Bab 1: Suasana Kelas
Suasana kelas 12D siang itu terbilang sangat bising. Gelak tawa para siswa, derit kaki kursi yang bergesekan dengan lantai, serta perpaduan aroma parfum murah dan spidol papan tulis menyatu di udara. Jam istirahat baru saja mulai, dan sebagian besar murid masih kelihatan lemas setelah dua jam mumet dengan pelajaran fisika.
Dion berdiri di tengah keramaian. Gaya rambut Harajuku miliknya yang menyerupai penampilan Kevin Aprilio tampak bergoyang seiring gerak tubuhnya. Ada bekas merah samar di pipi kirinya, sisa telapak tangan Pak Kisame.
"Ini semua murni salah lo, tahu gak!" seru Dion meluapkan kekesalannya sambil menatap tajam ke arah bangku pojok.
Steve yang sedang duduk bersandar santai langsung menolehkan kepala. Topi abu-abu sekolah terpaksa ia kenakan karena topi K3 kesayangannya baru saja disita oleh guru piket.
"Kok malah gue yang disalahin? Gue salah apa coba?" tanya Steve, nada suaranya terdengar malas meladeni.
Dion mengarahkan telunjuknya tepat ke muka temannya itu. "Lo yang maksa ngajak nonton maraton semalem." Suaranya meninggi, mencoba menarik perhatian seisi kelas yang mulai sibuk sendiri. "Gara-gara itu tadi gue keceplosan nyebut nama tokoh film pas Pak Kisame lagi jelasin rumus. Sekelas denger, tau gak malunya kayak apa!"
Steve berdiri dari duduknya. "Lah itu mah salah lo sendiri, ngapain otaknya masih muter-muter mikirin film pas pelajaran. Lagian seinget gue lo duluan yang kirim link di grup. Sekarang malah nyalahin gue?"
Dion memutar badan ke arah Rico yang sejak tadi diam di sudut meja. "Ric, tolong jawab. Siapa yang pertama share link film semalem?"
Perhatian kedua murid itu kini tertuju sepenuhnya pada remaja berambut biru tersebut. Rico hanya duduk bersandar dengan posisi bandana yang agak miring. Tatapannya lurus ke papan tulis tanpa menunjukkan respons apa pun.
Steve menggerakkan telapak tangannya di hadapan wajah Rico. "Woy, malah melamun lo!"
Masih tidak ada jawaban. Dion mulai muncul rasa curiga. "Jangan-jangan nih anak kena mental gara-gara Pak Kisame."
Keheningan sempat tercipta selama beberapa saat. Rico tetap bergeming. Tepat ketika tangan Dion hendak menyentuh bahunya, kelopak mata Rico bergerak pelan, lalu ia menoleh dengan raut bingung.
"Tunggu... ini gue di ruangan mana ya? Lo berdua murid baru? Atau guru pengganti?" tanya Rico sambil memegangi kepalanya sendiri.
Jari-jemarinya menyentuh dahi yang masih terasa nyeri akibat sabetan penggaris kayu milik Pak Suwanto. Nasib malang memang sedang memihak kepada Rico pagi itu. Gara-gara semalam sibuk menonton, ia tidak sempat mengerjakan latihan soal yang diberikan minggu lalu. Saat namanya dipanggil maju untuk mengerjakan di papan tulis, yang keluar hanya diam dengan muka pucat.
Guru fisika yang lebih akrab dipanggil Pak Kisame itu memang terkenal sangar di mata para murid. Julukan itu makin melekat karena penggaris kayu raksasa berukuran satu setengah meter yang selalu ia bawa ke mana-mana. Bagi anak-anak kelas 12D, benda cokelat yang ujungnya sudah agak terkelupas itu bentuknya mirip Samehada, pedang besar milik karakter Kisame di serial anime. Bedanya, kalau Samehada memakan chakra ninja lawan, penggaris legendaris Pak Suwanto ini sanggup menguras habis memori dan kewarasan muridnya dalam sekali tebas.
Steve mundur selangkah dengan alis beraut bingung. "Anjir serius? Efek Samehada beneran nyata?"
Sebelum Dion sempat bereaksi, Rico malah tertawa terbahak-bahak sampai merosot ke lantai sambil memegangi perutnya.
"Kena tipu kan lo berdua! Gampang banget dikerjain!" ucap Rico di sela tawanya yang masih meledak. "Ini hanya sabetan ringan doang. Coba kalau kena lemparan penghapus papan tulis kayak racun Shizune, bisa langsung pingsan kayak anak kelas sebelah minggu lalu."
Rico kemudian bangkit, mengusap sudut matanya yang basah karena tertawa terlalu lama. Matanya melirik ke bekas merah di pipi Dion.
"Diam lo!" cerca Dion sambil buru-buru menutupi pipinya pakai tangan.
"Udah ah, kepribadian gue rasanya mau pecah kalau kelamaan bahas rumus momentum tadi. Mending sekarang kita cabut ke kantin, beli yang dingin-dingin," kata Rico sambil melangkah pergi ke arah pintu.
Steve menggelengkan kepala sambil merapikan topinya, wajahnya masih menyisakan rasa lega karena bersih dari daftar korban. "Saraf lo ya. Akting lo lumayan bikin gue kaget tahu gak."
Dion buru-buru menyusul, langsung merangkul leher temannya itu. "Pokoknya lo wajib bayarin es teh kita berdua, gara-gara udah bikin panik."
"Enak aja, ogah gue bayarin!" sahut Rico sambil menepis tangan Dion dari bahunya.
Meski protes, Rico tetap berjalan paling depan menuju kantin. Steve mengikut di belakang dengan langkah santai, sesekali tersenyum sendiri karena tahu dia satu-satunya yang lolos hari itu. Mereka akhirnya meninggalkan ruang kelas 12D yang masih dipenuhi coretan papan tulis dan kegaduhan murid-murid lain.
Bab 2: Obrolan Kantin
Kantin sekolah memang selalu menjadi tempat pelarian paling pas begitu bel istirahat berbunyi. Area yang dinaungi pepohonan rindang itu terasa cukup sejuk di tengah teriknya siang. Di tempat ini, urusan berutang pada penjual makanan sudah menjadi pemandangan yang amat lumrah, bahkan tidak jarang sang penjual sendiri yang menawarkan terlebih dahulu.
Belum genap lima menit duduk, Dion, Steve, dan Rico sudah lupa sama sekali soal drama tempeleng dan sabetan penggaris tadi. Bahasan mereka berpindah jauh ke topik lain begitu Rico membuka suara. Setibanya di meja sudut yang biasa mereka tempati, Rico tanpa ragu langsung menyambar sepotong gorengan dari piring milik Steve.
"Eh, omong-omong soal rencana jalan-jalan ke Jepang nanti, persiapan kalian udah sampai mana nih?" tanya Rico sambil mengunyah.
Steve yang belum sadar gorengannya berkurang masih asyik merapikan posisi duduknya. "Persiapan gue sih udah mantap. Hasil nabung berdarah-darah dari jaman kapan tahu, sekarang udah terkumpul dua puluh lima ribu rupiah. Sikit lagi ini mah sampai ke Tokyo."
Dion yang memperhatikan dari samping langsung menatap Steve heran. "Dua puluh lima ribu mah jangankan terbang ke Tokyo, buat beli ganti gorengan lo yang baru aja disamber Rico itu aja masih kurang."
Steve spontan menunduk menatap piringnya yang mendadak kosong sebagian. Matanya melebar, lalu refleks mendaratkan jitakan pelan ke kepala Rico. Bunyinya terdengar cukup renyah di tengah riuhnya kantin.
"Bisa-bisanya lo nyolong gorengan gue sambil pura-pura nanya," gerutu Steve.
Rico hanya bisa meringis sambil memegangi kepalanya, tanpa ada niat mengembalikan sisa gorengan yang sudah setengah dikunyah. "Hitung-hitung investasi pertemanan."
Dion yang sejak tadi sibuk mengaduk es teh manisnya ikut menanggapi obrolan tersebut. "Kalian berdua beneran niat mau berangkat? Jalan ke area parkiran belakang aja kemarin malasnya setengah mati, sekarang sok-sok mau ke negeri orang."
Rico langsung memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegak. "Ya dinamakan berusaha dulu lah. Lagian kata orang bijak, usaha keras itu gak bakal mengkhianati hasil. Lo jangan sembarangan meremehkan impian."
Steve mengangguk-angguk menyetujui pernyataan itu, tatapannya menerawang jauh ke arah langit-langit kantin. "Yang penting tancap gas dulu. Gue udah kebayang kita foto-foto di persimpangan jalan Tokyo, terus malamnya makan ramen hangat. Pasti mantap banget itu."
Dion menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu yang langsung mengeluarkan decitan halus. "Terserah kalian berdua deh. Tapi kalau impian lo pada beneran kejadian, pokoknya kalian wajib traktir gue makan seblak ya."
Steve langsung tertawa mendengar permintaan temannya yang terkesan tidak masuk akal itu. "Mana ada di Jepang orang jual seblak panggul keliling, aneh-aneh aja lo."
