Ticker

6/recent/ticker-posts

Sepupu yang Diem-Diem Gue Taksir

Bab 1 - Reuni Dadakan di Lapangan Futsal

Gue tipe orang yang gampang betah kalau udah ngerasa nyaman di satu tempat. Makanya rental PS milik Bang Dony di Tangerang ini berasa kayak rumah kedua. Bang Dony sendiri masih om gue dari silsilah keluarga jauh, sekaligus salah satu pembuat konten bola di Geromball CS. Karena keterikatan itu, hampir tiap minggu gue pasti nyampe di sini. Nggak selalu berjam-jam pegang stik, kadang cuma numpang selonjoran di teras sambil nyesap kopi instan gratisan.

​Malam itu suasana rental lumayan rame. Bunyi tombol stik ditekan kencang, teriakan pas selebrasi gol, sama suara komentator TV saling nimpah di dalam ruangan. Gue memilih duduk di kursi plastik luar sambil menikmati sisa hangatnya segelas Nescafe. Pas pikiran lagi melayang ke mana-mana, seorang cowok berseragam futsal mendadak muncul dari balik pagar.

​"Lah, ini beneran Agi kan? Demi apa lo ada di sini, Gi?"

​Gue tersentak kaget mendengar sapaan penuh keheranan itu. Suara dan perawakannya rasanya nggak asing. Pas diperhatiin lagi, ternyata itu Anas, temen sekelas gue pas SMP dulu.

​"Anjir, Anas! Ke mana aja lo selama ini, Nas?" Gue berdiri lalu menyambut uluran tangannya yang mendadak itu.

​Anas menepuk bahu gue lumayan kencang. "Buset, masih idup lo ternyata. Gue kira lo udah pindah planet pas lulus SMP, abisnya nggak ada jejaknya sama sekali di medsos."

​"Sembarangan kalau ngomong. Ya masih idup lah, lo kira gue ilang ditelan bumi?"

​Bukannya merasa bersalah, Anas makin kegirangan. Dia merhatiin penampilan gue dari ujung rambut sampai sepatu. "Tapi suer deh, gaya lo sekarang beda banget. Tadi pas dari jauh gue sampai ragu ini beneran Agi apa bukan."

​Gue memandangi kaus sama celana sendiri yang perasaan biasa aja. "Beda gimana maksud lo? Muka gue ya begini-begini aja dari dulu."

​"Ya sekarang kelihatan lebih rapi, terawat gitu lah. Dulu kan rambut lo persis kayak sarang burung, awut-awutan mulu tiap masuk kelas pagi."

​Gue cuma bisa menggeleng denger celotehannya yang agak keterlaluan itu. "Bisa aja lo ah. Bertahun-tahun nggak ketemu, giliran ketemu omongan lo tetep aja nggak ada berubahnya."

​Anas ketawa lagi. Beberapa temannya udah jalan duluan ke arah lapangan, sementara kami berdua masih berdiri dekat parkiran sambil menyambung obrolan masa SMP di Amaliyah. Dari situ baru terungkap kalau mereka mau pada sparing futsal. Rombongan mereka sengaja mampir ke rental cuma buat memastikan jalan menuju lapangan kagak dipatok portal, sekalian nyari air minum sebelum bertanding.

​"Eh Gi, gue cabut ke lapangan futsal dulu bentar ya," ujar Anas menunjuk rombongannya yang mulai menjauh. "Nanti kelar sparing gue balik ke sini lagi. Anak-anak emang udah ngetap slot TV nomor dua buat main FIFA habis ini."

​Gue mengangguk pelan. "Sip, santai aja. Gue di sini dulu sambil nunggu lo balik."

​Tanggapan gue membuat Anas memiringkan kepala sebentar. "Ngapain juga lo nungguin di sini kayak satpam komplek? Udah lah, ikut sekalian bareng gue ke lapangan."

​Gue melirik gelas kopi di tangan yang tinggal sisa ampas, lalu melihat ke arah dalam area rental. "Gue kagak bawa baju ganti nih. Lagian kalau gue ikut, palingan cuma bisa duduk doang nonton lo pada keringetan."

​"Ya emang niatnya cuma nonton doang, sekalian ngobrol bareng di pinggir lapangan. Jarang banget kan momen pas ketemu begini?"

​Gue sempat terdiam sejenak menimbang ajakan dia, sebelum akhirnya habis nyesap sisa kopi. "Yaudah deh, gue balikin gelas dulu ke dalam."

​Anas tersenyum puas melihat gue akhirnya mau ikut. "Nah, mantap! Gitu dong dari tadi, nggak pake lama ya!"

​Gue cepat-cepat menaruh gelas ke teras dalam, lalu balik menghampiri dia. Kami langsung jalan menyusul rombongan anak-anak lain ke arah lapangan futsal. Sepanjang jalan setapak yang lumayan remang itu, fokus obrolan yang tadinya cuma seputar rental perlahan beralih ke masa sekolah. Mulai dari kebiasaan bolos pelajaran, sampai tingkah galak guru BK yang rasanya masih kebayang jelas sampai sekarang.


"Bentar-bentar, hampir aja lupa! Ini tolong titipin ke Bang Dony dong, Gi. Kemarin sore sempat gue pinjam buat ngesave data PES anak-anak, takutnya malah kebawa pulang lagi," kata Anas sambil meraba saku celananya lalu menyodorkan sebuah flashdisk hitam.

​Gue merengkuh benda kecil itu dan langsung memasukkannya ke kantong samping celana jeans. "Sip, tenang aja. Nanti pas balik ke rental langsung gue kasihin ke Bang Dony."

​Pas melangkah masuk ke area gedung futsal, gue dibuat kaget lagi. Ternyata beberapa anak SMA juga ada di sana dan semuanya sama-sama alumni Amaliyah. Ada yang dulu pernah sebangku sama gue selama setahun penuh, ada juga yang kerjaannya hobi adu mulut cuma gara-gara masalah sepele di kelas.

​Berhubung mereka lagi asyik bertanding, beberapa cuma sempat menoleh sekilas sambil terus berlari mengejar bola di atas rumput sintetis.

​"Woy, Agi! Parah banget lo baru nongol sekarang!" ucap salah satu dari mereka dari tengah lapangan. "Sini masuk woy, gantiin posisi kiper! Biar makin kerasa nostalgianya kayak zaman sekolah dulu!"

​Gue yang menyandar di pagar besi cuma bisa menggelengkan kepala. "Kagak usah aneh-aneh deh, ogah banget gue! Nanti kalau tim lo malah kebobolan, ujung-ujungnya gue juga yang disalahin."

​"Halah, alasan lo doang itu mah! Bilang aja refleks lo udah karatan!"

​Beberapa orang di dalam lapangan langsung ikut tertawa mendengar celetukan itu.

​Sayangnya, sisa waktu sewa lapangan mereka emang udah mau habis pas gue datang. Jadinya gue cuma bisa berdiri rapat di luar jaring penutup, sesekali ikut kelepasan berteriak tiap ada gol keren atau peluang emas yang terbuang gitu aja.


Beberapa menit kemudian permainan futsal benar-benar selesai. Gue sempat ikut nongkrong dan mengobrol sebentar sama anak-anak sebelum akhirnya memutuskan pamit duluan.

​Pas gue baru berdiri dan bersiap melangkah pergi, tahu-tahu ada sosok yang udah bergeming di samping gue.

​Freya.

​Cewek itu berdiri santai memperhatikan area lapangan sambil melipat kedua tangannya di dada.

​Gue menoleh dan beneran langsung tersentak. "Buset, ngagetin aja lo, Fre! Sejak kapan udah di samping gue begini?"

​Freya mendengus pelan. "Baru sampai kok ini, santai aja kali. Lagian kenapa sih reaksi lo kaget banget, serasa ngelihat hantu?"

​"Ya iyalah kaget, gue beneran nggak ngerasa sama sekali pas lo jalan mendekat ke sini."

​Kedatangan dia jelas mengundang perhatian. Beberapa anak yang lagi duduk selonjoran di pinggir rumput langsung melirik ke arah Freya. Wajar sih, penampilannya memang gampang bikin orang salah fokus walau dia cuma diam doang.

​Bahkan salah satu temen lama gue sempat merapat lalu berbisik pelan. "Anjir, siapa tuh, Gi? Bening betul."

​"Sepupu gue," bisik gue singkat tanpa melebih-lebihkan.

​Yang lumayan bikin menggelitik, nggak ada satupun dari mereka yang sadar kalau cewek di sebelah gue ini sebenarnya member grup idol yang cukup punya nama. Mungkin anak-anak futsal emang nggak pada paham dunia hiburan kayak gitu, dan situasi itu jujur bikin gue lega luar biasa.

​Setelah pamitan terakhir ke rombongan, gue sama Freya jalan keluar meninggalkan gedung olahraga. Jalan setapak di samping bangunan ini lumayan sempit, diapit jaring kawat sama tembok beton yang berlumut. Freya melangkah lebih dulu di depan, sementara gue mengekor beberapa jengkal di belakangnya.

​Suasana sempat hening sebentar tanpa obrolan.

​Gue sengaja mempercepat ritme langkah supaya bisa berjalan sejajar di samping dia. "Fre, lo tahu dari siapa kalau gue lagi nongkrong di sini?"

​Freya menoleh sekilas. "Tadi Kak Rian sempat ngelihat lo jalan rame-rame ke arah lapangan futsal. Terus dia malah ngeledek gue, katanya jangan-jangan lo mau ngajak ribut orang."

​Gue langsung tertawa lepas mendengar laporan itu. "Terus lo panik langsung nyusul ke sini gara-gara takut gue kenapa-kenapa?"

​"Dih, pede banget!" Freya melempar pandangannya lagi ke depan. "Gue itu emang sekalian mau beli minum ke warung depan, terus kebetulan aja rutenya lewat sini. Jadi nggak usah kegeeran ya."

