Ticker

6/recent/ticker-posts

Cinderella Humoris


Hari kelima ujian sekolah datang seperti mantan yang tiba-tiba ngajak balikan. Nggak diundang, penuh tekanan, dan bikin mual seharian.

​Mata pelajaran terakhir harinya Matematika. Pengawasnya Pak Gatot, sosok yang hanya disebut namanya doang udah cukup bikin nyali ciut. Ada rumor yang beredar kalau siapa pun yang berani nyontek di depan beliau bakal dikutuk jadi kalkulator hidup. ngitung terus, tanpa henti.

Begitu bel istirahat berbunyi, suasana kelas langsung berubah drastis. Yang tadinya hening kayak kuburan mendadak penuh suara celotehan. Di sudut kanan ada yang ketawa, di sudut kiri ada murid sibuk ngobrolin soal nomor lima yang luar biasa sulit, dan entah kenapa, selalu ada yang kehilangan sandal. Fenomena aneh yang cuma terjadi pas ujian.

Dion sengaja bergeser dari bangku depan menuju area belakang. Dia beralasan pengen cari suasana baru biar nggak bosan. Padahal alasannya cuma satu, dia pengin banget duduk berdekatan sama Eli.

​Eli ini tipe cewek yang terbilang dingin dan cuek. Kalau bicara selalu langsung ke inti masalah, dan auranya saat lagi marah, rasanya kayak bisa nyedot nyawa orang di sekitarnya.

Hari itu tergolong aneh karena Eli milih mendekat ke area belakang. Padahal biasanya dia selalu ambil posisi paling depan, tempat langganan dia buat memperhatikan penjelasan guru.

​Dion narik kursi pelan di samping Eli yang sibuk bolak-balik halaman buku cetak.

​"Lu tumben banget mau geser ke bangku belakang, Li?" Dion membuka obrolan sambil memperhatikan catatan Matematika Eli yang rapi.

​Eli menengok sebentar tanpa menghentikan gerakan tangannya. "Di depan berisik anak-anak pada ribut bahas jawaban nomor lima, gue butuh ketenangan sebentar sebelum Pak Gatot masuk."

​Dion terkekeh pelan hearing jawaban itu. "Yah, padahal gue kira lu sengaja pindah ke sini biar bisa ngasih gue bocoran rumus."

​Eli menutup bukunya agak keras sampai terdengar bunyi terbentur meja. "Jangan ngaco ya, Dion. Mending lu baca sendiri rumus matriks daripada ngarepin bantuan orang lain yang belum tentu bener."

​Dion memiringkan kepala, pura-pura kecewa sama penolakan yang begitu cepat. "Galak bener. Gue kan cuma berniat basa-basi biar lu nggak tegang amat ngadepin ujian jam terakhir ini."

​Eli menghela napas panjang lalu menatap Dion lurus. "Gue nggak tegang sama sekali. Gue cuma nggak mau konsentrasi buyar gara-gara lu ngajak ngobrol terus dari tadi."

Dion nyengir ketika melihat respon itu, tapi Eli sudah keburu nyipitkan mata. Alis cewek itu mengerut rapat, persis kayak ibu-ibu yang kaget denger harga kebutuhan pokok mendadak naik.

​"Lo nyontek ya tadi? Awas aja kalau iya. Gue laporin nih ke Pak Gatot biar kuping lo ditarik sampe bisa nangkep sinyal siaran luar negeri," ancam Eli sambil menatap Dion curiga.

​Dion cuma terkekeh pelan nanggapin ancaman itu. "Nyontek mah cuma buat orang yang IQ-nya masih masa trial, Li. Gue kan udah versi premium."

​"IQ premium tapi saban minggu ikut remed mulu," celetuk Eli sadis tanpa beban.

​Dion makin lebar nyengirnya, sama sekali nggak merasa tersinggung. Pandangannya malah beralih ke tempat pensil Eli yang warnanya ramai banget. Tanpa minta izin, jemarinya mulai iseng nyolek-nyolek ujung wadah pensil itu.

​"Jangan dipegang-pegang!" seru Eli refleks sambil menepis tangan Dion cepat. "Itu pulpen kesayangan gue tau. Yang warna ungu itu... dulu gue pake waktu pertama kali nyoret-nyoret muka mantan."

​Dion mengangguk-angguk pelan, nahan tawa sambil bikin raut muka yang dibuat-buat prihatin. "Wah, ternyata kisah cinta lo lumayan tragis juga ya."


Di balik kelakuannya yang sering bikin geleng-geleng kepala, Dion sempat menyelipkan secarik kertas kecil ke dalam tempat pensil Eli. Begitu aksinya tuntas, cowok itu langsung kabur gitu aja seolah dikejar urusan mendesak.

​Eli masih sibuk merapikan barang-barangnya sambil ngomel pelan. Suaranya terdengar antara kesal dan lelah ngadepin Dion. Tapi begitu membuka tempat pensil, perhatiannya langsung tersedot pada selembar kertas aneh. Lipatannya asal-asalan, terus tulisannya berantakan mirip cacing kepanasan.

​"Eli, tolong jaga rahasia besar ini ya. Gue sebenernya agen rahasia yang lagi nyamar jadi siswa SMA. Jangan bilang siapa-siapa. Tanda tangan, Agen Rahasia."

​Eli tertegun sejenak membaca pesan absurd itu. "Apasih nih anak, kebanyakan nonton sinetron deh," gumamnya heran.

​Tapi pas lembaran itu dibalik, ternyata ada coretan lain di belakangnya.

​"Perhatian! Bel sekolah bunyi dalam 5 detik! 5...4...3...2...1~"

Dan entah kenapa, timming-nya sangat tepat, bel sekolah pun akhirnya berbunyi.

TRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIING!!

Eli kaget setengah mati sampai meloncat dari duduknya. Tangannya refleks menutup mulut dengan mata melotot lebar.

​Satu kelas langsung pecah tertawa melihat reaksi spontan itu. Ada murid yang sampai hampir jatuh dari bangku, malah ada juga yang tersedak ludah sendiri.

​Dari sudut belakang, Dion muncul kembali sambil memamerkan senyum puasnya. "Gimana? Timing gue pas banget kan? Udah presisi kayak kemunculan iklan sirup tiap bulan puasa."

​Eli yang masih shock langsung meraih pulpen ungu kesayangannya. Dia mengacungkan benda itu tinggi-tinggi dengan raut gemas. "Lo tuh ya, Dion! Ganggu, nyebelin, dan nggak pernah ada kapoknya!"

​Dion cepat-cepat ngacir menghindari lemparan sambil ketawa lepas. Di tengah keriuhan kelas yang belum reda, semua orang tahu satu hal. Mau seberat apa pun tekanan ujian harinya, Dion selalu punya cara konyol buat jadi hiburan gratis.

Kalau di dongeng-dongeng klasik cewek anggun tuh selalu dipuja karena sifat pemalu dan kelembutannya, tetapi Eli antitesis dari semua gambaran itu. Dia humoris, galak, dan gampang kaget. Entah kenapa... cuma dengan melihatnya bernapas pun, rasanya cukup untuk bikin satu kelas ketawa.

© 2025 by Agi Dione | All rights reserved.