit.
Pas JOT milih member buat sebuah project, mereka nggak pake perasaan. Mereka pake data. Mereka liat siapa yang engagement-nya paling tinggi, siapa yang kalau ditaruh di thumbnail, orang bakal nge-klik.
Dan brand? Brand itu dateng bawa duit. Mereka punya kriteria sendiri. Mereka pengen produknya laku. Jadi kalau mereka minta member yang secara visual paling "menjual" atau followers-nya paling jutaan, JOT nggak bisa bilang "Enggak."
Jadi, pertanyaan gue, Ini favoritnya manajemen, atau emang permintaan pasar?
2. Fans Adalah "Sutradara" yang Sebenernya
Kedua, sadar nggak sih kalau kita sering menjilat ludah sendiri?
Kita teriak-teriak minta manajemen kasih panggung ke member yang underrated karena mereka berbakat. Tapi pas ada Senbatsu Sousenkyo atau pemilihan langsung, siapa yang kita vote? Siapa yang kita ksh gift paling banyak di livestreaming? Ujung-ujungnya balik lagi ke member yang (menurut standar umum fans) paling cantik atau paling populer.
Artinya apa? Secara nggak langsung, kita sebagai fans yang ngebentuk standar itu. Kita yang ngasih tau manajemen lewat uang dan perhatian kita bahwa: "Ini lho, tipe member yang kita mau."
3. Spotlight Itu Perlu Validasi
Kalau kita mau sistem yang lebih adil, solusinya bukan cuma marah-marah ke manajemen. Kita juga harus berubah.
Kalau lo ngerasa ada member yang punya skill hebat tapi nggak dapet panggung, ya support dia secara konkret. Naikin engagement-nya, beli merchandise-nya, bikin dia jadi "bernilai" di mata industri. Jangan cuma nuntut keadilan di kolom komentar, tapi pas ada aksi nyata, lo malah pasif.
Spotlight itu emang harus diperjuangin. Tapi yang berjuang bukan cuma membernya, fansnya juga.
Jadi, kalau ditanya favoritisme itu salah siapa? Jawabannya: Semuanya.
Manajemen emang pragmatis, tapi mereka cuma ngerespon apa yang kita kasih. Kita, sebagai fans, adalah bahan bakar dari sistem ini. Selama kita masih "memuja" hal yang sama, ya hasilnya bakal tetep sama.
Kita nggak bisa minta narasi berubah kalau kita sendiri masih demikian.

Social Plugin