​"Iya deh percaya, kebetulan yang sangat pas sekali ya."

​Freya enggan merespon lagi. Langkah kakinya dipercepat sedikit seolah mau menyudahi pembicaraan. Gue cuma bisa terkekeh pelan melihat tingkahnya sambil terus mengimbangi kecepatannya dari samping.

​Begitu sampai di area parkiran, baru gue sadar kalau Freya ke sini bawa motor matic warna pink. Dia merogoh saku jaketnya, mengambil kunci, lalu melempar benda itu pelan ke arah dada gue.

​"Nih, lo aja yang pegang kendali. Gue capek banget."

​Gue sigap menangkap kunci tersebut. "Lah, kok jadi gue yang kena jatah nyetir?"

​Freya menatap gue tanpa ekspresi. "Masa iya gue yang boncengin cowok? Kebalik dong. Udah ah buruan, keluarin motornya dari barisan."

​"Siap, laksanakan Bu Boss."

​"Dih, sok asik."

​Gue tertawa kecil lalu menarik stang motor matic itu keluar dari deretan parkir. Setelah posisi kendaraan stabil, baru deh Freya naik melipat kaki di jok belakang.

​Kami mulai menyusuri jalanan keluar kompleks sports center dengan kecepatan santai.

​Belum ada satu menit roda motor berputar, tangan kiri gue refleks menepuk kantong celana.

​Kosong.

​Seketika ingatan gue melayang ke benda kecil yang tadi diserahin Anas.

​"Fre, pinggirin bentar ya. Kayaknya barang titipan Anas tadi jatuh."

​Freya menghela napas kasar dari belakang helmnya. "Lah, kok bisa teledor gitu? Jatuh di mana kira-kira?"

​"Kayaknya pas di parkiran tadi deh, gue lupa ngecek ulang saku celana pas mau naik kendaraan."

​"Yaudah buruan putar balik! Tapi awas ya, jangan lama nyarinya."

​"Iya, tenang aja."

​Gue langsung memutar arah kembali menuju area parkir futsal. Setelah menyisir area sekitar beberapa saat, akhirnya benda hitam mungil itu kelihatan melongok di pinggir aspal, ketutupan sedikit kerikil kecil.

​Gue membungkuk mengambilnya, lalu memamerkan flashdisk itu ke Freya yang sudah kepanasan berdiri di dekat motor.

​Freya cuma menggelengkan kepala sambil tersenyum lega. "Lain kali biasain cek kantong dulu sebelum berangkat. Kalau barang punya orang sampai hilang, urusannya panjang kan."

​"Siap, dipahami Ibu Guru."

​Kami akhirnya beneran meninggalkan area lapangan futsal. Kali ini gue udah memastikan berulang kali kalau flashdisk titipan Anas benar-benar tersimpan aman di kedalaman kantong celana.

​Motor matic pink ini kembali melaju membelah jalanan malam yang makin senggang. Angin dingin khas Tangerang menyapu muka gue tipis-tipis.

​Di tengah perjalanan, gue bisa merasakan ujung jari Freya perlahan menyentuh bagian samping pinggang gue dari belakang. Sentuhannya terasa pelan dan agak ragu, seolah dia masih meraba-raba mencari posisi paling pas buat berpegangan.

​Gue milih buat tetap fokus ke jalanan di depan tanpa mengeluarkan suara sama sekali.

​Freya pun sama, cuma diam menikmati hembusan angin malam dari balik punggung gue.

Bab 2 - Chat Jam Sepuluh Malam

Udah hampir dua minggu gue nggak nginjakkan kaki ke rental PS langganan. Bukan karena udah bosen, tapi urusan di rumah lagi padat-padatnya. Ada beberapa hal yang mesti diberesin dan sebagian punya tenggat yang nggak bisa diajak kompromi.

Alhasil, malam itu gue cuma bisa rebahan di kasur. Lampu utama udah gue matiin, tinggal lampu tidur yang nyala dari sudut kamar. AC berembus pelan, cukup bikin badan nyaman buat nggak ngapa-ngapain. Ponsel gue taruh di atas dada sambil iseng scroll media sosial, meskipun kalau ditanya lima menit terakhir gue habis lihat apa, kemungkinan besar gue juga nggak tahu.

Sampai layar ponsel tiba-tiba menyala dan bergetar pelan.

Ada notifikasi WhatsApp masuk.

Nama yang muncul bikin gue refleks ngucek mata dua kali.

​Freya.

​Setau gue, dia ini bukan tipe yang tiba-tiba nyari orang kalau nggak ada urusan. Selama ini kalau ngobrol di chat pun dia lebih sering nunggu orang lain buka topik, baru ikut masuk. Balasannya juga seperlunya.

​"Eh, lo masih di Depok kan? Atau lagi ada acara di luar?"

​Gue memosisikan jempol di atas layar.

​"Masih kok. Emang ada perlu apa tumben banget nanya?"

​Nggak sampai semenit, pesannya masuk lagi.

​"Soalnya udah lama banget nggak kelihatan batang hidungnya, kata Bang Dony."

​Gue berhenti scroll dan menatap langit-langit kamar sebentar. Ada yang janggal. Kalau Bang Dony yang nyariin, kenapa harus lewat Freya. Nomor gue ada di dia. Mau telepon atau chat langsung juga bisa. Bang Dony itu tipe pemilik rental yang kalau ada pelanggan menghilang, dia nggak bakal repot kirim delegasi cuma buat menanyakan keberadaan gue.

​Kemungkinan paling masuk akal, nama Bang Dony cuma dijadikan tameng. Gue memiringkan badan ke kiri sambil mengetik balasan.

​"Jadi, bang Dony nyariin gue. Emang dia ngomong apa pas ketemu lo?"

​"Ya nanyain aja, lo nggak pernah mampir lagi. Katanya rental jadi agak sepi tanpa keributan lo."

​Gue membaca pesan itu dua kali. Sudut bibir gue terangkat. Alasan ini makin terdengar seperti alibi yang baru dirakit lima menit lalu.

​"Ouhhh gitu. Kirain lo yang nyariin."

​Tulisan "Freya sedang mengetik..." muncul di bagian atas layar. Lalu hilang. Muncul lagi, terus hilang lagi. Pengetikannya kelihatan penuh keraguan.

​"Apaan sih, pede banget jadi orang. Gue cuma nyampein pesan Bang Dony doang. Nggak usah geer gitu ya."

​Gue bisa membayangkan mukanya sekarang. Kalau aplikasi ini punya fitur untuk mengirim suara napas kesal, kamar gue pasti sudah penuh dengusan dia. Gue memutuskan untuk memancing lebih jauh.

​"Ya lagian aneh aja. Emang Bang Dony nggak punya nomor HP gue sampai harus nanyain lewat lo?"

​Kali ini balasannya datang cepat sekali.

​"Ih, mana tau urusan dia! Lagian gue kan emang mampir ke sana kemarin, ya wajar kalau sempat ngobrol."

​Gue tertawa pelan. Tadinya dia cuma membawa nama Bang Dony sebagai sumber informasi, sekarang dia malah sibuk menjelaskan alasan kenapa bisa ngobrol sama pemilik rental itu.

​"Yaudah iya. Yang penting lo nggak usah panik gitu."

​"Bawel banget sih. Udah deh nggak usah dibahas lagi. Orang gue cuma nyampein pesan."

​Gue menatap layar beberapa detik. Harusnya pembicaraan selesai di sini. Tapi melihat reaksinya yang terus berusaha menutup obrolan, gue jadi makin gatal mau ngetes. Rasa ingin tahu gue mendadak naik level.

​"Fre. Jujur gue juga kangen lo."

​Pesan terkirim. Gue langsung menelungkupkan ponsel di dada.

​Nggak ada bunyi balasan. Gue membalikkan ponsel untuk mengecek. Dua centang biru, sudah dibaca. Tapi nggak ada tanda-tanda dia sedang mengetik. Satu menit lewat, layar tetap sepi. Dua menit, masih belum ada respons. Gue mulai memikirkan hal-hal absurd, jangan-jangan koneksi internetnya putus, atau malah ponselnya mendadak jatuh ke bak mandi karena kaget.

​Lima menit kemudian, balasan akhirnya muncul.

​"Yaudah deh. Gitu doang kan? Gue udah ngantuk, mau tidur duluan. Bye."

​Gue menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis.

​"Iya deh. Selamat tidur ya, Fre."

​Pesan itu cuma dibaca tanpa ada balasan susulan. Tanda dia sudah keluar dari aplikasi. Gue meletakkan ponsel ke meja samping bantal, lalu kembali selonjoran.

​Kalau dibaca sekilas, percakapan tadi kelihatan biasa saja. Tapi semakin dipikirkan, setiap kali obrolan mulai mengarah ke hal yang agak personal, Freya selalu menarik diri. Dia pakai nama Bang Dony buat alasan ngechat, lalu begitu gue bilang kangen, dia langsung pamit tidur.

​"Lo masih di Depok kan?"

​Kalimat sesederhana itu malah jadi bagian paling mencurigakan dari semuanya. Jangan-jangan memang bukan Bang Dony yang mencari. Jangan-jangan Freya sendiri yang sadar gue sudah lama tidak muncul di rental, terus penasaran gue ke mana. Cuma karena gengsi mau bilang langsung, nama pemilik rental dijadikan alasan pembuka.

​Kalau dugaan gue benar, malam itu Freya sebenarnya cuma mau memastikan, gue masih ada di Depok atau nggak. Dan entah kenapa, menyadari kemungkinan itu membuat gue tersenyum sendiri sampai ketiduran.
___

Dua hari setelah obrolan malam itu, sore-sore gue cuma duduk santai di teras rumah. Angin sore berembus lumayan adem. Segelas es teh manis masih tersisa separuh di samping kursi, sementara jempol gue sibuk menggeser lini masa sosmed.

