Rocky Gerung itu emang punya kemampuan bikin sebuah isu terdengar penting. Hampir apa pun yang dia bahas bisa jadi bahan perdebatan. Tapi pas dia ngomong soal naturalisasi timnas, gue ngerasa ada beberapa bagian dari argumennya yang kurang pas.
Intinya Rocky bilang naturalisasi itu semacam "penipuan terhadap sensasi". Kita larut dalam euforia, padahal yang main di lapangan bukan timnas versi ideal yang selama ini kita bayangin. Dia juga khawatir kalau naturalisasi terus dijadikan solusi instan, pembinaan pemain lokal bakal jalan di tempat dan nggak pernah berkembang.
Sebenernya gue paham arah pikirannya. Kekhawatiran soal masa depan pemain lokal itu bukan omongan ngawur. Malah gue setuju, itu pertanyaan yang layak banget diajukan. Cuma masalahnya, cara Rocky melihat persoalan ini terasa terlalu sederhana. Kayak hitam putih gitu.
Coba kita liat soal legalitas. Proses naturalisasi yang dijalani PSSI itu jelas, bukan perkara abu-abu. Semuanya lewat jalur resmi negara dan diakui FIFA. Ini juga bukan fenomena eksklusif Indonesia. Maroko, Aljazair, Curacao, sampai negara tetangga juga ngelakuin hal yang sama, memanfaatkan pemain diaspora dan keturunan buat nguatin timnas mereka. Dalam sepak bola modern, ini udah jadi hal lumrah. Jadi kenapa kita harus ributkan?
Lagian, banyak orang lupa kalau mayoritas pemain naturalisasi kita bukan orang asing yang tiba-tiba dateng tanpa ikatan apa-apa. Banyak dari mereka yang masih punya garis keturunan dari sini, entah itu dari orang tua, kakek, atau nenek. Memang sih, mereka lahir dan besar di luar negeri, dulunya WNA. Tapi buat gue, itu bukan urusan utama. Yang lebih penting tuh setelah mereka resmi jadi WNI, gimana komitmen mereka bela Indonesia, dan gimana kontribusi mereka di lapangan.
Nah, balik lagi ke soal pembibitan pemain lokal. Ini sih bagian yang paling gue maklum dari kritik Rocky. Kalau ada yang takut pemain muda kehilangan panggung gara-gara kebanjiran pemain naturalisasi, itu masih masuk akal dan layak didiskusikan.
Tapi coba liat kondisi sekarang. Pembinaan usia muda juga nggak berhenti. Liga 1 tetep jalan, kompetisi kelompok umur masih ada, akademi-akademi klub juga terus beroperasi. Menurut gue, naturalisasi dan pembinaan pemain muda itu bukan dua hal yang harus saling berbenturan. Keduanya bisa berjalan bareng, asal dikelola dengan benar. Nggak harus pilih salah satu.
Yang bikin gue penasaran justru soal timingnya. Kenapa baru sekarang rame banget?
Program naturalisasi di Indonesia bukan barang baru. Jauh sebelum era Erick Thohir, kita udah melakukannya. Kadang gue bertanya-tanya, apakah yang dikritik itu bener-bener soal naturalisasinya, atau justru segala hal yang dianggap ikut menguntungkan citra pemerintah di tengah euforia timnas. Karena kalau persoalannya ada di naturalisasi, program ini udah berjalan lama, bahkan jauh sebelum prestasi timnas seperti sekarang.
Tapi lho, kenapa perdebatan sebesar ini baru muncul sekarang? Justru pas timnas lagi menunjukkan perkembangan yang paling positif dalam sejarah mereka. Kita bisa nahan Arab Saudi, nyuri poin dari Australia, lolos ke putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia, dan mulai bersaing lebih setara dengan negara-negara yang dulu terasa jauh di atas kita.
Makanya gue paham banget kenapa banyak suporter bereaksi keras ke Rocky. Buat mereka, ucapan kayak gitu nggak terasa sebagai kritik kebijakan. Yang terasa justru kayak kritik terhadap rasa senang yang lagi mereka nikmati. Lagi asik-asiknya euforia, eh tiba-tiba dibilang "tertipu sensasi". Ya jelas dong orang-orang panas.
Dan mungkin di situ Rocky kurang membaca suasana.
Mungkin di situ Rocky kurang baca suasana. Dia terbiasa melihat segala sesuatu dari kacamata politik. Sementara sepak bola sering bergerak dengan logika yang beda. Orang-orang yang rela begadang demi nonton timnas, yang emosional pas Indonesia lolos ke Piala Asia, mereka belum tentu lagi mikirin perdebatan filosofis soal identitas nasional. Mereka cuma pengen lihat tim kebanggaan mereka bisa bersaing dan ngehasilin hasil.
Bukan berarti kritik harus dihentikan. Justru sepak bola yang sehat butuh kritik. PSSI, Erick Thohir, pelatih, pemain, semuanya tetap harus dievaluasi. Tapi ketika kritik dibangun di atas premis yang menurut gue kurang akurat, dan disampaikan di saat publik lagi happy-happy nya, wajar banget kalau pesannya susah diterima.

Social Plugin