"Kalau memang gak ada ya tinggal kita buka lapaknya sendiri di sana, kan gampang," jawab Dion asal-asalan. Ia kemudian beranjak dari kursi seraya merapikan bagian bawah seragamnya yang mulai tampak kusut. "Gue mau pesan makanan dulu ke depan. Ada yang mau sekalian nitip gak?"
Belum sempat Steve dan Rico memberikan jawaban, Dion sudah melangkah lebih dulu menuju deretan penjual makanan.
....
Dion berjalan kembali menuju meja kantin sambil membawa semangkuk seblak yang masih mengepul. Kuah pedas berwarna oranye itu bergoyang seiring langkah kakinya. Di sudut tempat mereka berkumpul tadi, Rico dan Steve tampak masih sibuk berdebat mengenai makanan favorit masing-masing.
Tepat saat Dion hendak melangkah makin dekat ke meja tersebut, tubuhnya mendadak berbenturan dengan seseorang dari arah samping. Mangkuk di genggamannya sempat miring, namun refleks jemarinya cukup cepat sehingga kuah panas tersebut tidak sempat membasahi pakaian.
"Aduh, sori banget! Gue beneran gak sengaja," ucap Dion spontan.
Begitu mendongak untuk memastikan sosok yang ia tabrak, tatapannya langsung tertuju pada seorang siswi di hadapannya. Di sana berdiri Alyssa, murid kelas 12A yang dikenal cerdas sekaligus ramah di angkatan mereka. Rambutnya terikat rapi ke belakang, sementara raut wajahnya tampak begitu tenang saat menatap Dion.
"Santai aja, gak masalah kok," jawab Alyssa halus. Ia sekadar mengusap sedikit cipratan air di lengannya menggunakan tisu. "Bajuku juga aman, gak kena sama sekali."
Dion hanya mampu mengangguk pelan dengan gerakan kaku. "Beneran sori, tadi gue kurang fokus pas jalan."
Alyssa mengamati wajah Dion sejenak sebelum kembali bersuara. "Kamu Dion yang anak kelas 12D itu, kan?"
"Iya, bener. Gue Dion. Hmm... gue duluan ya, sekali lagi sori soal yang tadi."
Saat Dion bersiap melanjutkan langkah menuju mejanya, Alyssa justru memanggilnya kembali. "Dion, sebentar deh."
Langkah Dion seketika terhenti. Ia memutar badan ke arah Alyssa dengan raut heran. Alyssa mengulas senyum tipis.
"Kemarin aku sempat lihat karya sketsa yang dipajang di mading sekolah. Gambar kota masa depan itu detailnya bagus banget. Itu beneran kamu yang buat semuanya?" tanya Alyssa.
Mendapat apresiasi mendadak dari siswi populer membuat konsentrasi Dion seketika buyar. "Eh... iya, itu cuma iseng-iseng gue kemarin pas pelajaran kosong."
"Keren kok, seriusan," balas Alyssa singkat.
Dion mengangguk pelan lalu melempar senyum kaku. "Makasih ya."
Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut, Dion bergegas kembali ke tempat Rico dan Steve berada, hati-hati menyeimbangkan posisi mangkuk seblak di tangannya. Alyssa memandangi punggung Dion yang kian menjauh, menggelengkan kepala pelan, lalu melanjutkan langkahnya menuju deretan penjual minuman.
Dari sudut kantin yang agak terpisah, terdapat satu sosok yang mengamati interaksi mereka sejak awal. Tatapannya terarah lurus pada Dion yang baru saja mendaratkan diri di kursi dengan rona wajah memerah.
....
"Lama banget lo balik ke meja, dari mana aja sih?" omel Steve begitu Dion akhirnya mendaratkan badan di kursi.
Dion hanya menyeringai tipis. Area wajahnya masih terasa hangat, sisa efek berbenturan dengan Alyssa yang sukses membuat degup jantungnya tidak karuan.
"Masa sih? Perasaan gue cuma jalan sebentar doang," kilah Dion sambil meletakkan mangkuk seblaknya di atas meja secara perlahan. Pandangannya sempat bergeser sejenak ke sudut kantin yang lain, mengamati Alyssa yang sedang mengobrol bersama teman-temannya.
Steve memicingkan mata curiga, lalu mengarahkan telunjuknya ke gelas es teh yang sudah berkurang separuh. "Terus ini es gue kenapa makin sedikit? Lo yang nyeruput pas jalan ke sini, ya?"
"Bukan gue, asli!" sahut Dion membela diri. "Lagian mana sempat gue pegang gelas lo pas lagi bawa mangkuk panas begini."
Rico yang sejak tadi sibuk mengunyah gorengan milik Steve langsung memotong percakapan. "Sudah lah, masalah es teh doang diributin terus. Gue ada info menarik nih."
Ia memajukan posisi duduknya dengan raut wajah yang tampak bersemangat.
"Kalian tahu gak, katanya lagu terbaru idol group Jepang nanti mau pakai tema yang agak gelap gitu. Melodinya tetap ceria, tapi liriknya menceritakan kisah misteri pembunuhan. Unik banget gak sih konsepnya?"
Steve menyimak cerita itu sambil memainkan sedotan es tehnya. "Ya bisa beneran bisa kagak sih. Konsep idol kan sering berubah pas mendekati rilis, persis kayak tebak-tebakan aja."
Rico tertawa pelan mendengar tanggapan tersebut. "Respon lo gak membantu sama sekali, tapi ya ada benarnya juga."
Dion ikut terkekeh pelan, tangannya meraih sendok di dalam mangkuk seblaknya. "Makanya gak usah terlalu dipikirin dari sekarang. Nanti pas videonya udah resmi rilis juga baru kelihatan beneran kayak gimana."
Belum sempat mereka melanjutkan pembicaraan, suara lembut seorang siswi tiba-tiba terdengar dari arah samping meja.
"Hai, sori melipir. Boleh join duduk di sini gak? Tadi aku gak sengaja dengar kalian lagi bahas soal idol, jadi penasaran."
Seketika mereka bertiga langsung menoleh secara bersamaan. Alyssa sudah berdiri di sana dengan senyum ramah, tampak tertarik dengan topik yang baru saja disinggung.
Steve refleks menggeser posisi tubuhnya untuk menarik sebuah kursi kosong di dekatnya. "Eh iya boleh banget, santai aja! Silakan duduk."
Rico yang tadinya bersikap cuek mendadak memperbaiki posisi duduknya menjadi tegak. "Lo tahu gak, gue tuh sebenarnya pernah sampai peringkat atas pas main game online. Tapi cuma di dalam mimpi sih, lumayan lah buat dibanggain."
Dion menyenggol lengan Rico pelan karena merasa gemas dengan respons temannya itu. "Bisa gak sih lo gak usah garing di depan orang."
Alyssa terkekeh pelan mengamati interaksi mereka. "Gak apa-apa kok, kalian lucu banget becandanya."
Suasana di meja itu makin cair. Alyssa ternyata sangat mudah membaur saat diajak berbincang mengenai musik hingga acara televisi. Namun di tengah gelak tawa mereka, raut wajah Rico mendadak berubah agak pucat. Jemarinya mencengkeram bagian perut bawah.
"Bro, mules banget perut gue tiba-tiba," bisik Rico pelan ke arah Steve dengan ekspresi panik.
Tidak membutuhkan waktu lama, Steve ikut mengelus perutnya sendiri, menahan rasa tidak nyaman. "Lah iya, gue juga mendadak kerasa nih. Kenapa bisa barengan gini?"
Dion memperhatikan perubahan drastis kedua temannya dengan raut heran. "Kalian berdua kenapa sih malah pada kesakitan gitu?"
Tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, Rico dan Steve mendadak beranjak dari kursi lalu berlari kencang menuju arah toilet di belakang kantin.
"Gara-gara belimbing wuluh tadi nih pasti!" teriak Rico heboh saat hampir melintasi tikungan lorong.
Alyssa memandangi figur dua murid yang berlari itu dengan dahi berkerut. "Teman-teman kamu kenapa deh kok mendadak lari gitu?"
Dion menyeringai tipis menahan tawa. "Tadi pas makan siang mereka berdua nekat makan belimbing wuluh mentah buat lauk. Kayaknya kadar asamnya langsung bereaksi di perut."
Alyssa tertawa lepas mendengar alasan konyol tersebut. "Ada-ada aja emang kelakuan mereka."
"Bikin rusuh terus emang anaknya," timpal Dion ikut terkekeh.
Alyssa mengnodok pelan, lalu mengarahkan pandangannya kembali pada Dion dengan binar mata antusias. "Eh iya, balik ke topik tadi. Kamu juga beneran suka ngikutin perkembangan idol group gitu?"
"Lumayan sih," sahut Dion santai. "Apalagi kalau dihubungin sama impian jalan-jalan ke Jepang bareng anak-anak tadi, rasanya makin seru aja."