​Pikiran gue tiba-tiba malah kepikiran lagi sama obrolan bareng Freya dua malam lalu.

​Gue buka aplikasi WhatsApp terus masuk ke ruang obrolan dia. Sempat terlintas niat buat menyentil soal jurus dia yang ngeles waktu itu. Tapi buru-buru gue urungkan. Kalau digores lagi topik sensitif itu, bisa-bisa dia malah langsung pasang benteng terus menyudahi percakapan kayak kemarin.

​Akhirnya gue putuskan buat cari topik lain yang jauh lebih aman. Kebetulan pas banget gue sempat melihat selintas postingan film Spider-Man yang lagi ramai diomongin orang-orang.

​Jari gue langsung mengetik pesan. "Eh, lo udah sempat nonton Spider-Man yang baru belum?"

​Enggak pakai nunggu lama, balasannya meluncur cepat.

​"BELUMM!! Awas aja ya lo jangan berani-berani spoiler! Dari kemarin gue udah diteror mulu sama anak-anak soal film ini, tinggal nunggu momen ada yang keceplosan aja nih."

​Tawa gue refleks pecah membaca ketikan dengan huruf kapital meluap-luap gitu.

​"Tenang aja elah, gue juga belum nonton kok. Kalau gitu jalan bareng aja yuk nonton? Gue emang belum sempat nemu waktu yang pas juga nih."

​Begitu tombol kirim terpencet, obrolan mendadak hening lagi.

​Beberapa menit gue cuma bisa memperhatikan layar ponsel sambil sesekali melirik jam di tembok teras.

​Indikator sedang mengetik sempat nongol sebentar, terus lenyap. Nongol lagi, terus hilang lagi.

​Gue udah bisa menebak kalau cewek di sana pasti lagi mikir keras mau nyusun kalimat balasan kayak apa.

​Baru setelah jeda yang lumayan nanggung, balasan Freya akhirnya masuk juga.

​"Ya boleh-boleh aja sih. Lagian daripada lo ke bioskop nonton sendirian, kasihan juga gue ngeliatnya."

​Gue cuma bisa terkekeh membaca ujung kalimatnya. Bukannya merespons biasa, tetap aja dia sempat-sempetnya nyari pembenaran biar terkesan kagak terlalu bersemangat.

​Gue langsung menyambar pesannya. "Lah, siapa yang kasihan coba? Perasaan tadi yang heboh ketakutan kena spoiler tuh lo deh. Gue ngajak kan cuma niat baik biar lo kagak makin kudet."

​Freya membalas hampir di detik yang sama.

​"Ih apaan sih, makin ngaco! Ya udah terserah lo deh mau kapan. Kebetulan jadwal gue minggu ini lagi lumayan senggang kok, jadi gampang kalau mau atur harinya."

​Gue membaca deretan kata itu sampai dua kali.

​Kalau diingat-ingat lagi, ini pertama kalinya Freya langsung mengiyakan ajakan gue tanpa banyak ngeles atau nunda-nunda obrolan. Bisa jadi emang murni karena dia kebelet mau nonton filmnya. Atau mungkin, ada alasan lain di balik itu.

​Yang pasti, dia sama sekali nggak keberatan kalau kali ini perginya bareng gue.

Bab 3 - Nonton Bareng

Hari yang udah kami sepakati akhirnya datang juga. Gue sengaja jalan lebih awal gara-gara kagak mau mengambil risiko terjebak macet jalanan. Begitu nyampe di depan bioskop, gue cuma bisa bergeming di dekat pintu masuk sambil sesekali menggeser layar ponsel.

​Kagak ada obrolan penting sebenarnya di WhatsApp, gue cuma penasaran Freya udah meluncur sampai mana.

​Hampir sepuluh menit berlalu, baru deh kelihatan batang hidungnya muncul dari arah lantai parkiran mobil. Langkahnya santai, satu tangan memainkan kunci kendaraan, sementara tas kecil tersampir rapi di bahu. Pakaian yang dia pakai simpel aja, tapi tetep bikin cewek ini gampang ditandai dari kejauhan.

​Pas langkahnya makin mendekat, Freya melepas senyum tipis. "Udah lama banget ya nungguin di sini?"

​Gue buru-buru mengantongi ponsel ke celana. "Ah kagak kok, santai aja. Gue juga baru banget mampir berdiri di sini. Lagian gue malah kepikiran takut lo yang kelamaan nungguin gue."

​Padahal kenyataannya kaki gue udah lumayan pegal berdiri di situ hampir sepuluh menit.

​Freya mengangguk pelan. "Kirain gue yang ngaret. Tadi pas di belokan masuk parkiran emang lumayan tersendat banget sih."

​"Kagak kok, timelinenya udah pas banget ini. Kita masih punya jeda lumayan banyak sebelum studionya dibuka."

​Kami lantas melangkah ke loket buat amankan tiket, terus masuk ke area lounge studio. Suasana di antara kami sempat kerasa agak canggung. Ya maklum sih, ini perdana kami jalan berdua tanpa ada rombongan anak-anak lain yang nempel.

​Untungnya obrolan seputar film yang mau ditonton perlahan bisa mencairkan suasana. Kami saling melempar ekspektasi, ngebahas beberapa potongan adegan yang sempat nongol di trailer, sampai adu argumen tipis soal karakter mana yang paling menarik perhatian.

​Sesekali emang masih ada jeda hening, tapi kali ini kagak kerasa sekelat sebelumnya.

​Pas melangkah masuk ke dalam studio, lampu ruangan masih menyala terang benderang. Tayangan iklan bergantian nongol di layar raksasa, sementara deretan penonton lain masih sibuk mencari nomor kursi masing-masing.

​Begitu nemu spot kami, kami langsung mendaratkan badan di jok.

​Gak lama, Freya merogoh ponselnya dari dalam tas.

​"Duh, ini grup kerjaan ramai banget," gumamnya sambil membaca barisan teks yang masuk. Cewek itu terkekeh pelan sebelum memiringkan layarnya ke arah gue. "Nih lo intip sendiri deh, dari tadi notifnya meluncur mulu. Padahal niat gue hari ini murni mau santai-santai."

​Gue ikut melirik sekilas ke layarnya.

​Tapi jujur, yang pertama kali menyita perhatian gue justru fisik ponsel yang lagi dia genggam.

​iPhone keluaran paling baru. Casing-nya murni bersih, layarnya juga kinclong nyaris kagak ada bekas pemakaian sama sekali.

​Refleks gue langsung membandingkan sama ponsel sendiri yang tersimpan di saku celana. Sudut layarnya udah retak lumayan parah akibat kesenggol beberapa bulan lalu. Sebenarnya udah beberapa kali terlintas niat buat ganti, cuma selalu gue tunda gara-gara masih banyak pengeluaran lain yang jauh lebih mendesak.

​Freya rupanya ngerasa kalau pandangan gue terlalu tertuju ke arah gawai miliknya.

​"Kenapa? Kok pandangan lo dari tadi tertuju banget ke HP gue?"

​Gue melepas senyum tipis. "Gak apa-apa kok, cuma baru engeh aja. Itu HP baru lo beli ya?"

​Freya menurunkan gawai itu sebentar terus membolak-balik bodi belakangnya. "Oh, yang ini? Iya nih. HP yang lama memorinya udah penuh banget sama dokumentasi foto plus video kerjaan. Pas kapasitasnya tinggal tersisa dikit, ya udah sekalian aja gue ganti yang baru."

​"Ohh, gitu... pantesan masih kinclong banget."

​"Iya, lagian kalau kagak cepat-cepat diganti tuh ribet banget, tiap kali mau nyimpan file baru kudu milih-milih foto mana yang mesti dihapus dulu."

​Usai menjelaskan hal itu, Freya kembali menekuri grup obrolannya dan lanjut membalas beberapa percakapan. Buat dia, topik seputar gawai tadi ya mengalir gitu aja terus selesai.

​Gue pun kembali menyenderkan punggung ke kursi.

​Kagak ada nada pamer sama sekali dari gaya dia cerita tadi. Tapi justru karena respons santainya itu, pikiran gue malah melayang sendiri. Buat Freya, ganti gawai gara-gara memori penuh mungkin emang cuma urusan sepele. Sementara gue masih bertahan pakai ponsel yang layarnya retak di pojokan asal fungsi utamanya masih jalan.

​Dari hal sekecil itu, gue mendadak tersadar kalau realitas dunia kami sebenarnya berjarak lumayan jauh.

​Lampu studio perlahan mulai diredupkan sampai akhirnya gelap total. Suara riuh obrolan penonton di sekitar kami mendadak menyusut begitu dentuman musik pembuka film menggelegar dari jajaran speaker studio.

​Freya buru-buru mematikan layar ponselnya, melempar benda itu kembali ke dalam tas, lalu membetulkan posisi duduknya biar lebih nyaman.

​"Nah, akhirnya mulai juga filmnya!" bisiknya pelan sambil melempar pandangannya lurus ke depan.

​Gue cuma mengangguk tipis lalu ikut mengarahkan sorot mata ke layar raksasa yang mulai menyala terang.

​Film pun akhirnya resmi dimulai.


Dentuman dari sistem audio terus menggema memenuhi tiap sudut studio. Beberapa adegan awal sebenarnya masih bergulir santai, tapi makin lama ketegangan ceritanya mulai merayap naik.

​Sampai tiba-tiba nongol adegan aksi mendadak yang disambung suara ledakan lumayan kencang.

​Freya refleks meremas lengan kemeja gue.

​Genggamannya cuma bertahan hitungan detik. Begitu sadar sama tindakan impulsifnya barusan, dia buru-buru menarik tangannya balik.

