Ticker

6/recent/ticker-posts

Dari Pesimis ke Juara: Drama Indonesia di Final ASEAN Cup 2026



Malam itu di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, rasanya bener-bener kayak mimpi. Final FIFA ASEAN Cup 2026 antara Indonesia dan Thailand bukan lagi pertandingan sepak bola, tapi roller coaster emosi! Buat yang nobar di alun-alun atau di rumah, euforianya berasa sampai ke tulang. Apalagi setelah tahu Indonesia akhirnya juara.

Turnamen ini sendiri istimewa. Ini edisi perdana FIFA ASEAN Cup, sebuah kompetisi resmi Asean di bawah naungan FIFA. Indonesia melaju ke final setelah menjuarai Grup A dengan kemenangan telak 9-2 atas Bangladesh di laga terakhir, sementara Thailand datang sebagai juara Grup B. Stadion dipenuhi penonton. 

Jalannya pertandingan sungguh di luar dugaan. Indonesia sebenarnya memulai dengan cukup menjanjikan. Dua puluh menit pertama, tim asuhan John Herdman itu tampil menekan. Setidaknya ada tiga peluang emas yang tercipta, salah satunya lewat tembakan Luke Vickery yang masih bisa diblok kiper Thailand, Saranon Anuin, lalu tendangan Verdonk yang menyamping tipis. Tapi setelah itu, ritme permainan Indonesia justru menghilang. Bola-bola sederhana sering lepas, umpan-umpan pendek gagal, dan Thailand dengan sabar menunggu momen untuk melakukan serangan balik cepat. Berulang kali Indonesia memberikan bola gratis di lini tengah, dan itu hampir saja dimanfaatkan lawan.

Babak kedua berjalan lebih alot. Thailand mulai keluar menyerang, sementara Indonesia terlihat lebih bertahan dan mengandalkan serangan balik. Titik balik terjadi di menit ke-81. Nicholas Mickelson, bek Thailand, mendapat kartu kuning kedua setelah melanggar Ole Romeny di dekat kotak penalti. Pelanggaran itu sekaligus menghasilkan tendangan bebas untuk Garuda. Dean James maju sebagai eksekutor. Bola melengkung keras ke arah gawang, deflect dari pemain pengganti Thailand, Iklas Sanron, dan berubah arah. Indonesia unggul 1-0 di menit ke-84 .

Sayangnya, euforia itu tidak bertahan lama. Indonesia seperti terlalu terlena dengan keunggulan gol dan jumlah pemain. Hanya tiga menit berselang, Thailand menyamakan kedudukan. Umpan silang dalam dari Seksan Ratree disambut Iklas Sanron dengan tendangan voli di tiang jauh. Emil Audero tak mampu menjangkau . Skor 1-1 bertahan hingga peluit panjang babak kedua, dan pertandingan pun lanjut ke babak tambahan.

Di babak extra time pertama, tidak ada gol tercipta. Indonesia bermain lebih hati-hati meski unggul jumlah pemain. Ada beberapa peluang, tapi kiper Thailand masih mampu mengantisipasi. Babak tambahan kedua justru jadi mimpi buruk. Thailand berbalik unggul di menit ke-111. Anan Yodsangwal merebut bola dari Elkan Baggott dan melepaskan umpan ke Peeradol Chamrasamee, yang dengan tenang melewati Emil Audero . Skor menjadi 1-2. Situasi terasa benar-benar sulit diterima, apalagi waktu hanya tersisa sekitar sepuluh menit lagi.

Saat semua sudah pasrah dan pesimis, harapan datang dari kombinasi Egy Maulana Vikri dan Rizky Ridho. Egy melepaskan umpan kunci ke Ridho, yang kemudian mengirim bola mendatar ke kotak penalti. Elkan Baggott menyambar bola itu. Tendangannya sempat membentur mistar dalam, tapi bola akhirnya masuk ke gawang . Gol di menit ke-116. Skor kembali imbang 2-2. Stadion meledak. Masih ada sekitar lima menit buat Indonesia membalikkan keadaan, tapi tidak ada gol tambahan. Pertandingan harus diselesaikan lewat adu penalti.

Adu penalti adalah perjudian besar, situasi yang tidak lagi memandang jumlah pemain. Indonesia menurunkan algojo yang tenang. Kevin Diks maju pertama. Bola meluncur datar ke kiri, meskipun kiper lawan tepat menebak arah, bola tetap masuk . Dean James menyusul, menendang bola tinggi ke kanan, gol . Elkan Baggott menendang mendatar ke kiri, sempat ditepis arahnya oleh Saranon, tapi bola tetap tak terbendung. Thailand kemudian gagal. Kapten mereka, Sarach Yooyen, menendang dan bola membentur tiang, padahal Emil Audero sudah melompat ke arah berlawanan . Shayne Pattynama menendang dengan dingin, meluncur ke gawang. Thailand kembali gagal di penendang keempat. Emil Audero membaca arah tembakan dengan sempurna dan menepisnya . Penalti selesai 4-2. Indonesia resmi keluar sebagai juara.

Malam itu, Stadion Gelora Bung Karno bukan cuma jadi saksi kemenangan, tapi juga saksi bagaimana sebuah tim bisa jatuh, bangkit, dan akhirnya menang dengan cara yang paling dramatis. Gelar ini bukan sekadar trofi. Ini penantian panjang 35th yang akhirnya terbayar. The Indonesian national team's first trophy ever!

© 2025 by Agi Dione | All rights reserved.