Alyssa sedikit memajukan posisi tubuhnya. "Aku juga bermimpi mau ke sana suatu saat nanti. Mau coba nonton teater AKB48 langsung di Akihabara, dari dulu aku udah pengin banget."
Dion menyimak cerita itu, matanya tertuju pada Alyssa yang tampak begitu bersemangat. Namun tepat saat Dion hendak membuka mulut untuk memberikan tanggapan, permukaan meja kayu tempat mereka bersandar mendadak bergetar cukup kuat.
Gelas plastik bekas es teh bahkan bergeser pelan akibat guncangan tersebut.
Mereka berdua saling melempar pandang dengan raut terkejut. Tidak lama kemudian, dari arah luar kantin terdengar suara...
Bab 3: Keributan di Kantin
Bruk!
Meja kantin terdorong kencang hingga wadah sendok plastik hampir tersenggol jatuh. Zaki sudah berdiri tegak di hadapan meja dengan raut wajah berang, sementara cengkeraman tangannya mendadak sudah mencengkeram kerah seragam Dion. Dua temannya yang berbadan bongsor berdiri menatap dingin dari belakang, siap menyudutkan siapa saja.
"Lo gak usah belagu sok akrab sama Alyssa, ya! Gak sadar diri apa kalau dia itu cewek gue?!" bentak Zaki kencang.
Suara kegaduhan dari meja sudut itu membuat seisi kantin hening seketika. Para murid yang tadinya sibuk menyantap makanan dan berbincang mendadak berpaling bersamaan, menyaksikan perselisihan yang terjadi di hadapan mereka.
Dion mencoba menepis cengkeraman tangan Zaki dari bagian lehernya. Ia beranjak berdiri secara perlahan meski kalah dalam postur tubuh.
"Santai aja kali, gak usah pakai tarik kerah segala," sahut Dion berusaha menekan emosinya. "Gue cuma ngobrol biasa sama Alyssa, gak ada maksud apa-apa."
"Emangnya siapa kamu, aku gak pernah bilang mau jadi pacar kamu, Zak," sela Alyssa cepat dari samping, suaranya tegas menahan geram.
Zaki menoleh sekilas ke arah Alyssa dengan raut tersinggung, sebelum kembali memelototi Dion. Terkekeh sinis, raut wajahnya tampak kian mengeruh.
"Banyak gaya juga lo ternyata, ya," desis Zaki pelan.
Tanpa memberikan aba-aba, tinju Zaki melayang mendarat tepat di wajah Dion. Hantaman keras tersebut membuat Dion kehilangan keseimbangan hingga jatuh terduduk di atas ubin kantin. Darah segar seketika menetes dari lubang hidungnya.
Menahan rasa nyeri yang berdenyut di area wajah, Dion mendongak menatap Zaki. "Denger sendiri kan barusan? Lo gak bisa maksain kehendak ke cewek kalau dianya sendiri gak nyaman."
Kalimat Dion justru membuat amarah Zaki kian tersulut. Ia melangkah maju hendak melayangkan pukulan berikutnya, sementara dua temannya ikut mengambil posisi menutup ruang gerak Dion di lantai. Dion hanya mampu menyilangkan kedua lengan untuk melindungi area kepala.
Alyssa yang semula terpaku langsung beranjak berdiri hingga posisi kursinya terdorong ke belakang. Ia nekat menarik lengan jaket Zaki dari arah samping.
"Zaki, stop! Lo udah gila ya main fisik gini?!" teriak Alyssa panik dengan binar mata berkaca-kaca menahan emosi.
Zaki yang sedang diselimuti emosi justru mengibaskan pegangan Alyssa cukup keras. Alyssa sempat terhuyung beberapa langkah ke belakang dan terpaksa berpegangan pada pinggiran meja kayu agar tidak terjatuh.
"Aku gak ada urusan sama kamu, diam aja!" bentak Zaki tanpa memutar pandangan.
Suasana kantin kian mencekam. Murid-murid lain hanya mampu mengamati dari kejauhan tanpa ada yang berani melerai karena takut menjadi sasaran amarah kelompok Zaki.
Hingga akhirnya, dari arah lorong toilet belakang, muncul dua murid yang baru saja berlari tergesa-gesa.
Langkah Steve dan Rico mendadak terhenti begitu keluar dari lorong toilet. Melihat Dion tergeletak di lantai kantin, mata Rico langsung membelalak lebar. Mereka sempat saling pandang sekilas sebelum Rico maju paling depan.
"Woy, apaan nih! Beraninya main keroyokan lo pada!" teriak Rico kencang hingga suaranya menggema di area kantin.
Zaki menahan tangannya yang sudah bersiap melayang kembali ke arah Dion. Ia menoleh santai memandangi Rico yang berjalan mendekat.
Rico langsung memasang badan walau pelipisnya masih basah oleh keringat dingin sisa dari toilet. "Kalau lo emang merasa jagoan, lawan gue sama Steve di sini! Gak usah sok keras ngeroyok anak orang!"
Steve yang berdiri di sampingnya mendadak pucat. Ia berbisik pelan, menyenggol pinggang Rico. "Lah, kok nama gue dibawa-bawa sih? Gue ke sini mau nengokin Dion, bukan ikut tawuran."
Rico sama sekali tidak mengindahkan ucapan temannya. Pandangannya justru sibuk memindai permukaan meja kantin terdekat, hingga fokusnya tertahan pada sebuah botol plastik berisi saus cabai super pedas yang masih penuh.
Ia menatap botol itu sejenak, rahangnya mengeras seolah menyusun tekad. Tanpa pikir panjang lagi, tangannya meraih botol tersebut lalu memutar tutupnya hingga terlepas. Ia langsung menenggak isi cairan merah itu dalam beberapa tegukan besar.
"Sini lo bertiga kalau emang gak punya rasa takut!" bentak Rico heboh. Wajahnya seketika memerah padam, sementara air mata mulai menetes menahan sensasi terbakar di lidahnya.
Steve yang menyaksikan aksi itu hanya bisa pasrah. Ia ikut mengambil posisi kuda-kuda konyol di samping Rico. "Nah kan, temen gue udah masuk mode kesetanan! Lo bertiga sanggup gak ngadepin dia!?"
Zaki dan kedua temannya saling melempar pandang dengan raut bingung. Keberanian mereka mendadak surut bukan karena gentar secara fisik, melainkan heran melihat tingkah Rico yang di luar nalar.
Salah satu teman Zaki berbisik pelan, menyenggol bahunya. "Zak, mending kita cabut aja deh. Ini anak kayaknya udah gak beres otaknya."
Zaki menghembuskan napas kencang. Harga dirinya jelas tersentil, namun ia juga enggan melayani tingkah aneh di hadapannya.
"Cuma buang-buang tenaga ngelayanin orang gila," gerutu Zaki sinis.
Ia melirik sekilas ke arah Dion yang masih memegangi hidungnya di lantai. "Beruntung lo hari ini ada yang nyelamatin."
Geng Zaki akhirnya memutar badan lalu pergi meninggalkan kantin. Alyssa sempat menoleh sejenak ke arah Dion dengan raut penuh rasa bersalah, sebelum akhirnya terpaksa berjalan cepat menyamai langkah Zaki yang sudah jauh di depan.
Begitu kelompok Zaki menjauh dari area kantin, Steve dan Rico bergegas menghampiri Dion yang masih terduduk di ubin.
"Lo gak apa-apa, kan? Ada tulang yang patah gak?" tanya Rico dengan raut panik, meski area sekitar bibirnya tampak memerah menyala akibat menenggak saus tadi.
Dion merintih pelan, berusaha menegakkan posisi duduknya, dibantu oleh Steve yang memegangi kedua lengannya.
"Aman kok, tenang aja," sahut Dion sambil mengusap bercak darah di bawah hidungnya. "Sensasi nyerinya gak seberapa dibanding ditinggal oshi lulus."
Steve menggelengkan kepala mengamati tingkah temannya itu. "Muka udah bonyok begini masih sempat-sempatnya lo bercanda soal idol."
Rico yang berdiri di samping mereka sibuk mengibaskan telapak tangan ke arah mulutnya yang terasa terbakar. "Sudah lah, mending sekarang kita ke UKS aja biar hidung lo diobatin. Tapi sebelum itu, kayaknya gue butuh air dingin satu botol besar ini mah, sekalian tisu sekantong."
Ketiga murid itu akhirnya berjalan perlahan meninggalkan area kantin. Dion berjalan sedikit pincang disanggah oleh Steve di sampingnya, sementara Rico sibuk menghembuskan napas menahan sensasi pedas di lidah. Pandangan para murid di kantin tetap tertuju pada mereka hingga figur bertiga itu menghilang di tikungan lorong.
Kondisi mereka memang tampak cukup memprihatinkan siang itu, namun setidaknya ketegangan yang sempat tercipta berhasil dibubarkan oleh aksi random yang sama sekali tidak terduga.
Bab 4: Berangkat Bersama
Langit pagi itu nampak mendung menggantung. Dion berdiri di samping sepeda motor matik kuningnya, mengusap sisa embun malam di atas jok.