​"Eh, aduh maaf! Kaget banget gue, refleks tadi."

​Gue menoleh sebentar sambil melepas senyum tipis. "Santai aja kali. Suara dentumannya emang lumayan bikin kaget kok, gue juga sempat terperanjat."

​Beberapa waktu berselang, nongol lagi adegan lain yang mendadak bikin seisi studio kembali menahan napas. Di saat yang hampir berbarengan, tangan kami sama-sama meluncur ke arah ember popcorn yang nangkring di tengah dudukan.

​Ujung jari gue sama jari dia sempat bersentuhan tipis.

​Freya langsung menarik lengannya duluan. "Eh, lo duluan aja yang ambil."

​Gue meraup beberapa potong popcorn. "Kagak usah elah, lo duluan aja santai."

​"Udah, lo dulu aja yang makan."

​"Yaudah deh."

​Gue memindahkan posisi embernya sedikit lebih mengarah ke posisi duduk Freya.

​Dia akhirnya ikut meraup popcorn tanpa bersuara lagi.

​Setelah momen itu, kami berdua kembali fokus menatap layar raksasa sampai barisan nama tim produksi di kredit akhir perlahan bergulir naik.


Lampu studio perlahan mulai menyala terang.

​Penonton lain satu per satu berdiri dan melangkah keluar. Pas sampai di lorong bioskop, suasana di antara kami berdua kerasa jauh lebih luwes dibanding sebelum film diputar tadi.

​Freya bahkan langsung berinisiatif membuka obrolan duluan.

​"Tadi ending-nya keren banget sih! beneran gak nyangka plotnya bakal dibawa ke situ."

​Gue mengangguk setuju. "Iya, klimaksnya emang susah ditebak. Gue aja sempat ngira eksekusinya bakal beda."

​"Tahu kan maksud gue? Terus adegan yang tadi itu..." Freya mulai antusias menceritakan bagian favoritnya, sesekali malah sambil memperagakan gestur karakter di film.

​Tawa gue refleks pecah melihat tingkahnya. "Lo kalau lagi cerita begini emang kudu banget diperagakan sekalian ya?"

​"Ya biar lo makin paham maksud gue dong!"

​"Padahal mah gue paham-paham aja dari tadi."

​"Sok paham deh. Orang lo tadi juga sempat melamun pas adegan itu."

​Gue menggeleng pelan sambil terkekeh. "Yang melamun siapa coba? Muka lo tuh tadi yang kocak banget pas kaget."

​"Apaan sih? Muka gue biasa aja kali!"

​"Biasa dari mananya? Orang tadi refleks lo aja sampai meluk lengan kemeja gue gitu."

​Freya mendadak menghentikan langkahnya terus melotot tipis ke arah gue. "Udah deh ah, gak usah diungkit-ungkit mulu!"

​Debat kecil seputar film itu terus bergulir sampai kami melangkah keluar dari area gedung bioskop. Kami masih asyik membedah beberapa adegan yang menurut masing-masing paling berkesan, sampai akhirnya langkah kaki kami benar-benar terhenti tepat di samping mobil Freya.

​Gaya obrolan yang dari tadi mengalir deras perlahan mulai kehabisan bahan. Freya cuma memutar-mutar kunci kendaraan di jarinya, sementara gue berdiri mematung di hadapan dia sambil melesakkan kedua tangan ke kantong celana.

​"Yaudah deh, gue balik duluan ya," celetuknya memecah hening. "Makasih banyak ya udah mau nemenin plus ngajak jalan hari ini."

​Gue mengangguk. "Sama-sama, Fre. Hati-hati ya pas bawa mobilnya di jalan."

​"Siap, lo juga ti-hati pas jalan balik nanti."

​Harusnya setelah lontaran kata itu, kami langsung balik badan terus pisah rute.

​Tapi nyatanya gak ada satu pun dari kami yang bergeming.

​Freya belum juga menyentuh gagang pintu mobilnya. Gue pun masih berdiri memaku di tempat yang sama. Jeda beberapa detik merayap tanpa ada sepatah kata pun yang keluar.

​Gue sempat mengira dia lagi nungguin gue jalan duluan ke parkiran motor. Tapi pas gue lirik, sorot mata Freya ternyata masih tertuju lurus ke gue.

​Ujung-ujungnya dia sendiri yang terkekeh pelan memecah kecanggungan.

​"Lah, apaan sih ini? Masa pamitannya doang pakai acara drama nanggung gini?"

​Gue ikut ketawa lepas. "Iya juga ya wkwk. Yaudah sana, lo jalan duluan gih."

​"Dih, malah pakai nyuruh-nyuruh segala."

​Freya akhirnya membuka pintu mobil terus masuk ke dalam kabin. Sebelum benar-benar menutup pintunya, dia sempat melempar lambaian tangan kecil dari balik kaca.

​Gue merespons lambaian itu tipis.

​Mobil matic itu perlahan mulai bergerak meninggalkan area parkiran. Gue baru mengayunkan kaki menuju tempat parkir motor setelah ekor mobil Freya benar-benar lenyap di belokan jalan.

​Sepanjang rute perjalanan pulang, ingatan gue masih nyangkut di jeda beberapa detik tadi.

​Padahal cuma urusan pamitan biasa.

​Harusnya tinggal ucap hati-hati, masuk kendaraan, terus tancap gas pulang.

​Tapi entah kenapa, kami berdua malah sama-sama menahan diri beberapa detik. Seolah-olah emang belum ada yang benar-benar mau menyudahi momen malam itu.

Bab 4 - Jeda

Beberapa hari setelah nonton bareng itu, gue mulai sadar ada sedikit perubahan dalam rutinitas harian gue.

​Gak ada yang berubah secara frontal sih. Gue tetep menjalani hari kayak biasa, tetep sibuk sama urusan sendiri. Cuma sekarang gue jadi jauh lebih sering mengulik ponsel.

​Tiap kali ada notifikasi WhatsApp masuk, tangan gue refleks langsung meraih gawai. Padahal pas dibuka, palingan cuma obrolan grup yang gak jelas, pesan spam, atau notifikasi promo aplikasi.

​Entah sejak kapan, jauh di dalam hati gue mulai berharap ada satu nama tertentu yang nangkring di layar.

​Freya.

​Di sisi lain, Freya juga kelihatan sedikit beda dari biasanya. Status WhatsApp milik dia jadi lumayan sering nongol. Kadang cuma jepretan langit sore dari balik kaca kendaraan, kadang foto cangkir kopi di meja, atau tulisan pendek yang gak jelas arahnya ditujukan buat siapa.

​Gue hampir gak pernah kelewatan buat melihatnya.

​Tapi ya cuma sebatas itu aja.

​Gak pernah sengaja gue tanggapi. Gak pernah juga gue cari-cari alasan buat membuka obrolan duluan.

​Mungkin gue cuma gak mau kelihatan terlalu berharap atau nungguin dia banget.


Sampai suatu malam, pas gue lagi selonjoran sambil dengerin musik, ponsel yang gue geletakkan di samping bantal mendadak bergetar.

​Nama Freya nongol di layar.

​"Eh, btw makasih banyak ya buat kemarin udah bela-belain nemenin gue nonton."

​Gue refleks senyum tipis sebelum mengetik balasan. "Santai aja kali, Fre. Gue juga seneng kok bisa jalan bareng. Lumayan lah, akhirnya hajat nonton kesampaian juga. Lagian udah lumayan lama gue gak mampir ke bioskop."

​Enggak pakai nunggu lama, pesannya meluncur lagi.

​"Iya nih. Gue juga jujur jarang banget punya waktu senggang buat sekadar nonton santai kayak kemarin. Soalnya minggu ini jadwal gue udah mulai padat merayap lagi."

​Gue membaca pesannya sebentar sebelum akhirnya iseng nanya. "Padat gara-gara apa tuh? Lagi banyak urusan yang kejar tayang ya?"

​Indikator "typing..." nongol beberapa detik.

​Terus lenyap.

​Nongol lagi.

​Setelah nunggu lumayan nanggung, balasan Freya akhirnya masuk juga.

​"Biasa deh, ada tumpukan urusan yang mesti kelar secepatnya. Tapi males kalau kudu cerita detailnya, malah bikin pusing sendiri."

​Gue memandangi balasan itu sekali lagi.

​Sebenarnya masih ada rasa penasaran yang nyangkut. Tapi dari gaya dia ngetik, gue langsung nangkap kalau malam itu dia lagi gak mau ngebahas masalah kerjaan.

​Gue milih buat gak memaksakan arah obrolan.

​"Yaudah, gak usah diceritain kalau makin bikin pusing. Yang penting jangan lupa istirahat. Jangan mentang-mentang urusan banyak terus lo bantai sampai gak tidur."

​Freya membalas singkat. "Iya, bos. Siap."

​Gue terkekeh pelan membaca panggilan itu. "Sok ngatur gue. Emang gue siapa?"

​"Emang," celetuknya lewat teks balasan.

​Gue baru mau menyambar lagi pas notifikasi berikut meluncur mendahului.

​"Tapi ini gue juga lagi usahain banget kok buat nyuri-nyuri waktu istirahat."

​Jari gue lincah membalas. "Nah, gitu dong cakep. Biar bagaimanapun emang sesekali kita kudu jeda sejenak dari rutinitas harian."

​Jeda beberapa detik, Freya melempar pesan baru.

​"Efeknya jadinya malah bikin gue mendadak kangen suasana rental deh."

​Jempol gue mendadak kaku di atas layar.

​Kalimat itu gue baca ulang sampai dua kali.

​Bukan urusan rentalnya yang bikin gerakan jempol gue terhenti.

​Tapi satu kata yang terselip di sana.

​Kangen.

(Batas revisi) 

​Selama ini biasanya gue yang lebih sering mengajak dia ke sana. Sekarang justru Freya yang menyebut tempat itu lebih dulu.

