Ticker

6/recent/ticker-posts

Oposisi yang Offside


Gue perhatiin, Rocky Gerung ini emang jago kalau urusan membangun narasi. Dia hampir selalu bisa bikin sebuah isu terlihat menarik buat dibahas. Tapi pas masuk ke urusan sepak bola, khususnya soal naturalisasi pemain timnas, gue merasa argumennya kali ini kurang meyakinkan.

Sebenarnya gue paham kalau Rocky melihat naturalisasi sebagai sesuatu yang layak dikritisi. Dalam negara demokrasi, kebijakan apa pun memang boleh diperdebatkan. Yang jadi masalah, kritiknya terasa kurang nyambung dengan kondisi sepak bola Indonesia yang ada sekarang.

Kalau bicara fakta, proses naturalisasi pemain yang dilakukan PSSI dan pemerintah berjalan sesuai aturan negara dan juga diakui FIFA. Jadi ketika muncul istilah seperti "penipuan sensasi", gue malah merasa istilah itu terlalu jauh dibanding kenyataan yang ada di lapangan.

Lagian, banyak orang juga sering lupa kalau mayoritas pemain naturalisasi yang sekarang memperkuat Timnas bukan orang yang tiba-tiba muncul tanpa hubungan apa pun dengan Indonesia. Banyak yang masih punya garis keturunan Indonesia dari orang tua, kakek, atau nenek mereka. Memang benar mereka sebelumnya warga negara asing dan besar di luar negeri, tapi menurut gue itu bukan persoalan utama. Yang lebih penting justru komitmen mereka setelah menjadi WNI dan apa yang mereka berikan di lapangan, yaitu pada kontribusi mereka saat mengenakan seragam Timnas Indonesia.

Di sisi lain, narasi soal bakat lokal juga sering terdengar ideal, tetapi sepak bola bukan sesuatu yang bisa dibangun dalam waktu singkat. Pembinaan pemain membutuhkan proses bertahun-tahun. Bahkan negara-negara yang sistem pembinaannya jauh lebih maju pun tetap mencari berbagai cara untuk memperkuat tim nasional mereka. Karena itu, menurut gue naturalisasi lebih tepat dilihat sebagai jalan tambahan sambil pembinaan jangka panjang tetap berjalan.

Yang juga menarik, perdebatan soal naturalisasi ini baru ramai ketika timnas lagi nunjukin perkembangan yang cukup positif. Padahal kalau ditarik ke belakang, program naturalisasi sendiri bukan hal baru di sepak bola Indonesia. Artinya, ini bukan kebijakan yang tiba-tiba muncul di era sekarang.

Dulu, waktu sepak bola Indonesia lagi sering diterpa masalah internal dan prestasi yang naik turun, kritik itu nggak sebesar sekarang di ruang publik. Karena itu, wajar kalau muncul pertanyaan kenapa justru ketika timnas mulai stabil dan menunjukkan progres, perdebatan soal ini jadi jauh lebih panas dan lebih keras dibanding sebelumnya.

Menurut gue, di sinilah Rocky kurang membaca situasi publik. Saat ini banyak orang senang karena akhirnya bisa melihat Indonesia bersaing lebih kompetitif di level internasional. Jadi ketika kritik terhadap naturalisasi disampaikan dengan nada yang sangat keras, sebagian masyarakat merasa yang diserang bukan kebijakannya, melainkan kebahagiaan mereka sebagai pendukung timnas.

Dari luar sih, kritiknya jadi terlihat lebih dekat ke pertarungan politik daripada pembahasan sepak bola itu sendiri. 

Buat gue pribadi, kritik tetap penting. Timnas, PSSI, bahkan pemerintah juga tidak boleh kebal dari kritik. Tapi kritik yang paling efektif biasanya lahir dari pembacaan situasi yang utuh. Kalau yang dilihat hanya satu sisi, sementara sisi lain yang juga nyata diabaikan, publik akan lebih sulit menerima pesan yang ingin disampaikan.

Yang perlu diingat, dukungan masyarakat terhadap timnas bukan semata-mata soal politik, yang dalam pandangan beliau mungkin juga berpotensi dijadikan panggung. Banyak orang mendukung karena mereka ingin melihat sepak bola Indonesia berkembang dan akhirnya bisa bersaing lebih baik. Karena itu, wajar kalau publik lebih tertarik pada hasil yang terlihat di lapangan dibanding perdebatan yang terasa jauh dari realitas pertandingan itu sendiri.

© 2025 by Agi Dione | All rights reserved.