"Kalau bukan gara-gara ada ulangan fisika dari Pak Kisame, mendingan gue lanjut tidur di kamar," keluh Dion pelan.
Dion meraup napas panjang, lantas memutar kunci kontak dan menekan tombol starter yang sempat tersendat beberapa kali sebelum akhirnya mesin menyala.
"Ma, Dion berangkat sekolah dulu ya!" teriaknya dari arah garasi.
Tanpa menanti balasan dari dalam rumah, Dion bergegas menarik tuas gas dan membelah dinginnya udara pagi. Ia melaju meninggalkan kehangatan kasur, siap tidak siap menghadapi kenyataan hari ini.
Laju sepeda motor Dion terhenti begitu lampu lalu lintas menyalakan warna merah. Dion menghela napas sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling jalanan untuk mengusir rasa jenuh.
Semuanya terasa normal, sampai pandangannya tertuju pada sosok Alyssa yang berdiri di tepi halte seberang.
Gadis itu berdiri sendirian sambil memeluk tas sekolahnya erat-erat. Sesekali ia mendongak menatap langit kelabu yang mulai gelap. Wajahnya tampak cemas, entah karena bus yang tidak kunjung datang atau ada hal lain yang dipikirkannya.
Dion menelan ludah. Ada sedikit keraguan di hatinya, namun rasa penasaran mengalahkan hal itu. Ia menaikkan tangan lalu melambaikannya.
"Alyssa! Mau ke sekolah bareng gak?" panggil Dion cukup kencang.
Alyssa menoleh kaget. Raut wajahnya berubah lega ketika mengenali siapa yang memanggilnya.
"Eh, Dion?" sahut Alyssa.
Dion langsung mengarahkan motornya melintasi jalanan begitu ada celah kosong.
"Daripada lo nunggu bus yang gak jelas terus keburu hujan, mending naik bareng aja. Sebentar lagi bel masuk berbunyi nih," ujar Dion sambil menepuk jok belakang dan menyodorkan helm cadangan.
Alyssa sempat ragu sejenak. Ia melirik ke arah ujung jalan yang sepi sebelum kembali menatap Dion. "Beneran gak apa-apa nih aku numpang?"
Dion mengnodok cepat. "Santai aja, gue bawanya pelan-pelan kok."
Alyssa akhirnya mengnodok pelan. "Yaudah deh, aku bareng kamu ya."
Gadis itu mendekat lalu naik ke jok belakang. Setelah memastikan helm terpasang dengan benar, motor matik kuning itu kembali melaju meninggalkan halte yang sepi.
Jalanan masih basah oleh sisa hujan semalam. Sepeda motor Dion melaju tenang membelah angin pagi, membawa mereka berdua menuju sekolah.
Beberapa menit terlewati tanpa percakapan, hanya desis angin pagi dan gesekan roda kendaraan yang menyapu permukaan aspal basah.
Hingga akhirnya, Alyssa memecah keheningan itu.
"Dion... soal kejadian kemarin..." bisik Alyssa pelan, suaranya samar terbawa terpaan angin dari depan. "Aku minta maaf ya. Gara-gara aku, kamu malah jadi kena masalah sama Zaki."
Dion tidak langsung menyahut. Ia melirik sedikit lewat kaca spion tanpa mengalihkan fokus dari jalanan.
"Udah, gak usah dipikirin lagi. Gue gak apa-apa kok, lagian lukanya juga udah sembuh," sahut Dion tenang.
Alyssa menghembuskan napas lega mendengar jawaban itu.
"Sekarang pegangan yang erat ya, soalnya sebentar lagi bel masuk bunyi dan kita hampir telat," lanjut Dion.
Alyssa terdiam sejenak. Lantas secara perlahan, kedua tangannya bergerak memeluk pinggang Dion dari belakang.
Dion sempat kaget dengan pelukan itu, namun tidak berkomentar apa pun. Ia hanya menambah kecepatan motor, berusaha fokus pada jalanan yang mulai ramai kendaraan lain.
Langit di atas mereka masih diselimuti warna kelabu, dan angin pagi tetap membawa hawa dingin yang menusuk. Namun entah kenapa, genggaman di pinggangnya itu terasa lebih erat dari yang seharusnya dibutuhkan hanya untuk sekadar berpegangan.
Bab 5: Gerbang Sekolah
Setibanya di pelataran sekolah, gerimis tipis baru saja mereda. Hawa dingin merayap pelan menembus kulit seragam.
Dentang bel sekolah mendadak membahana nyaring, terdengar sampai ke tiap sudut selasar.
Dion dan Alyssa baru saja turun dari sepeda motor. Mereka berdiri berhadapan, saling menatap sejenak di tengah bisingnya murid-murid lain yang berlarian. Tidak ada yang tergesa melangkah pergi, tidak ada juga yang membuka suara duluan.
Ukiran senyum canggung akhirnya terbit dari paras keduanya.
"Dion, terima kasih banyak ya udah mau kasih tumpangan," tutur Alyssa lembut. "Aku gak sanggup membayangkan kalau harus terjebak sendirian di halte tadi. Bisa-bisa baru sampai sekolah pas jam ketiga."
Dion menyunggingkan senyum balasan, kendati pandangannya lekas mengalihkan fokus ke arah lain. Tangannya berpura-pura sibuk merapikan helm ke dalam bagasi motor demi menyamarkan getar gugup.
"Sama-sama, Alyssa. Gue juga senang bisa bantu lo," jawab Dion mencoba tenang, walau nada suaranya sedikit tertahan. "Yaudah, lo langsung masuk kelas sana, bel kan udah bunyi dari tadi."
Alyssa terkekeh pelan, lantas mengayunkan jemarinya singkat sebelum membalikkan badan. Langkah kakinya mengayun ringan menyusuri selasar.
Dion menetap sejenak di posisinya, memandangi figur Alyssa yang kian perlahan menghilang di tikungan lorong. Ia menghembuskan napas panjang sembari melangkah menuju kelas 12D.
Namun di sudut halaman yang sunyi, sepasang mata memperhatikan interaksi mereka sejak awal. Zaki berdiri di balik tiang bendera yang basah, tatapannya tajam dengan rahang mengatup rapat.
Setiap detail terekam jelas oleh pandangannya. Tatapan Alyssa, rekah senyuman itu, serta jarak yang teramat dekat di antara keduanya. Bagi Zaki, hal tersebut merupakan tamparan keras pada harga dirinya.
Jemarinya mengepal kuat hingga buku jari memutih.
"Kurang ajar," bisiknya lirih.
Zaki menendang kerikil di depan kakinya, lalu berbalik melangkah pergi menuruti kekesalan yang kian membakar dada.
Bab 6: Obrolan Kamar
Cahaya matahari siang itu menyelinap tipis melewati celah jendela kamar. Dion duduk di mejanya, memegang tablet sambil mencoret layarnya perlahan. Wajah dan lengannya dipenuhi luka memar, namun raut mukanya tampak tenang.
Tiga ketukan terdengar dari pintu kamar.
Rico masuk lebih dulu dengan posisi bandana biru yang sedikit miring. Di belakangnya, Steve menyelinap masuk tanpa suara. Pandangan mereka berdua lurus tertuju pada luka-luka di tubuh Dion.
"Gimana kondisi lo, jagoan?" sapa Rico.
Dion tersenyum tipis. "Gue aman kok, santai."
Rico mendekat, memicingkan mata mengamati luka di wajah Dion. "Aman apanya. Muka lo udah mirip Kevin Aprilio habis kena tilang begini."
Dion terkekeh pelan. Steve yang sejak tadi membisu akhirnya angkat bicara.
"Gue gak bisa diam aja melihat ini. Zaki sama rombongannya udah keterlaluan. Kita mesti ambil tindakan, ini bukan cuma perkara lo doang, tapi soal harga diri Wota Fictive juga." Steve mengepalkan tangannya rapat-rapat.
Dion menghembuskan napas panjang, menyandarkan badan ke kursi. "Sudah lah, Stev. Capek kalau mau ribut terus, mending lupain aja dari pada makin panjang."
Rico menaikkan alisnya, lalu berpaling menatap Steve. "Lah, yang kemarin diam di pojokan malah sekarang paling vokal ngajak perang. Kemarin lo ke mana aja pas situasi tegang?"
Steve buru-buru menepis. "Gue bukannya kabur. Tadi itu gue lagi mengamankan area sambil cari sinyal buat pesan ojek. Itu namanya taktik bertahan hidup."
Rico menggelengkan kepala mendengar alasan itu, disusul tawa kecil dari Dion.
Raut wajah Rico mendadak berubah lebih serius saat ia mendaratkan badan di kursi. "Tapi serius D, mulai sekarang mending lo agak jaga jarak sama Alyssa deh. Supaya urusan sama Zaki gak makin melantur kayak sinetron."
Dion membuang pandangan dengan raut jengkel. "Lah, lagian gue mana pernah sengaja ngedeketin dia. Dianya sendiri yang mendadak muncul kemarin. Lo berdua kan lihat sendiri pas di kantin."