​Gue akhirnya membalas, "Yaudah deh, kapan-kapan kita main ke sana lagi aja. Kalau lo lagi pengen nongkrong santai, tinggal langsung dateng aja."

​"Boleh banget tuh. Nanti deh kalau jadwal gue lagi lumayan longgar, pasti langsung gue kabarin."

​Gue masih sempat mengetik satu pesan lagi.

​"Beneran ya? Awas aja kalau cuma omdo alias omong doang."

​Balasannya langsung masuk.

​"Ih beneran seriusan tau! Nanti kalau jadwal kegiatan gue udah agak senggang, gue pasti bakalan ngabarin lo."

​Obrolan itu berhenti sampai di situ.

​Nggak ada pembicaraan panjang setelahnya. 

​Tapi malam itu gue tetap merasa ada sedikit perubahan.

​Freya nggak banyak cerita tentang masalahnya. Bahkan hampir nggak ada yang benar-benar dia ceritakan. Tapi setidaknya, di tengah jadwalnya yang padat, dia memilih buat bilang kalau dia sedang capek.

​Buat gue, itu sudah cukup.

​Gue meletakkan HP di samping bantal, lalu kembali menatap langit-langit kamar.

​Kalau suatu hari Freya benar-benar ngajak ke rental lagi, gue pasti datang.

​Mau cuma main PS, duduk di teras, atau sekadar ngobrol sambil ngopi, gue nggak keberatan.

​Untuk sekarang, gue nggak perlu lebih dari itu.

Bab 5 - Rental, Lagi

Sore itu HP gue berbunyi.

​Nama Freya muncul di layar.

​Pesannya singkat.

​"Gi, jadwal gue lagi lumayan longgar nih hari ini. Jadi mampir ke rental gak?"

​Gue nggak perlu mikir lama buat membalas.

​"Gas banget lah!"

Sekitar satu setengah jam kemudian, gue sampai di rental.

Suasananya masih sama seperti biasanya. Suara TV dari beberapa bilik saling tumpang tindih dengan obrolan pengunjung dan teriakan anak-anak yang sedang main. Bang Dony juga masih berada di tempatnya, duduk di balik meja kasir sambil merapikan beberapa struk.

​Begitu melihat gue masuk, dia langsung nyeletuk, "Wah, akhirnya datang juga lo. Gue kira lo udah lupa jalan ke sini."

​Gue nyender sebentar di meja kasir. "Gue pelanggan setia di sini, Bang. Jangan diremehin gitu dong."

​"Yang setia mah cuma muka lo doang. Kalau urusan bayar sewa, tetap aja masih suka ditunda."

​Gue langsung ketawa. "Aduh, ya jangan frontal banget buka aib gue di sini, Bang."

​Bang Dony ikut tertawa sebelum kembali merapikan struk.

​Gue kemudian melirik ke arah bilik-bilik rental.

​"Btw, Freya udah nyampe duluan, Bang?"

​Bang Dony menunjuk bilik pojok. "Udah tuh dari tadi. Cuma duduk sendirian di dalam sambil mainan HP."

​Gue langsung berjalan ke sana.

​Freya sudah duduk di dalam bilik. HP masih berada di tangannya, sementara layar TV di depannya hanya menampilkan menu utama.

​Begitu melihat gue datang, dia langsung menggeser sedikit posisi duduknya.

​"Udah lama nunggu di sini?" tanya gue sambil mengambil tempat di sebelahnya.

​"Nggak kok, baru juga sekitar sepuluh menitan," jawabnya pelan sambil tersenyum. "Gue kirain lo bakal datang lebih lama dari ini."

​"Biasa, tadi jalanan sempat macet dikit. Tapi masih aman kok."

​Gue mengambil salah satu stik dan melihat ke layar.

​"Mau main game apa kita?"

​Freya melirik ke rak game di samping bilik. "Pilih yang bisa dimainin berdua aja. Jangan yang susah-susah banget ya."

​Gue mengikuti arah pandangannya, lalu mengambil Overcooked.

​"Nah, ini cocok banget. Tinggal butuh kerja sama yang baik aja."

​"Bilangnya aja tinggal kerja sama. Nanti kalau sampai kalah, jangan salahin gue ya."

​"Justru gue yang harusnya agak khawatir kalau satu tim sama lo."

​Freya terkekeh pelan sambil menggeleng. "Belum juga mulai, udah mulai deh usilnya."

​Game dimulai.

Beberapa menit pertama langsung kacau. Kami masih sama-sama menyesuaikan kontrol. Pesanan datang bertubi-tubi, sementara koordinasi kami belum jelas.

"Anjir, lo jangan motong terus. Itu makanan udah hampir gosong!" teriak gue sambil berusaha mengarahkan karakter ke kompor.

"Lah, lo sendiri ngapain? Piringnya malah lo bawa ke mana-mana. Taruh dulu sini!"

"Gue kira lo yang jagain kompor."

"Ya gue lagi nyiapin bahan. Masa semuanya gue kerjain?"

Beberapa detik kemudian, alarm dari kompor berbunyi.

Freya langsung tertawa. "Tuh, gosong lagi."

"Ya karena lo nggak bilang!"

"Gue udah bilang dari tadi!"

Kami malah sibuk saling menyalahkan sampai ronde selesai dengan skor yang jauh dari bagus.

Freya melihat hasilnya lalu menggeleng.

"Kayaknya kita nggak cocok jadi koki."

Gue tertawa. "Bukan nggak cocok. Kita aja yang nggak bisa kerja sama."

"Bedanya tipis."

Ronde berikutnya berjalan sedikit lebih baik. Kami mulai tahu pembagian tugas masing-masing, meskipun beberapa kali tetap panik ketika pesanan datang bersamaan.

Di sela permainan, gue tiba-tiba teringat sesuatu.

"Eh, lo sadar nggak waktu itu di lapangan banyak yang ngeliatin lo?"

Freya masih memegang stik. "Sadar lah. Emang menurut lo gue nggak punya mata?"

"Terus lo bisa santai aja begitu?"

"Ya mau gimana? Kalau gue ladenin satu-satu, malah makin panjang. Males juga kalau mereka jadi kepo."

Gue mengangguk. "Gue kira lo nggak sadar."

"Justru karena sadar makanya gue cuekin."

Dia kembali fokus ke layar. Gue pun nggak melanjutkan topik itu.

Sekitar setengah jam bermain, Freya mulai kehilangan semangat. Gerakan karakternya nggak lagi secepat tadi. Beberapa kali dia malah berhenti untuk mengecek HP.

Akhirnya dia meletakkan stik di meja.

"Udah ah. Jempol gue pegal. Kalau lanjut, kayaknya gue malah makin nggak becus."

Gue ikut menaruh stik. "Yaudah, istirahat dulu."

Freya kemudian cerita kalau mobilnya sedang diservis. Itu sebabnya tadi dia datang naik ojek online. Untuk pulang, dia masih menunggu dijemput orang rumah, tetapi kemungkinan masih cukup lama.

Gue melirik ke luar bilik.

"Kalau masih lama, ke belakang aja yuk. Di sini berisik."

Freya mengangguk. "Boleh. Gue juga pengen cari tempat yang lebih sepi."

"Lo duluan aja. Gue pesenin minum sama makanan."

Dia berdiri dan langsung berjalan menuju teras belakang.

Gue mampir ke kasir untuk memesan dua gelas es teh dan dua porsi roti bakar. Bang Dony yang menyiapkan pesanan sambil sesekali ngobrol soal rental yang belakangan makin ramai setiap malam.

Beberapa menit kemudian, semuanya selesai.

Gue membawa nampan kecil itu ke teras belakang.

Freya sudah duduk di salah satu kursi.

"Nih, gue pesenin sekalian buat lo," kata gue sambil meletakkan segelas es teh dan sepiring roti bakar di depannya.

Freya melihat makanan itu. "Lah, kok jadi beliin segala?"

"Kan kita masih nunggu jemputan lo. Daripada bengong."

"Oh, kirain lo tiba-tiba baik."

"Jangan salah paham. Gue cuma nggak mau lo kelaparan."

Freya tertawa kecil sebelum mengambil gelasnya.

Teras belakang rental memang jauh lebih tenang. Hanya ada beberapa motor yang terparkir dan sebuah lampu kuning redup di atas pintu. Dari sisi belakang terdengar suara jangkrik samar dari kebun sebelah.

Kami makan sambil ngobrol ringan.

Setelah beberapa saat, Freya mengambil sepotong roti bakar dan berkata, "Roti bakar di sini emang nggak pernah berubah, ya. Dari dulu rasanya masih sama."

Gue mengangguk. "Bang Dony katanya nggak berani ganti resep. Takut pelanggan lama protes."

"Baguslah. Kalau tiba-tiba diganti, malah aneh."

"Makanya. Ada beberapa hal di rental ini yang memang nggak berubah."

Freya tersenyum kecil. "Iya juga."


Obrolan kemudian mengalir tanpa arah yang jelas. Kami membicarakan makanan yang tadi dimakan, rental yang ternyata masih hampir sama seperti dulu, sampai cerita-cerita lama yang tiba-tiba muncul begitu saja dari ingatan.

Nggak ada pembahasan serius. Nggak ada juga yang sengaja mencari topik supaya suasana tetap berjalan. Kami cuma duduk, makan, dan ngobrol sampai gue nggak sadar waktu sudah berjalan sejauh itu.

Angin malam tiba-tiba berembus melewati teras. Poni Freya terdorong ke depan wajahnya dan menutupi sebagian pandangan. Tanpa berpikir panjang, tangan gue terangkat untuk merapikannya ke samping.

Freya langsung diam.

Gue baru sadar jarak kami cukup dekat. Tangan gue perlahan turun, tapi pandangan kami masih bertemu. Suasana yang beberapa detik sebelumnya biasa saja mendadak berubah.