"Iya, gue tahu. Tapi tetap aja posisinya sekarang makin gak enak," tanggap Rico pelan.
Steve menyela dengan nada santai. "Ya lagian siapa juga yang gak mau ngobrol sama Alyssa. Cakep gitu anaknya."
Rico mendelik ke arah Steve. "Lo mau sekalian diincar Zaki juga di sekolah?"
Steve bergeser berlindung di balik bahu Dion. "Santai kali, gue cuma menilai secara objektif aja."
Dion menaikkan kedua tangannya untuk meredakan suasana. "Sudah-sudah, gak usah diributin. Mending kita bahas rencana ke Jepang aja. Persiapan lo berdua sudah sampai mana?"
Rico menggaruk kepalanya yang tertutup bandana. "Gue udah mulai nyisihin uang saku. Tapi ya kadang masih kepake buat beli kopi."
Steve menepuk dadanya penuh percaya diri. "Kalau gue udah terkumpul empat puluh ribu rupiah!"
"Lumayan juga tuh," puji Dion.
"Tapi kemarin langsung habis sih... dipakai beli rendang."
Rico seketika membelalakkan mata. "Rendang lagi? Rendang model apa yang sampai ngorbanin tabungan ke Jepang?!"
Steve menegakkan posisi tubuhnya dengan raut serius. "Lo gak paham kenikmatan hakiki. Ini bukan rendang biasa, bumbunya mantap banget sampai bikin nagih."
Dion tertawa pelan, kepalanya bersandar ke kursi. "Rendang memang enak, tapi kita beneran mesti disiplin nabung dari sekarang kalau mau berangkat."
Rico mengnodok setuju. "Awas aja kalau lo beli rendang lagi pakai uang tabungan, topi lo gue sita."
Steve mengangkat kedua tangannya. "Demi geng kita berangkat ke Jepang, gue tahan deh gak makan rendang dulu. Tapi kalau nanti di Tokyo ada yang jual rendang, lo berdua wajib traktir gue."
Gelak tawa mereka kembali pecah memenuhi ruangan. Di dalam kamar sempit milik Dion siang itu, cita-cita besar mereka terasa kian nyata. Kendati masalah di luar sana belum sepenuhnya usai dan memar di wajah Dion belum memudar, tekad mereka bertiga untuk berangkat ke negeri orang tetap terjaga.
Bab 7: Mading Rusak
Jam istirahat pertama baru saja berbunyi. Suasana perpustakaan sekolah terasa jauh lebih tenang dibanding kantin yang bising. Bau kertas tua dan pendar pendingin ruangan menyambut Dion saat ia melangkah masuk, mencari keberadaan Alyssa di antara deretan rak buku.
Di sudut meja kayu dekat jendela, Alyssa sudah duduk sambil membuka sebuah buku catatan tebal. Pandangannya terangkat begitu menyadari kehadiran Dion.
"Di sini," panggil Alyssa setengah berbisik, mengibaskan tangannya pelan.
Dion menghampiri lalu menarik kursi di hadapan Alyssa. "Sori ya agak lama, tadi dipanggil Pak Suwanto sebentar di kelas."
Alyssa tersenyum tipis. "Gak apa-apa kok. Makasih ya udah mau meluangkan waktu."
Gadis itu menyodorkan buku catatannya yang berisi draf denah pameran seni untuk festival sekolah bulan depan. "Jadi gini, panitia mau buat stan khusus pameran gambar di selasar utama. Aku ingat sketsa kota masa depan punya kamu kemarin, dan anak-anak panitia setuju kalau karya kamu dijadikan salah satu pajangan utama."
Dion menaikkan alisnya agak terkejut. "Beneran? Padahal gambar itu cuma iseng-iseng pas jam kosong."
"Detailnya bagus banget, Dion. Sayang kalau cuma disimpan di loker," tanggap Alyssa mantap. "Nanti kamu tinggal rapikan sedikit garisnya, terus kita bingkai."
Perbincangan mereka mengalir santai selama beberapa menit. Di sela perbincangan soal kertas dan ukuran bingkai, Alyssa sempat melirik lagi sisa memar di pipi Dion.
"Teman-teman kamu... lucu ya," cetus Alyssa tiba-tiba, mencoba mengalihkan suasana. "Yang pakai bandana biru itu nekat banget pas di kantin kemarin."
Dion tertawa pelan. "Rico emang rada miring otaknya. Tapi ya gitu, mereka berdua selalu pasang badan kalau ada apa-apa."
"Bagus dong, punya teman yang solid gitu," puji Alyssa, menatap Dion lekat. "Oh iya, soal rencana ke Jepang... kamu beneran niat mau ke sana?"
"Niat banget," jawab Dion yakin. "Walau tabungan Steve baru dipakai beli rendang kemarin, kita bertiga tetap optimis bisa berangkat."
Alyssa terkekeh halus mendengar cerita itu. "Kalau butuh info atau strategi bikin rincian biaya yang murah, kabarin aja ya. Aku suka nyatet kisaran harga tiket sama penginapan di sana."
Tepat saat Dion hendak membalas tawaran itu, seorang murid laki-laki anggota panitia mading berlari kecil menghampiri meja mereka dengan muka panik.
"Alyssa! Coba kalian ke papan mading depan selasar sekarang deh," ujar murid itu setengah berbisik ketakutan.
Dion dan Alyssa saling melempar pandang. Mereka bergegas beranjak dari perpustakaan menuju selasar utama sekolah.
Di depan papan mading yang dilapisi kaca, beberapa murid sudah berkumpul, berbisik-bisik satu sama lain. Kaca pelindung mading itu tampak retak di bagian tengah, sementara kertas sketsa kota masa depan milik Dion di dalamnya sudah terkoyak kasar dan dicoret-coret menggunakan spidol hitam permanen.
Tepat di bawah coretan gambar itu, tertulis satu kalimat pendek menggunakan huruf kapital.
GAK USAH SOK HEBAT.
Dion terdiam beberapa detik menatap kaca yang retak itu. Rahangnya mengeras, sementara kepalan tangannya tersembunyi di dalam saku celana.
"Anjing," desis Dion pelan, hampir tidak terdengar. "Segininya amat sih."
Alyssa membelalakkan mata tidak percaya melihat karya yang baru saja mereka bahas sudah rusak parah. Ia melirik cemas ke arah Dion yang masih membisu menatap mading.
Dari kejauhan di ujung lorong, sosok Zaki tampak melintas santai, kedua tangannya terselip di saku jaket, tanpa pernah memutar kepala ke belakang.
Bab 8: Respon Tenang
Rico dan Steve berdiri mematung di depan papan mading. Kaca yang retak serta sisa kertas gambar Dion yang terkoyak dan dipenuhi coretan spidol hitam masih menjadi tontonan beberapa murid yang melintas.
Rico mengepalkan tangannya rapat-rapat. Bandana birunya ditarik agak ke bawah dengan raut wajah menahan kekesalan.
"Ini udah keterlaluan banget. Gak ada kerjaan lain apa selain ngerusak barang orang?" gerutu Rico, memandang tajam ke arah lorong yang kosong.
Steve berdiri di sebelahnya dengan posisi topi terbalik, menggeleng pelan. "Jelas banget siapa pelakunya. Cuma satu orang di sekolah ini yang dendamnya gak selesai-selesai."
Dion masih berdiri membisu. Tatapannya tertuju pada garis-garis sketsa kota masa depan yang kini tertutup silang hitam tebal. Jemarinya yang meremas saku celana perlahan melonggar. Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya.
"Udah, biarin aja," ujar Dion tenang, walau nada suaranya terdengar sedikit berat.
Alyssa yang berdiri tidak jauh dari mereka menoleh kaget. "Dion, kamu beneran mau mendiamkan ini gitu aja? Ini kan karya kamu yang udah kamu bikin susah payah."
"Kalau gue melayani aksi kayak gini, yang ada acaranya dia yang berhasil," sahut Dion, menatap Alyssa. "Gambar kan bisa dibuat ulang. Yang penting pameran buat festival bulan depan tetap berjalan."
Rico menepuk bahu Dion cukup keras. "Lo yakin gak mau kita samperin sekarang? Gue masih simpan saus pedas sisa kemarin nih kalau mau dipakai lagi."
"Gak usah, Ric. Simpan aja saus lo buat makan siang," sahut Dion, yang berhasil memancing senyum tipis dari Steve, walau suasana di sekitar mading masih terasa agak tegang.
Alyssa mengamati Dion dari samping tanpa berkata apa-apa, memperhatikan bagaimana ia menyikapi masalah tersebut tanpa perlu mengandalkan otot.
"Yaudah," kata Alyssa pelan. "Nanti sore habis bel pulang, aku bantu kamu rapikan sisa kertas di mading ini. Terus kita susun ulang konsep gambarnya dari awal."
Dion mengnodok pelan. "Makasih ya, Sa."
From arah tangga menuju lantai dua, Zaki memperhatikan mereka yang masih berkumpul di selasar, rahangnya mengatup rapat menyaksikan Dion yang tetap tenang tanpa terpancing sedikit pun.
Zaki berbalik badan dengan langkah kasar, meninggalkan selasar tanpa menoleh lagi.
Bab 9: Pulang Sekolah
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Selasar yang tadinya ramai perlahan mulai sepi ditinggalkan para murid yang bergegas pulang.
Dion dan Alyssa berdiri di depan papan mading. Kaca pelindung yang retak sudah dibuka perlahan, lalu Alyssa menarik sisa-sisa kertas sketsa yang terkoyak dari selotipnya. Dion menampung pecahan kertas tersebut di atas telapak tangannya.
"Sayang banget ya, padahal detail arsitektur kotanya rapi banget," ujar Alyssa pelan, memandangi sobekan gambar itu.
Dion tersenyum tipis. "Gak apa-apa kok. Nanti malam gue buat draf baru dari nol. Lagian ide yang sekarang rasanya bisa dibuat lebih bagus dari yang kemarin."
Alyssa menoleh, menatap Dion dengan binar kagum. "Kamu kok bisa setenang ini sih? Kalau aku di posisi kamu, mungkin udah emosi banget."
Dion menggedikkan bahu, memasukkan sobekan kertas ke dalam tempat sampah terdekat. "Capek kalau mau diikutin terus emosinya. Mending energinya dipakai buat hal yang lebih berguna."
Mereka berdua menyusuri lorong menuju arah parkiran. Langkah kaki mereka mengayun beriringan di tengah kesunyian koridor sekolah yang mulai menggelap diliputi bayang-bayang sore.
"Dion, soal festival bulan depan..." Alyssa membuka suara lagi. "Panitia kan butuh dekorasi utama buat panggung. Mau gak kamu ikut bantu rancang konsep visualnya sekalian?"
Dion menoleh agak kaget. "Gue? Beneran gak apa-apa nih? Nanti anak-anak panitia lain keberatan gak?"
"Aku kan koordinator acaranya, jadi aku yang pegang keputusan," sahut Alyssa penuh percaya diri, lalu terkekeh pelan. "Lagian anak-anak udah pada tahu kualitas gambar kamu."
"Bolehlah kalau gitu," sahut Dion. "Nanti gue ajak Steve sama Rico juga biar ada yang bantu-bantu angkat barang."
Alyssa mengnodok setuju.
Setibanya di pelataran parkir, Dion menghampiri motor matik kuningnya. Saat ia meraih helm dari stang motor, dari arah gerbang sekolah terdengar deru mesin motor sport yang digas kencang.
Zaki melintas perlahan di depan gerbang, menatap lurus ke arah Dion dan Alyssa yang sedang berdiri berdekatan. Ia menghentikan motornya sejenak tepat di ambang gerbang, seolah sempat berpikir untuk berbalik. Namun ia hanya menarik tuas gasnya lebih dalam hingga suara knalpot melengking keras membelah kesunyian sore, sebelum akhirnya tancap gas menghilang di belokan jalan.
Alyssa menghembuskan napas panjang, memegang tali tasnya erat-erat. "Dia makin aneh aja belakangan ini."
"Biarin aja," sahut Dion tenang, menyodorkan helm ke arah Alyssa. "Yuk gue antar pulang, langit udah mulai mendung lagi tuh."
Alyssa menyambut helm tersebut sambil menyunggingkan senyum hangat, menyadarkan Dion bahwasanya provokasi Zaki sama sekali tidak sanggup merusak momen sore itu.
Bab 10: Persiapan Stan
Dua minggu berlalu begitu cepat. Persiapan festival sekolah sudah memasuki H-1. Area lapangan basket dan selasar utama dipenuhi dekorasi, panggung besar sudah berdiri kokoh, dan stan-stan pameran mulai dirapikan oleh para murid.
Di sudut stan pameran seni, Dion sibuk menempelkan bingkai kayu berisi gambar sketsa kota masa depan yang baru. Hasilnya jauh lebih detail dan besar dibanding gambar yang sempat dirusak Zaki.
"Rico, sedikit ke kanan bingkai yang itu," ujar Dion, melangkah mundur beberapa tindak untuk mengecek posisi.
Rico yang sedang memegang bingkai kayu langsung menggesernya sedikit. Bandana birunya sudah agak miring terkena keringat. "Ini udah lurus belum? Tangan gue udah pegal nih berdiri dari tadi."
Steve yang duduk di atas kotak kayu sambil memegang papan jalan menanggapi santai. "Kurang ke kanan sejengkal, Ric. Biar simetris secara estetika ilmiah."
"Banyak gaya lo, dari tadi cuma duduk doang sambil pegang papan kosong!" gerutu Rico.
Dion cuma bisa tertawa melihat kelakuan dua temannya. Di saat bersamaan, Alyssa berjalan mendekati stan mereka membawa beberapa lembar kertas denah dan segelas minuman dingin.
"Gimana persiapan stan gambar? Ada yang masih kurang?" tanya Alyssa, menyerahkan minuman itu ke Dion.
Dion menerima gelas plastik tersebut. "Aman kok, tinggal rapi-rapin sedikit lagi. Makasih ya minumannya."
Alyssa tersenyum lega memandangi bingkai-bingkai gambar yang sudah terpajang rapi. "Gambar kamu beneran bagus banget, Dion. Aku yakin besok bakal jadi salah satu stan paling ramai."
Namun kehangatan suasana itu tidak bertahan lama. Dari balik panggung utama, Zaki berjalan menghampiri stan pameran bersama dua temannya. Salah satu dari mereka menenteng ransel yang tampak penuh, terus dijaga dengan cara dipeluk di depan dada. Wajah Zaki tampak keruh, tidak suka melihat ramahnya interaksi Alyssa dan Dion, apalagi melihat sketsa baru Dion yang kini terpasang rapi.
Zaki sengaja menyenggol salah satu tiang penyangga stan hingga bingkai kayu di atas meja bergetar keras dan hampir jatuh.
"Ups, sori. Gak sengaja," gerutu Zaki sinis tanpa ada raut menyesal sedikit pun.
Steve dan Rico langsung berdiri tegak, memasang posisi siap membalas. Tapi Dion cepat-cepat memegang lengan Rico, memberi tanda untuk tetap tenang.
Zaki menatap Dion tepat di mata dengan tatapan meremehkan. "Besok acara gede, D. Pastiin gambar-gambar sampah lo ini gak bikin malu sekolah."
Salah satu teman Zaki terkekeh pelan sambil membetulkan posisi ranselnya, sebelum buru-buru diam begitu Zaki melirik tajam ke arahnya.
Alyssa melangkah maju menahan emosi. "Zaki, cukup ya! Ini stan pameran umum, jangan mulai buat masalah di sini."
Zaki terkekeh pelan, melirik Alyssa sekilas sebelum kembali menatap Dion. "Kita lihat aja besok seberapa bertahan sifat sok tenang lo itu."
Tanpa menunggu balasan, Zaki dan gengnya berbalik pergi meninggalkan area pameran.
Suasana di stan mendadak hening sejenak. Steve menghembuskan napas panjang, membetulkan posisi topinya. "Gue punya firasat buruk soal besok. Anak itu pasti udah nyiapin sesuatu pas acara puncak."
Rico mengernyit. "Lo perhatiin gak, temennya yang bawa ransel tadi? Dipegangin banget kayak isinya penting."
Dion menatap kepergian Zaki dengan raut tenang namun waspada. Ia paham betul, besok di hari festival sekolah, puncak dari semua gesekan ini tidak akan bisa dihindari lagi.
Bab 11: Kericuhan Gudang
Hari H festival sekolah akhirnya tiba. Suasana kampus sekolah mendadak berubah meriah, dipenuhi deretan stan makanan, pameran karya, serta alunan musik dari panggung utama yang berdentum kencang sejak pagi.
Stan pameran seni milik Dion tampak ramai dikunjungi murid-murid dari berbagai angkatan. Sketsa kota masa depan yang baru terpajang gagah di tengah papan pameran, berhasil menarik perhatian banyak pasang mata.
Dion berdiri di samping stan, merapikan letak bingkai kayu dengan raut wajah puas. Di sebelahnya, Steve dan Rico sibuk membagikan brosur kecil buatan tangan mereka sendiri.
"Gila, ramai banget yang mampir ke stan lo, D," bisik Steve, mengusap dahi dengan posisi topi diputar ke belakang. "Reputasi Wota Fictive makin terangkat ini mah."
Rico menimpali sambil merapikan letak bandananya. "Brosur gue tinggal sisa tiga lembar. Kalau begini caranya, kita bisa buka jasa open commission buat nambah tabungan ke Jepang."
"Stok cadangan ada di ruang simpan belakang panggung," kata Steve. "Gue ambil bentar."
"Gue temenin," sahut Rico. "Lo kalau jalan sendirian bisa nyasar ke stan rendang."
Dion hanya bisa menyunggingkan senyum tipis melihat dua temannya menghilang di balik kerumunan.
Tidak sampai sepuluh menit, keduanya kembali dengan napas memburu. Steve bahkan lupa membawa brosur yang katanya mau diambil.