Gue sempat bergerak mendekat.

Freya nggak langsung menjauh. Justru itu yang membuat gue semakin yakin kalau mungkin perasaan gue selama ini nggak sepihak.

Namun, ketika jarak kami tinggal sedikit, Freya tiba-tiba menarik tubuhnya ke belakang.

"Jangan, Gi."

Gue menahan napas sebentar. "Sorry. Gue kira..."

"Udah, Gi. Nggak usah dibahas," katanya pelan. "Gue cuma nggak mau lo salah paham."

Kalimat itu membuat gue kehilangan kata-kata.

Setelahnya, kami sama-sama diam. Gue menatap ke depan, sementara Freya sesekali melihat ke arah halaman. Rasanya aneh. Beberapa menit sebelumnya kami masih bisa tertawa soal hal-hal kecil. Sekarang, duduk bersebelahan saja terasa canggung.

Selama beberapa waktu terakhir, gue mulai menganggap kebersamaan kami sebagai sesuatu yang istimewa. Cara dia datang, cara kami ngobrol, sampai hal-hal kecil yang terjadi di antara kami diam-diam membuat gue berpikir kalau mungkin hubungan kami sudah berada di tempat yang berbeda.

Ternyata gue salah.

Dan yang lebih menyakitkan, gue baru sadar setelah semuanya terlanjur gue anggap punya arti.

Beberapa menit kemudian, suara klakson terdengar dari arah depan rental.

Freya langsung berdiri sambil mengambil tasnya.

"Kayaknya mobil jemputan gue udah datang."

Gue hanya mengangguk.

Dia berjalan menuju pintu teras, lalu berhenti sebentar sebelum benar-benar pergi. Freya menoleh ke arah gue. Wajahnya nggak terlihat ceria seperti biasanya. Ada sesuatu yang sulit gue baca dari ekspresinya.

"Yaudah, gue balik dulu, ya."

Gue cuma memberikan senyum kecut tanpa membalas kalimat itu.

Setelah itu, dia pergi.

Gue tetap duduk di tempat sampai suara pintu gerbang terdengar tertutup. Beberapa saat kemudian, gue masih sendirian di teras belakang.

Lampu kuning di atas kepala tetap menyala. Suara jangkrik dari kebun sebelah masih terdengar seperti biasa, tapi kepala gue sudah dipenuhi hal-hal yang sejak tadi gue coba abaikan.

Gue menatap gelas es teh yang tinggal setengah.

Malam yang awalnya cuma ingin gue isi dengan main PS dan ngobrol santai ternyata berakhir dengan satu penolakan yang membuat gue mempertanyakan semua kedekatan kami selama beberapa waktu terakhir.

Bab 6 - Rental Tanpa Dia

Tiga hari setelah kejadian malam itu, gue masih berusaha bersikap biasa aja.

Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin gue memang terlalu cepat menyimpulkan. Freya sudah bilang dia nggak mau gue salah paham, tapi bukan berarti semuanya harus berubah setelah kejadian itu. Bisa aja malam itu cuma momen yang salah, gue yang terlalu terbawa suasana, lalu semuanya jadi canggung.

Meski begitu, gue nggak bisa bohong kalau rasa malu itu masih ada. Harga diri gue sempat jatuh malam itu, dan sampai sekarang gue masih ingat jelas ekspresi Freya waktu menarik diri.

Tapi gue memilih nggak membesar-besarkannya. Gue nggak mau hubungan kami yang selama ini baik-baik aja jadi aneh cuma gara-gara satu kejadian.

Sore itu, gue membuka WhatsApp dan masuk ke ruang chat Freya. Gue nggak berniat membahas kejadian malam itu. Gue cuma mau menyapa seperti biasa, seolah nggak ada sesuatu yang perlu dipermasalahkan.

Jari gue mengetik singkat.

"Eh, lagi ngapain?"

Pesan terkirim.

Centang satu.

Gue menaruh HP di meja dan melanjutkan kegiatan lain. Beberapa jam kemudian, gue mengeceknya lagi.

Masih sama.

Belum dibaca.

Gue sempat memperhatikan layar beberapa detik sebelum akhirnya mengunci HP. Bisa aja dia sedang sibuk, HP-nya mati, atau memang belum sempat membuka WhatsApp.

Daripada terus menunggu di rumah, gue akhirnya memutuskan pergi ke rental.

Nggak ada janji sama Freya. Gue cuma berpikir mungkin saja nanti ketemu dia seperti biasanya.

Perjalanan menuju rental memakan waktu hampir satu jam. Sepanjang jalan, kejadian malam itu beberapa kali muncul di kepala, tapi gue berusaha mengabaikannya.

Kalau nanti ketemu Freya, gue tinggal ngobrol biasa.

Nggak perlu membahas apa-apa.

Begitu sampai, pandangan gue langsung tertuju ke bilik-bilik yang biasanya ditempati Freya.

Kosong.

Gue sempat memperhatikan beberapa detik sebelum akhirnya berjalan ke kasir.

Bang Dony sedang menghitung beberapa lembar struk ketika gue menghampirinya.

"Bang, Freya ke sini nggak hari ini?"

"Enggak tuh. Dari kemarin juga gue nggak lihat dia," jawab Bang Dony tanpa mengangkat kepala.

"Oh, gitu."

Bang Dony berhenti menghitung dan melirik gue. "Kenapa emang? Ada perlu sama dia?"

Gue langsung menggeleng. "Nggak ada. Gue cuma nanya aja. Kirain dia mampir."

Bang Dony mengangguk lalu kembali dengan pekerjaannya.

Gue masuk ke salah satu bilik kosong.

Stik PS ada di meja, TV menyala, tapi gue nggak punya niat buat main. Gue cuma duduk sambil melihat menu utama yang terus menyala di layar.

HP gue gue taruh di meja.

Beberapa menit kemudian, gue mengambilnya lagi.

Masih belum ada balasan.

Gue mengembuskan napas pelan lalu memasukkannya ke saku.

Dari bilik sebelah terdengar suara orang berteriak karena kalah main. Di bagian depan, beberapa anak sedang ribut memilih game. Suara komentator dari salah satu TV bercampur dengan bunyi stik yang terus ditekan.

Rental tetap seramai biasanya.

Tapi gue malah nggak benar-benar bisa menikmati suasananya.

Nggak lama kemudian, Bang Dony datang membawa segelas air mineral dan meletakkannya di meja.

"Minum dulu. Dari tadi bengong doang."

Gue mengambil gelas itu. "Makasih, Bang."

Bang Dony kemudian membereskan beberapa gelas kosong di meja sebelah.

"Ngomong-ngomong, kemarin Freya sempat mampir bentar."

Gue langsung menoleh. "Kemarin?"

"Iya. Datang sebentar, terus pergi lagi. Nggak lama."

"Kenapa? Ada apa?"

"Katanya ada acara keluarga. Gue juga nggak nanya macam-macam. Waktu itu dia buru-buru banget."

Gue sempat diam sebelum kembali bertanya, "Acara keluarga apaan, Bang?"

"Nggak tahu. Dia nggak cerita detail. Gue juga lagi banyak yang harus diurus."

Bang Dony membawa gelas-gelas tadi ke arah kasir.

Gue masih duduk di tempat.

Acara keluarga.

Dua kata itu terus berputar di kepala gue.

Gue nggak tahu kenapa, tapi informasi sederhana itu tiba-tiba bikin pikiran gue ke mana-mana. Apalagi tiga hari terakhir Freya belum membalas pesan gue.

Gue kembali mengambil HP dan melihat layarnya.

Tetap centang satu.

Gue akhirnya menyandarkan tubuh ke kursi.

Mungkin memang cuma kebetulan.

Mungkin Freya benar-benar sedang sibuk dengan urusan keluarganya.

Gue mencoba berhenti mencari hubungan antara semuanya dengan kejadian di teras.

Lebih baik begitu.

Gue duduk lebih dari satu jam di rental tanpa benar-benar melakukan apa-apa. Orang-orang datang dan pergi, bilik-bilik yang tadi kosong mulai terisi, dan suasana perlahan semakin ramai.

Tapi gue tetap merasa ada yang kurang.

Biasanya gue datang ke sini karena memang ingin main atau sekadar nongkrong. Belakangan, keberadaan Freya diam-diam jadi salah satu alasan gue betah berlama-lama.

Sekarang dia nggak ada.

Dan baru kali ini gue sadar, ternyata tempat yang sama bisa terasa berbeda cuma karena satu orang nggak datang.

Akhirnya gue berdiri dan memutuskan pulang.

Sebelum memasukkan HP ke saku, gue mengecek WhatsApp sekali lagi.

Pesan gue masih centang satu.

Sepanjang perjalanan, pikiran gue kembali pada Freya dan acara keluarga yang disebut Bang Dony tadi.

Gue masih berusaha meyakinkan diri bahwa semua itu nggak ada hubungannya dengan kejadian tiga hari lalu.

Tapi semakin gue mencoba menganggapnya biasa, semakin sulit juga mengabaikan firasat yang sejak tadi muncul di kepala gue.

Bab 7 - Status WA

Malam itu gue lagi buka WhatsApp karena mau chat teman lain. Nggak ada niat apa-apa soal Freya. Gue cuma sedang scroll daftar kontak buat mencari nama yang gue cari.

Sampai mata gue berhenti di deretan status.

Ada lingkaran hijau di foto profil Tante Lovita, mamanya Freya.

Gue sempat ragu sebentar sebelum membukanya. Cuma iseng. Gue juga nggak punya alasan khusus buat kepo.

Status itu menampilkan sebuah foto formal. Tante Lovita terlihat berada di ruang makan yang cukup besar, dengan meja panjang penuh makanan. Beberapa orang dewasa duduk mengelilinginya.