"D! Gawat!" bisik Steve, menarik lengan Dion menjauh dari pengunjung. "Di ruang simpan ada tas gede, isinya kaleng cat semprot. Banyak banget, merah semua!"
"Ransel yang kemarin gue bilang," timpal Rico dengan wajah tegang. "Terus pas mau keluar, gue liat dua temen Zaki lewat lorong. Mereka gak sadar kita liat."
Dion terdiam. Ia teringat panel dekor panggung yang kemarin disebut Alyssa, tersimpan di ruangan yang sama dan baru akan dipasang pada jeda siang nanti.
Alyssa menyusul tak lama kemudian dari arah panggung, membawa papan jadwal. Begitu mendengar cerita Steve, wajahnya langsung memucat.
"Panelnya ada di sana semua," ucap Alyssa lirih. "Kalau rusak, gak ada waktu buat ganti sebelum acara puncak. Panggungnya kosong."
"Sa, lo bisa minta panitia panggil Pak Suwanto ke ruang simpan?" tanya Dion tenang. "Bilang aja ada yang mencurigakan di sana. Gue sama anak-anak duluan, biar Zaki belum sempat ngapa-ngapain."
Alyssa mengnodok cepat sambil mengeluarkan ponselnya. "Aku chat anak panitia lewat grup sekarang, minta mereka panggil Pak Suwanto ke ruang simpan. Habis itu aku nyusul kalian."
Steve menelan ludah saat mereka mulai berjalan. "Ric, lo masih bawa saus gak?"
"Udah abis," bisik Rico, wajahnya tegang.
Area belakang panggung terasa jauh lebih sepi. Suara musik dari panggung utama hanya terdengar sebagai dentuman samar yang terhalang dinding gipsum.
Pintu ruang simpan terbuka separuh. Dari celahnya terdengar desis semprotan yang berulang. Dion mendorong pintu itu perlahan dan mendapati Zaki berdiri di depan tumpukan panel kayu yang sebagian sudah tercoreng merah tebal. Dua temannya berjaga di dekat lorong.
"Lo beneran gak ada kapoknya ya, Zak?"
Zaki menghentikan gerakan tangannya lalu memutar badan dengan senyum meremehkan. Kaleng cat merah masih teracung di tangannya.
"Datang juga lo, pahlawan," cibir Zaki. "Panggung kosong pas acara puncak, panitia kacau, dan koordinator kesayangan lo yang disalahin. Enak kan?"
Rico dan Steve hendak maju, tetapi Dion mengangkat satu tangan tanpa menoleh.
"Kalian diam di situ," ucap Dion pelan. "Ini urusan gue."
Rico menelan ludah dan mundur setengah langkah. Steve ikut mundur, sementara Alyssa yang baru tiba di ambang pintu menahan napas.
"Zak, taruh catnya," ujar Alyssa. "Ini acara sekolah. Jangan bikin malu diri lo sendiri gara-gara emosi gak jelas."
Zaki menoleh sekilas, raut wajahnya makin keruh. "Gak usah sok nasihatin gue, Sa! Cewek kayak lo mau-maunya jalan sama cowok lemah yang hanya berani ngumpet di balik temen-temennya!"
Dion tidak menanggapi Alyssa maupun hinaan itu. Ia hanya maju dua langkah, lalu berhenti.
"Teman-teman gue udah gue suruh diam," katanya datar. "Sekarang yang ada di depan lo hanya gue."
Rahang Zaki mengeras. Kaleng cat di tangannya dibantingnya ke lantai hingga menggelinding ke sudut ruangan, lalu jemarinya menggenggam rapat.
"Lo mau apa sebenarnya?" tanya Dion dingin. "Lo benci sama gue? Atau lo takut karena Alyssa lebih milih ngobrol sama gue dibanding melayani tingkah kasar lo?"
Kalimat itu tepat mengenai sasaran. Wajah Zaki memerah padam, gengsinya terinjak di depan kawan-kawannya sendiri.
"Bacot lo," desis Zaki. Ia maju hingga jarak mereka hanya tersisa sejengkal.
Tidak ada yang bergerak setelah itu.
Zaki berdiri dengan kepalan tangan gemetar di samping tubuhnya, napasnya berat menyapu wajah Dion. Dion balas menatap tanpa berkedip. Kepalan tangan kanannya ikut mengeras. Dentuman musik dari panggung terdengar samar, ditingkahi bunyi kaleng yang masih berputar pelan di lantai.
Seisi ruangan menahan napas. Siapa pun yang mengayunkan tangan lebih dulu akan kalah, dan keduanya tahu itu.
Detik demi detik terasa panjang. Keringat menetes dari pelipis Zaki. Sorot mata Dion tidak bergeser sedikit pun.
"Ada apa ini heboh-heboh?!"
Suara bass yang menggelegar itu membelah keheningan. Pak Suwanto berdiri di ambang pintu bersama dua guru piket. Pandangannya menyapu kaleng cat di lantai dan panel-panel dekor yang sebagian sudah merah, lalu berhenti pada kedua tangan Zaki yang berlumur cat merah.
Dua teman Zaki di lorong buru-buru mundur, berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Perlahan, kepalan tangan Zaki mengendur. Kepalan Dion menyusul, turun kembali ke samping tubuhnya.
"Zaki, ikut Bapak ke ruang kesiswaan sekarang juga!" tegas Pak Suwanto tanpa kompromi. "Yang lain bubar, kembali ke area festival!"
Zaki menatap Dion sekali lagi dengan pandangan penuh kekalahan dan rasa malu, lalu berjalan mengekor di belakang Pak Suwanto. Rencana yang ia susun justru berbalik dan menghancurkan posisinya sendiri di hadapan para guru.
Ruang simpan kembali hening. Alyssa menghembuskan napas lega yang amat panjang, sementara Dion mendekati tumpukan panel dan memeriksanya satu per satu.
"Dua panel kena, sisanya aman," lapor Dion. "Masih sempat dicat ulang sebelum jeda siang kalau kita gerak sekarang."
"Kalau Steve gak nemu ransel itu, semuanya udah habis," ucap Alyssa.
Steve menepuk dadanya bangga. "Brosur gue nyelametin festival, Sa."
"Lo bahkan lupa bawa brosurnya," sahut Rico datar.
Steve lalu menoleh pada Dion, wajahnya berubah serius. "Tapi tadi lo udah mau mukul kan? Gue liat sendiri tangan lo udah ngepal."
Dion menatap kepalan tangannya sejenak. "Hampir. Tapi kalau gue bales, gue sama aja kayak dia."
Rico menepuk bahu Dion kencang. "Tetap aja, kata-kata lo tadi mantap banget, D. Telak!"
Dion mengulas senyum tipis, merasa beban berat yang menggantung selama beberapa minggu terakhir akhirnya terangkat sepenuhnya.
Bab 12: Penutupan Festival
Sesi penilaian juri berjalan lancar tanpa gangguan. Beberapa juri sempat berhenti cukup lama di depan sketsa kota masa depan milik Dion, mengangguk-angguk sambil berbisik satu sama lain sebelum mencatat sesuatu di lembar penilaian. Hasilnya baru diumumkan sore hari, saat stan pameran seni milik Dion resmi dinobatkan sebagai stan terfavorit pilihan pengunjung dan juri di penutupan festival.
Sore harinya, saat keramaian festival mulai menyusut dan matahari perlahan tenggelam di balik gedung sekolah, Dion, Steve, Rico, dan Alyssa duduk bersama di tangga selasar utama. Kertas sertifikat penghargaan tergeletak di samping mereka, ditemani empat gelas es teh manis yang sudah mencair separuhnya.
"Gue masih gak nyangka sih, sketsa lo bisa menang," kata Steve, meminum es tehnya. "Tapi ya berkat itu, nama geng Wota Fictive resmi harum di sejarah sekolah."
Rico menepuk bahu Steve pelan. "Lebih penting lagi, hadiah voucher tunai dari panitia lumayan banget buat nambahin tabungan kita ke Jepang!"
"Nah, akhirnya ada progress beneran," sahut Alyssa, melirik Dion sambil tersenyum. "Kemarin kan kalian baru sebatas niat doang, sekarang tabungannya jadi lebih konkret."
Dion tersenyum tipis, menatap langit sore yang memerah. "Iya, mimpi kita bertiga dari awal masuk SMA. Walau proses nabungnya sering terhambat gara-gara hal-hal gak penting."
Steve buru-buru membuang muka, pura-pura tidak mendengar sindiran Dion yang mengarah pada urusan rendang kemarin.
Alyssa terkekeh halus. "Kalau gitu, nanti pas kalian beneran berangkat, jangan lupa kirim foto dari Tokyo ya. Atau ajak aku sekalian kalau ada sisa kuota."
"Bisa diatur itu mah," sahut Rico cepat, tertawa lepas.
Di sudut lorong yang mulai sepi, Zaki tampak berjalan keluar dari koridor ruang kesiswaan membawa tas sekolahnya. Langkahnya gontai, raut wajahnya lesu tanpa sisa kepungan emosi seperti biasanya. Ia sempat melirik sebentar ke arah Dion dan teman-temannya yang sedang tertawa di tangga, sebelum akhirnya pergi meninggalkan sekolah tanpa mengusik mereka lagi.
Dion memandangi kepergian Zaki sejenak, lalu kembali menyesap es tehnya. Masalah itu, setidaknya untuk sekarang, sudah selesai.
Bab 13: Hari Kelulusan
Halaman sekolah dipenuhi riuh murid-murid kelas 12 yang saling membubuhkan tanda tangan pakai spidol warna-warni di seragam putih mereka. Suasana haru dan tawa bercampur jadi satu membelah terik matahari siang itu.
Dion berdiri di dekat tiang bendera, melihat coretan gambar karakter anime konyol buatan Steve yang menghiasi bagian belakang kemejanya.
"Jelek banget buatan lo, Stev," seloroh Dion sambil meraba punggungnya.
Steve malah menepuk dadanya bangga, posisi topinya diputar ke belakang. "Itu karya seni terbatas, D. Siapa tahu pas lo udah sukses nanti, baju ini bisa dijual mahal."
Rico menghampiri mereka dengan bandana biru khasnya yang kini penuh coretan ucapan selamat dari anak-anak kelas lain. Di tangannya, ada tiga kaleng minuman dingin.
"Nih, buat merayakan kebebasan kita dari ujian," ujar Rico sambil membagikan kaleng minuman itu. "Gimana kabar tabungan kita? Udah bisa beli tiket penerbangan belum?"
Steve mendadak batuk kecil. "Tabungan gue... udah lumayan kok. Cuma kemarin terpakai dikit buat beli jaket winter thrift. Kan harus persiapan cold weather di Jepang."
Rico melotot. "Alasan aja lo! Bilang aja sisa uangnya dipakai beli rendang lagi!"
Tawa mereka bertiga pecah di tengah keramaian halaman sekolah.
Dari arah selasar, Alyssa berjalan mendekati mereka. Seragam putihnya tampak rapi dengan beberapa tanda tangan kecil dari teman-teman sekelasnya. Ia tersenyum manis saat matanya berpapasan dengan Dion.
Steve dan Rico yang peka langsung memberi kode satu sama lain.
"Eh D, gue sama Steve mau ke kantin dulu ya, mau minta tanda tangan Pak Suwanto di topi Steve," alibi Rico asal.
"Lah, kok topi gue?" protes Steve yang langsung ditarik paksa oleh Rico menjauh dari lokasi.
Dion hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah dua temannya, lalu berbalik menatap Alyssa.
"Selamat ya, Sa. Lulus juga akhirnya," ucap Dion lembut.
"Selamat juga buat kamu, Dion," sahut Alyssa. Gadis itu mengambil spidol hitam dari saku roknya. "Boleh minta tanda tangan di lengan kemeja aku?"
Dion menerima spidol itu, lalu dengan teliti membuat garis sketsa kecil, gambar dua figur manusia yang sedang berdiri memandang Gunung Fuji, di lengan seragam Alyssa, disusul tanda tangannya di bawah gambar.
Alyssa memperhatikan hasil gambar itu dengan mata berbinar. "Bagus banget... Makasih ya, Dion."
"Sama-sama," jawab Dion pelan. "Jadi, kamu lanjut kuliah ke mana?"
Alyssa memandangi lengan kemejanya sejenak sebelum menatap Dion lekat-lekat. "Aku ambil kampus di Jakarta. Tapi ada satu hal lagi yang mau aku omongin. Sebenarnya udah dari dua bulan lalu aku daftar program pertukaran pelajar ke Tokyo, cuma nunggu waktu yang pas buat kasih tau kalian, gak enak kalau ganggu pas kalian lagi sibuk ujian. Tadi pagi pengumumannya keluar, aku diterima. Aku bakal berangkat duluan."
Dion sempat diam sejenak. Ada rasa terkejut yang muncul, namun perlahan digantikan oleh rasa bangga. Ia mengulas senyum tipis menatap mata Alyssa. "Selamat ya, Sa. Itu emang impian kamu dari dulu."
"Aku berangkat duluan," lanjut Alyssa, binar matanya penuh keyakinan. "Tapi aku tunggu kalian di sana. Jangan lama-lama nabungnya."
Dion mengnodok, lalu diam sesaat. Tangannya meremas kaleng minuman yang sudah kosong, gugup mencari kata yang tepat.
"Sa, sebelum lo... eh, kamu berangkat," ucap Dion terbata, mendadak ikut-ikutan pakai "kamu" tanpa sadar. "Gue mau ngomong sesuatu. Dari dulu gue selalu excited kalau ada kamu di deket gue. Bukan cuma soal Jepang doang."
Alyssa terdiam, menunggu kelanjutannya dengan wajah memerah tipis.
Dion menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. "Gue suka kamu, Sa. Udah dari lama, cuma gak pernah berani ngomong."
Alyssa tertawa kecil, matanya berkaca-kaca menahan haru. "Lama banget baru ngomongnya. Aku kira kamu gak bakal pernah bilang."
"Jadi... gimana?" tanya Dion, masih belum berani menatap langsung.
"Ya jelas mau lah," jawab Alyssa, akhirnya menatap Dion dengan senyum lebar. "Jaga jarak aman ya sampai aku pulang, jangan macam-macam."
Dion tertawa lega, menghembuskan napas yang sedari tadi tertahan. "Siap. Ketemu di Tokyo, resmi jadi alasan kedua gue buat berjuang."
Bab 14: Musim Semi di Tokyo
Masa sekolah mereka di gedung itu memang resmi berakhir hari ini. Keberangkatan Alyssa ke Jepang lebih awal menjadi pemicu semangat yang luar biasa bagi Dion. Tahun-tahun setelah kelulusan tidak dilewatinya dengan santai. Dion bekerja di sebuah perusahaan desain grafis sembari mengambil pesanan ilustrasi lepas hingga larut malam. Rico bertindak tegas mengelola dana bersama mereka, sementara Steve menahan diri dari kebiasaan konsumtifnya.
Panggilan video singkat sebelum tidur jadi rutinitas yang tidak pernah mereka lewatkan, meski beda zona waktu kadang membuat salah satu dari mereka harus begadang.
Sempat ada momen Dion nyaris menyerah, saat proyek desainnya dibatalkan klien secara sepihak dan tabungan yang sudah terkumpul terpakai untuk menutup kebutuhan mendesak. Rico yang mendengar keluhan itu langsung menolak keras.
"Lo udah janji sama Alyssa, masa mau kalah gara-gara ini doang?" tegur Rico waktu itu, membuat Dion kembali bangkit dan mencari proyek baru keesokan harinya.
Beberapa tahun kemudian, masa penantian panjang itu resmi berakhir. Sebuah kedai ramen kecil di sudut distrik Shinjuku, Tokyo, dipenuhi aroma kaldu gurih dan uap panas yang membumbung tinggi.
Di balik jendela kaca yang dihiasi bulir-bulir air dari gerimis tipis di luar, pintu geser kayu kedai tersebut terbuka. Alyssa melangkah keluar, merapatkan syal cokelat yang melingkar di lehernya.
"Lama banget sih kalian," tegur Alyssa, tersenyum lebar menatap tiga pria yang berdiri di hadapannya.
Steve masih mengenakan topi terbaliknya yang kini warnanya sedikit memudar, sementara Rico sibuk merapikan bandana birunya yang miring diterpa angin malam.
"Biasa, Sa," sahut Rico, menunjuk Steve dengan dagunya. "Anak ini tadi hampir ketinggalan kereta cuma gara-gara sibuk mencari makanan yang bumbunya mirip rendang di minimarket."
"Itu namanya penyesuaian lidah, Ric! Biar gak kaget sama bumbu sini!" protes Steve tidak mau kalah.
Alyssa tertawa halus melihat tingkah dua teman lamanya yang sama sekali tidak berubah. Pandangannya kemudian beralih menatap Dion yang berdiri di antara mereka. Dion menatap Alyssa dengan sunggingan senyum lega, memandangi sosok yang selama beberapa tahun ini hanya bisa ia sapa melalui layar ponsel.
"Gue tepatin janji, kan?" ucap Dion pelan namun tegas.
Alyssa mengnodok pelan, menatap Dion dengan binar mata yang hangat di tengah dinginnya malam kota Tokyo. "Iya. Kamu tepatin janji."
"Yoi dong! Geng Wota Fictive gitu loh!" timpal Steve percaya diri.
"Eh, habis ini kita mau lanjut ke mana?" tanya Rico, merapikan dompetnya.
Dion tersenyum, lalu menepuk bahu kedua temannya menatap Alyssa.
"Akihabara," jawab Dion mantap. "Sesuai janji kita beberapa tahun lalu."
Steve dan Rico langsung bersorak pelan, sementara Alyssa berjalan sejajar di samping Dion. Mereka berempat berjalan membelah dinginnya malam kota Tokyo yang dihiasi pendar lampu neon, menuju Akihabara.

Social Plugin