Freya juga ada di sana.

Dia mengenakan pakaian yang lebih rapi dari biasanya. Duduk tegak sambil memberikan senyum sopan ke arah kamera.

Di sebelahnya ada seorang cowok yang nggak gue kenal. Umurnya kelihatan nggak jauh dari kami. Dia juga mengenakan kemeja rapi dan duduk cukup dekat dengan Freya.

Caption-nya singkat.

"Alhamdulillah, silaturahmi sama keluarga Pak Bram. Semoga selalu diberkahi."

Gue menatap layar cukup lama.

Nggak ada penjelasan lain. Cuma foto formal dan satu kalimat pendek.

Tapi kepala gue langsung mengingat ucapan Bang Dony beberapa hari lalu.

Acara keluarga.

Gue keluar dari status itu dan meletakkan HP di atas kasur. Pandangan gue beralih ke langit-langit kamar.

Gue mencoba menganggapnya sebagai hal biasa. Bisa saja memang cuma acara silaturahmi. Keluarga mengundang kenalan untuk makan bersama juga bukan sesuatu yang aneh.

Tapi semakin gue mengingat foto tadi, perhatian gue justru tertuju pada ekspresi Freya.

Senyumnya terlihat sopan, tapi nggak seperti biasanya. Ada kesan kaku yang sulit gue abaikan.

Gue mengambil HP lagi dan membuka status Tante Lovita.

Foto itu masih terpampang di layar.

Tanpa sadar, gue memperbesar bagian yang memperlihatkan Freya dan cowok di sebelahnya.

Gue nggak tahu siapa dia. Dari wajahnya juga nggak ada sesuatu yang aneh. Dia terlihat biasa saja, bahkan cukup sopan.

Tetap saja, keberadaannya di foto itu membuat pikiran gue semakin nggak nyaman.

Cowok itu duduk di sebelah Freya dalam sebuah acara yang melibatkan keluarga mereka. Sementara gue cuma bisa melihat semuanya dari layar HP tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Gue keluar dari status tersebut dan membuka ruang chat Freya.

Sebenarnya gue sudah tahu kemungkinan pesannya nggak akan langsung dibalas. Tapi setelah melihat foto tadi, gue tetap ingin mencoba menghubunginya.

Gue mengetik, "Eh, lo lagi di mana?"

Pesan terkirim.

Centang satu.

Gue meletakkan HP di samping bantal. Kali ini gue bahkan nggak berusaha mengalihkan pikiran.

Kejadian di teras terus muncul lagi.

Freya yang tiba-tiba menarik diri.

Kalimatnya yang meminta gue untuk nggak salah paham.

Tiga hari tanpa kabar.

Pesan gue yang nggak dibaca.

Lalu foto tadi.

Potongan-potongan itu mulai membentuk satu kemungkinan di kepala gue, meskipun gue sendiri belum punya cukup alasan buat mempercayainya.

Dan justru ketidakpastian itu yang bikin gue gelisah.

Gue masih mencoba mencari kemungkinan lain. Bisa saja cowok itu cuma kenalan keluarga. Bisa juga acara tersebut memang sekadar silaturahmi dan Freya sedang sibuk mengurus urusan lain.

Tapi semakin lama gue memikirkannya, semakin susah buat gue menganggap semuanya kebetulan.

Malam itu gue susah tidur.

Beberapa kali gue mengambil HP, membuka WhatsApp, lalu menutupnya lagi. Nggak ada pesan baru.

Akhirnya gue meletakkan HP di samping bantal dan memejamkan mata.

Sebelum benar-benar tertidur, gue sudah mengambil satu keputusan.

Kalau nanti gue ketemu Freya lagi, gue bakal nanya langsung.

Gue nggak mau terus menebak-nebak dari status WhatsApp, cerita Bang Dony, atau potongan informasi yang belum tentu saling berkaitan.

Kalau memang ada sesuatu, gue ingin mendengarnya langsung dari Freya.

Bab 8 - Taman Deket Rental

Tiga hari setelah malam itu, chat gue akhirnya dibales.

Freya: "Bisa ketemu gak? Taman deket rental, sekarang."

Gak ada basa-basi. Gue langsung siap-siap dan jalan kaki ke taman yang dia maksud. Tempat itu sebenarnya sering gue lewatin kalau habis dari rental, cuma nggak pernah terpikir untuk duduk di sana.

Freya berada di bangku paling ujung waktu gue sampai. Motor Beat pink miliknya terparkir sembarangan di dekat pagar. Bahkan stangnya gak dikunci seperti biasanya.

Gue duduk di sebelahnya, menyisakan jarak yang cukup jauh. Berbeda dari waktu kami duduk di teras rental beberapa malam lalu.

Gue sempat melirik gerobak es teh di dekat pintu masuk taman. "Lo mau minum gak? Gue beliin."

"Gak usah, Gi. Gue gak pengin apa-apa."

Jawabannya pelan. Pandangannya tetap lurus ke depan, mengikuti anak-anak kecil yang sedang bersepeda di jalan setapak.

Gue mengangguk, lalu ikut melihat ke arah yang sama. Beberapa detik gue biarkan berlalu sebelum akhirnya memilih buat langsung ngomong.

"Gue lihat status WA nyokap lo."

Freya langsung menoleh. "Status yang mana?"

"Foto makan malam sama keluarga Pak Bram."

Freya gak langsung menjawab. Tangannya yang semula diam di pangkuan mulai meremas ujung bajunya.

"Itu gak ada apa-apa, Gi. Cuma acara keluarga."

"Bang Dony bilang lo buru-buru pergi hari itu. Dan belakangan chat gue nggak pernah lo balas."

"Gue memang lagi sibuk waktu itu."

"Sibuk apa?"

Freya terdiam. Kali ini cukup lama sampai gue bisa dengar suara anak-anak yang lewat di depan kami.

Gue menahan diri buat gak terus mendesak. Tapi setelah beberapa saat, gue akhirnya bicara lagi.

"Lo gak harus cerita kalau emang belum siap. Gue bisa ngerti. Tapi jangan bikin gue ngerasa salah karena nyimpulin sesuatu dari apa yang gue lihat sendiri."

Freya menunduk. Ujung bajunya masih berada di antara jemarinya.

"Itu memang perjodohan, Gi."

Kalimat itu keluar, tapi cukup membuat gue gak bisa langsung menjawab.

"Bokap gue sama bokapnya Bram udah lama jadi partner bisnis. Dari dulu mereka memang pernah ngomongin soal ini, cuma gue baru tahu kalau ternyata mereka serius pas malam itu."

Gue tetap diam. Gue tahu kalau gue menyela sekarang, mungkin dia bakal berhenti cerita.

Freya menarik napas sebelum melanjutkan. "Gue gak bisa nolak semudah itu. Masalahnya sekarang menyangkut bisnis keluarga. Kalau gue nolak, yang kena dampaknya bukan gue seorang."

Dia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih rendah.

"Kalau gue bilang dari awal, gue takut semuanya malah jadi makin rumit. Gue sendiri waktu itu masih berusaha ngerti keadaan gue. Gue gak tahu harus milih apa, harus ngomong ke siapa, atau harus ngelawan sampai sejauh mana."

Gue gak langsung menanggapi. Ada beberapa hal yang sebenarnya ingin gue bilang, tapi semuanya terdengar gak ada gunanya setelah tahu masalah yang dia hadapi.

Freya kembali menatap ke depan.

"Gue capek, Gi. Rasanya gue harus nurut terus sama semua orang, sama bokap nyokap. Sekarang ditambah harus ngikutin rencana yang dari awal aja gue gak pernah setuju."

Gue menunduk sebentar. "Terus sekarang lo mau gimana?"

"Gue gak tahu."

"Serius, gue beneran gak tahu harus ngapain sekarang."

Gue mengangguk pelan. Gak ada lagi yang bisa gue tanyakan.

Kami akhirnya kembali diam. Anak-anak yang tadi bermain sepeda satu per satu dipanggil pulang oleh orang tua mereka. Suasana taman perlahan berubah sepi.

Gue dan Freya masih duduk di bangku yang sama. Jarak kami tetap seperti sejak gue datang. 

Untuk pertama kalinya sejak malam di teras itu, gue akhirnya ngerti kenapa Freya memilih diam.

Masalahnya memang jauh lebih besar daripada yang gue kira.

Bab 9 - Jarak

Seminggu setelah pertemuan di taman itu, gue memutuskan buat gak menghubungi Freya.

Gue cuma merasa kalau gue terus-terusan nanya kabar atau ngajak ketemu, keberadaan gue malah bisa jadi tambahan beban buat dia. Freya sudah punya cukup banyak urusan yang harus diberesin sama keluarganya. Gue gak mau ikut menambahinya dengan pertanyaan yang sama setiap hari.

Gue juga mulai jarang ke rental. Kalau biasanya gue bisa datang dua atau tiga kali dalam seminggu, sekarang paling cuma sekali. Itupun nggak lama. 

Bukan karena gue mau menghindar. Gue cuma belum siap bersikap seolah semuanya masih sama. Rasanya aneh kalau gue harus duduk ngobrol santai sama dia, sementara ada masalah sebesar itu yang masih menggantung di pundak Freya.

Suatu sore, Bang Dony sempat memperhatikan perubahan itu waktu gue mampir.

"Lo kenapa sekarang jarang kelihatan? Biasanya baru beberapa hari udah nongol lagi," tanyanya sambil tetap sibuk di meja kasir.

"Gue lagi banyak urusan aja, Bang. Akhir-akhir ini lagi males nongkrong lama."

Bang Dony menatap gue sebentar. Dari ekspresinya, gue tahu dia gak sepenuhnya percaya. Tapi dia juga gak memaksa gue cerita.

"Ya udah. Main aja sana kalau mau."

Gue masuk dan mengambil tempat di PS pojok. Hari itu gue main sendirian dan hampir gak ngobrol sama siapa-siapa.

Dari obrolan Bang Dony yang sesekali keluar, gue pelan-pelan tahu sedikit tentang keadaan Freya. Katanya, belakangan ini Freya mulai sering menolak ajakan makan bareng keluarga dan pihak Bram. Alasannya hampir selalu sama, jadwal kerja yang sedang padat.

Awalnya orang tua Freya masih bisa maklum. Tapi karena penolakan itu mulai terjadi beberapa kali, mereka akhirnya mulai bertanya-tanya.

"Kalau Freya udah gak mau sesuatu, dia memang susah dibujuk," lanjutnya. "Cuma dia bukan tipe yang bakal langsung bilang enggak di depan orang. Biasanya dia cari cara buat mundur pelan-pelan sampai orangnya ngerti sendiri."

Gue cuma mendengarkan.

Gue sebenarnya masih ingin bertanya lebih jauh, tapi saat itu ada pelanggan yang memanggil Bang Dony dari dalam.

"Bang, nambah satu jam!"

"Iya, bentar!"

Bang Dony langsung beranjak dari meja kasir. Obrolan kami pun berhenti begitu saja.

Malamnya, gue sempat membuka chat Freya. Bukan buat mengirim pesan, cuma ingin melihat percakapan kami yang terakhir.

Chat paling bawah masih pesan gue waktu itu. Setelahnya, Freya yang mengajak gue ketemu di taman. Sejak pertemuan tersebut, gak ada lagi percakapan baru di antara kami.

Gue sempat mengetik beberapa kata.

"Lo gimana?"

Gue baca sebentar, lalu gue hapus.

Gue coba lagi.

"Udah ada kabar soal yang kemarin?"

Kali ini bahkan belum sempat gue kirim. Gue langsung menghapusnya.

Gue tahu gue ingin tahu keadaan dia, tapi pertanyaan itu rasanya gak tepat kalau disampaikan lewat chat. Apalagi kalau ternyata Freya belum siap membicarakannya.

Akhirnya HP gue taruh di samping, dan percakapan itu kembali gue biarkan begitu saja.

Beberapa hari kemudian, gue melihat story Freya.

Cuma foto langit sore. Gak ada tulisan, gak ada lagu, gak ada keterangan apa pun. Gue hampir langsung melewatinya, sampai sadar story itu baru diunggah sekitar jam sepuluh malam.

Jam yang dulu sering dia pakai buat menghubungi gue lebih dulu.

Gue sempat menatap story itu beberapa detik. Jempol gue bahkan sudah hampir menekan kolom balasan, tapi akhirnya gue urungkan.

HP gue matikan layarnya.

Jarak ini memang gue yang mulai. Gue yang memilih buat diam dan memberi Freya ruang. Tapi semakin lama, keputusan itu justru terasa makin berat.

Ada bagian dari diri gue yang ingin datang dan menanyakan langsung kabarnya. Gue ingin tahu apakah keadaan di rumahnya sudah membaik, apakah urusannya dengan Bram mulai menemukan jalan keluar, atau setidaknya apakah dia baik-baik saja.

Tapi gue juga sadar, gue gak punya hak buat terus masuk ke masalah yang sedang dia hadapi.

Mungkin sekarang memang bukan waktunya.

Jadi gue tetap diam.

Gue menunggu, tanpa benar-benar tahu apa yang sedang gue tunggu.

Bab 10 - Rental, Akhirnya

2 bulan setelah gue memutuskan buat jaga jarak, gue nyoba balik lagi ke rental.

Gue cuma mulai kangen main, sekaligus kangen suasana rental yang dulu terasa biasa saja sebelum semuanya jadi seribet ini.

Bang Dony lagi beresin kabel controller waktu gue masuk. Begitu melihat gue, dia langsung nyengir.

"Lo hidup lagi ternyata. Gue kira udah pindah rental."

Gue narik kursi yang biasa gue pakai. "Berisik. Gue cuma lagi males nongol."

"Iya, iya. Males nongol dua bulan."

dang Dony ketawa kecil dan kembali sibuk dengan kabel di tangannya. Gue menyalakan PS5, lalu mulai memilih game seperti biasanya.

Belum sempat menentukan mau main apa, pintu kaca di depan rental terbuka.

Freya masuk.

Dia mengenakan pakaian biasa, bukan pakaian formal seperti yang gue lihat di foto status WA waktu itu. Langkahnya sempat berhenti begitu matanya menemukan gue.

Gue juga otomatis diam.

Beberapa detik kami cuma saling melihat dari tempat masing-masing. Freya seperti sedang mempertimbangkan apakah harus tetap masuk atau malah pergi lagi.

Pada akhirnya dia menutup pintu dan berjalan ke dalam.

Dia mengambil kursi di sebelah gue, dengan jarak yang kurang lebih sama seperti dulu, sebelum semua masalah itu muncul di antara kami.

"Lama gak ke sini," katanya sambil melihat layar TV yang masih menampilkan menu utama PS5. "Gue kira lo udah gak mau datang lagi."

"Gue juga sempat mikir begitu."

Freya menoleh sebentar, lalu tersenyum kecil. "Ternyata balik juga."

Gue cuma mengangguk. Beberapa detik berikutnya kami sama-sama diam. Dari kursi sebelah terdengar suara game dan sesekali teriakan pemain yang lagi main.

Sampai akhirnya Freya membuka percakapan yang sejak tadi mungkin sudah dia siapkan.

"Gue udah ngomong sama bokap nyokap."

Gue langsung menoleh. "Soal Bram?"

"Iya."

Freya masih melihat layar di depan kami. "Belum bisa dibilang beres sepenuhnya. Bokap masih kecewa, terus sempat ngomel juga. Tapi gue bilang terus terang kalau gue gak mau lanjutin rencana itu, apa pun alasan bisnis yang mereka punya."

Dia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

"Selama ini gue selalu muter kalau mau nolak. Cari alasan kerjaan, bilang lagi capek, atau pura-pura gak punya waktu. Kali ini gue bilang langsung kalau gue gak setuju."

Gue mengangguk pelan. "Terus mereka gimana?"

"Belum sepenuhnya nerima. Tapi setidaknya sekarang mereka tahu posisi gue."

Freya menarik napas pendek.

"Capek sih, Gi. Gue sempat kepikiran buat diem lagi seperti biasanya. Tapi ternyata setelah gue ngomong langsung, gue malah ngerasa lega."

Gue membiarkan dia menyelesaikan ceritanya sebelum bertanya lagi.

"Kalau sama Bram sendiri?"

"Belum ketemu lagi. Mungkin nanti kalau ada acara keluarga." Freya kemudian menambahkan, "Tapi setidaknya sekarang gue gak perlu pura-pura kalau gue setuju sama rencana itu."

Gue mengangguk. Ada rasa lega yang sulit gue jelaskan, meskipun gue tahu masalahnya belum benar-benar selesai.

Beberapa saat gue cuma menatap layar. Sebenarnya ada satu hal lain yang ingin gue sampaikan sejak dia datang.

"Gue juga mau minta maaf."

Freya menoleh. "Buat apa?"

"Soal gue yang kemarin-kemarin jaga jarak. Gue cuma mikir kalau gue terus muncul dan nanya macam-macam, malah bikin lo tambah kepikiran."

"Gue tahu."

Jawabannya cepat, sampai gue sempat mengernyit.

"Bang Dony cerita?"

"Iya. Katanya lo bilang lagi sibuk, tapi dia tahu lo sengaja ngurangin datang ke sini."

Gue mendengus pelan. "Wah, mulut Bang Dony."

Freya tertawa kecil. "Jangan salahin dia. Gue juga sebenarnya ngerti kenapa lo begitu."

Gue kembali melihat layar. Ada sedikit rasa malu karena ternyata alasan yang gue simpan sendiri justru sudah diketahui orang lain.

Freya kemudian terdiam beberapa saat sebelum kembali bicara.

"Gue juga sempat mikirin kejadian di teras."

Gue gak langsung menjawab.

"Waktu itu gue nolak lo bukan karena gue gak mau, Gi."

Gue menatapnya.

"Gue cuma takut. Waktu itu semuanya lagi berantakan. Gue takut kalau gue nerima lo, masalahnya malah makin panjang dan lo ikut kebawa ke urusan keluarga gue."

Dia menghela napas pelan.

"Gue pikir kalau gue mundur, semuanya bakal lebih gampang. Ternyata enggak juga."

Gue gak mengatakan apa-apa. Gue cuma menunggu dia menyelesaikan kalimatnya.

"Gue pengin jujur sekarang," katanya. "Gue mau kedekatan kita balik seperti dulu."

Gue sempat diam beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum.

"Gue juga."

Freya ikut tersenyum. Kali ini senyumnya terlihat lebih lepas daripada yang selama ini gue lihat di foto-foto atau saat dia sedang berusaha terlihat baik-baik saja.

Kami gak langsung membahas hubungan atau masa depan lagi setelah itu.

PS5 yang sejak tadi menyala akhirnya tetap berada di menu utama. Kami malah ngobrol soal hal-hal kecil seperti dulu. Tentang game, rental, makanan, sampai roti bakar dan es teh yang akhirnya kami pesan seperti biasanya.

Tempatnya masih sama.

Kursinya masih sama.

Suara rental juga masih sama.

Yang berubah cuma kami berdua, setelah melewati dua minggu yang cukup panjang untuk membuat kami sadar kalau menjauh ternyata gak selalu membuat semuanya lebih mudah.

Gak ada jawaban pasti soal apa yang akan terjadi setelah hari itu.

Untuk sekarang, gue rasa kami gak perlu memaksakan jawaban itu.

© 2025 by Agi Dione | All rights reserved.